BACAAJA, SEMARANG– Beda agama, beda cara beribadah, beda tradisi. Tapi kalau urusan hidup bertetangga, membantu sesama, dan menjaga lingkungan, masa harus beda barisan?
Pesan itulah yang disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti saat mengajak warga menjadikan toleransi sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar kata manis di baliho atau materi seminar.
Pesan tersebut mengemuka dalam Tirakatan Lintas Agama untuk memperingati HUT Kevikepan Semarang ke-60 di Gereja Katolik St. Mikael Semarang, Rabu (21/10/2026) malam.
Mengusung tema “Srawung, Merawat Persaudaraan dan Kerukunan Umat Beragama”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan berbagai keyakinan untuk saling mendengar, berbagi pengalaman, dan merawat persaudaraan.
Acara tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian menyambut HUT Paroki St. Mikael ke-12 pada Januari 2027. Perwakilan pemerintah, tokoh agama, penghayat kepercayaan, umat paroki, dan organisasi kemasyarakatan hadir dalam suasana kebersamaan.
Baca juga: Semarang Jaga Toleransi hingga Tempat Peristirahatan Terakhir
Bagi Agustina, srawung bukan istilah yang harus terdengar keren agar bermakna. Intinya sederhana: mau membuka diri, mengenal orang lain, dan membangun kepercayaan meski tidak memiliki keyakinan yang sama.
“Semarang tumbuh dari perjumpaan berbagai budaya, agama, dan komunitas yang hidup berdampingan. Tradisi ini terus terawat hingga mengantarkan Semarang meraih peringkat ketiga kota paling toleran di Indonesia menurut Setara Institute,” ungkapnya.
Namun, capaian tersebut bukan alasan untuk merasa pekerjaan sudah selesai. Menurut Agustina, predikat kota toleran justru membawa tanggung jawab agar setiap warga benar-benar bisa menjalankan keyakinan, beraktivitas, dan hidup dengan aman serta bermartabat.
Ia mencontohkan kebersamaan ribuan warga lintas agama yang menyanyikan Gema Mars MTQ Nasional XXXI di Lapangan Simpang Lima hingga mengantarkan Semarang mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Suasana serupa terlihat dalam Mooncake Festival 2026 di Kelenteng Tay Kak Sie. Penari berhijab membawakan Tari Kipas Batik Semarang, kemudian masyarakat berbaur dalam jamuan Tok Panjang. Perbedaan tradisi justru menjadi alasan untuk saling mengenal, bukan saling menjauh.
Dirasakan Warga
Buat Agustina, kerukunan juga tak boleh berhenti pada panggung budaya. Pemerintah harus menerjemahkannya menjadi pelayanan yang bisa dirasakan warga.
Salah satunya melalui peresmian TPU Pancasila di Gunungpati pada 20 September 2026. Tempat pemakaman tersebut melayani masyarakat lintas agama dan penghayat kepercayaan dengan menghormati tata cara pemakaman masing-masing.
Pemkot Semarang juga memfasilitasi perjalanan keagamaan bagi 215 warga pada 20 Oktober 2026. Rinciannya, 155 peserta umrah, 50 umat Nasrani, lima umat Hindu, dan lima umat Buddha.
“Dari kebudayaan, pelayanan publik, hingga pendidikan, kita terus merawat Semarang sebagai rumah bersama yang menghormati martabat setiap warga,” ujarnya.
Upaya menanamkan toleransi sejak dini turut dilakukan melalui program Sekolah Laboratorium Pancasila. Nilai kebangsaan didorong hadir dalam keseharian siswa melalui keteladanan, gotong royong, kepedulian, dan sikap menghormati perbedaan.
Sebab, anak-anak tidak cukup hanya hafal sila-sila Pancasila. Mereka juga perlu melihat contoh nyata bagaimana orang dewasa memperlakukan tetangga yang berbeda keyakinan, membantu orang yang kesulitan, dan menyelesaikan perbedaan tanpa permusuhan.
Tirakatan lintas agama ini dikemas melalui obrolan santai yang menghadirkan delapan pengisi sesi dari berbagai latar belakang. Mereka adalah Romo Yohanes Febbry Bagas Pamungkas, MSF dari umat Katolik, dr I Komang Dipta Jananuraga (Hindu), Pdt Aryanto Nugroho (Kristen Protestan).
Lalu ada Bhikkhu Ditthisampano Mahatera (Buddha), Ws Andi Gunawan (Konghucu), Pipit (Penghayat Kepercayaan), Sri Puji (Islam) serta Haryanto Halim dari unsur kemanusiaan.
Baca juga: Pawai MTQ Tampilkan Toleransi, Semarang Tegaskan Rumah bagi Semua
Kegiatan dilanjutkan dengan peneguhan oleh Romo Eduardus Didik Cahyono SJ, perwakilan Kevikepan Semarang bidang Hubungan Antaragama dan Kepercayaan, serta doa bersama lintas agama.
Agustina berharap semangat srawung tidak ikut bubar setelah acara selesai. Warga perlu membawa kebiasaan saling menghormati ke lingkungan masing-masing, mulai dari komunikasi antar tetangga hingga kerja sama membantu masyarakat yang membutuhkan.
Ia juga berharap Kevikepan Semarang terus berkontribusi merawat persaudaraan dan memperluas pelayanan bagi masyarakat seiring perjalanan 60 tahunnya.
Pada akhirnya, toleransi tak selalu membutuhkan acara besar, panggung megah, atau doa bersama. Kadang ukurannya justru sesederhana tidak mengganggu tetangga yang sedang beribadah, tidak mempersoalkan perbedaan, dan mau membantu tanpa lebih dulu bertanya apa agamanya.
Sebab, kalau toleransi cuma ramai saat seremoni, sementara kehidupan sehari-hari masih penuh curiga, yang rukun mungkin acaranya, belum tentu warganya. Semarang tak cukup hanya dikenal sebagai kota toleran; warganya juga harus membuat toleransi terasa nyata. (tebe)

