BACAAJA, SEMARANG- Sebanyak 611 pembalap dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum turun lintasan dalam Semarang Drag Fest 2026 di Sirkuit Mijen, Minggu (9/8/2026).
Ajang otomotif tersebut digelar sebagai upaya pemerintah mengarahkan energi dan kreativitas anak muda ke aktivitas yang lebih aman, legal, sekaligus tetap seru.
Balap liar yang kerap muncul pada malam hari di sejumlah ruas jalan dinilai bukan cuma mengganggu pengguna jalan, tetapi juga berisiko memicu kecelakaan. Karena itu, Sirkuit Mijen disiapkan sebagai ruang alternatif untuk mereka yang memang punya hobi dan bakat di dunia adu kecepatan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Semarang, Didik Dwi Hartono mengatakan, pemerintah ingin merangkul anak muda melalui kegiatan yang positif.
Baca juga: Gaspol di Sirkuit, Cuan Jalan-Jalan Ikut Ngebut
“Kami merancang ajang ini khusus untuk mewadahi para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Kota Semarang. Harapannya, tidak ada lagi balap liar di jalanan umum,” ujar Didik di sela kegiatan.
Menurutnya, bakat dan hobi otomotif tetap bisa disalurkan tanpa harus mempertaruhkan keselamatan diri maupun pengguna jalan lain. “Kami alihkan dan salurkan bakat positif mereka secara resmi di tempat yang tepat, yaitu Sirkuit Mijen,” katanya.
Semarang Drag Fest 2026 sendiri mempertandingkan 14 kelas. Peserta datang dengan berbagai jenis motor dan kategori, termasuk kelas khusus pelajar. Hasil perlombaan mencatat sejumlah nama sebagai jawara di masing-masing kelas.
Untuk Bracket 9 Detik, Dika dari Lembu Racing menjadi pemenang dengan catatan waktu 9,004 detik. Bracket 9,5 Detik dimenangi Agus dari 18 Berkah Sayur dengan waktu 9,503 detik.
Sementara itu, Davd Kepk dari Team Lawak menjadi yang tercepat di Bracket 10 Detik dengan 10,022 detik. Fani Cuplis dari 107 BYL menang di Bracket 10,5 Detik dengan catatan 10,533 detik.
Di Bracket 11 Detik, Kevin dari 59 Tech FT W/Mar Project mencatat 11,002 detik. Sedangkan Dino Bocl FF dari Berkah Jagung X 107 Racing menjadi pemenang Bracket 11,5 Detik dengan waktu 11,517 detik.
Kelas Matic
Pada kelas motor matic, Fadli dari Akaboncu menjuarai Matic Sunmory 155 CC dengan 8,600 detik. Abimanyu dari Jati Putra EMR Jogja menjadi yang tercepat di Matic Sunmory 200 CC dengan 7,935 detik.
Kelas Ninja 2T 150 CC dimenangi Mr Pletek dari KW3 FT Galikubur Indosiar dengan 7,858 detik. Sementara kelas Matic STD Dealer 160 CC dimenangi Gus Arya dari Lowo Racing dengan 11,485 detik. Kelas Matic STD Dealer 110 CC menjadi milik Aky dari Pura Pura Racing dengan waktu 9,523 detik.
Di kelas FIZR Sunmory 125 CC, Farelino dari 107 Racing mencatat 9,727 detik. Dua kelas khusus pelajar juga tak kalah menarik. Matic 150 CC Khusus Pelajar dimenangi M Jefry dari Java Furniture Jepara dengan 10,241 detik. Sedangkan Sport 160 CC Khusus Pelajar menjadi milik Arya Mahendra dari AM57 dengan waktu 8,761 detik.
Semarang Drag Fest ternyata tidak hanya soal mesin, ban, dan siapa yang paling cepat sampai garis finis. Pemkot juga menggandeng pelaku UMKM di kawasan Mijen untuk membuka puluhan stan kuliner dan suvenir di sekitar sirkuit.
Baca juga: Gaspol di Sirkuit, Cuan Jalan-Jalan Ikut Ngebut
Kehadiran stan-stan tersebut membuat event otomotif ini sekaligus menjadi hiburan akhir pekan bagi masyarakat. Penonton bisa menikmati balapan sambil jajan, sementara pelaku UMKM mendapat kesempatan mengais omzet dari ramainya pengunjung.
Dengan begitu, geliat ekonomi lokal ikut terdorong. Bukan hanya knalpot yang berbunyi, transaksi di lapak warga pun diharapkan ikut ramai. Pemkot juga tidak ingin Sirkuit Mijen hanya ramai ketika ada event tertentu. Perawatan dan pembenahan lintasan terus dilakukan agar kualitas sirkuit semakin baik.
Ke depan, Sirkuit Mijen ditargetkan bisa menjadi lokasi berbagai kejuaraan otomotif secara rutin, bahkan menembus level nasional hingga internasional. Harapannya, keberadaan sirkuit bisa menjadi solusi jangka panjang bagi fenomena balap liar sekaligus membuka ruang prestasi bagi talenta-talenta otomotif muda Semarang.
Sebab, kalau memang hobi ngebut, tempatnya sudah disediakan. Jadi jangan lagi menjadikan jalan raya sebagai sirkuit dadakan, apalagi trotoar sebagai paddock. Di Mijen, gas boleh pol, tapi tetap ada garis finis dan aturan yang harus dihormati. (tebe)

