Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Semarang Bakal Punya Festival Sastra Besar, Agustina Ingin Puisi Turun ke Jalan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Semarang Bakal Punya Festival Sastra Besar, Agustina Ingin Puisi Turun ke Jalan

T. Budianto
Last updated: November 5, 2026 7:50 pm
By T. Budianto
5 Min Read
Share
BERSAMA SASTRAWAN: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti didampingi Ketua FPDIP DPRD Kota Semarang, Rahmulyo Adi Wibowo bersama para sastrawan dan seniman, termasuk Timur Sinar Suprabana berbincang seusai kegiatan Semarang Berpuisi di Balai Kota Semarang, Kamis (5/11/2026). (Foto: Pemkot Semarang)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Kalau selama ini Kota Lama dan Lawang Sewu identik dengan wisata sejarah dan spot foto, tahun depan dua kawasan ikonik Semarang itu berpeluang punya peran baru: menjadi panggung bagi para penyair, penulis, dan pecinta sastra.

Bukan sekadar membaca puisi di balik gedung, tetapi membawa kata-kata lebih dekat ke kehidupan warga. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti tengah menyiapkan gelaran Writers and Readers Festival 2027.

Festival sastra berskala besar ini dirancang berlangsung selama beberapa hari dengan melibatkan penulis dan pembaca dari Semarang maupun berbagai daerah.

Rencana tersebut disampaikan Agustina saat menghadiri kegiatan Semarang Berpuisi bertema “Dari Kata Menjadi Karya” di Hall Balai Kota Semarang, Kamis (5/11/2026). Acara ini mempertemukan penyair, seniman, pegiat literasi, hingga generasi muda dalam satu ruang apresiasi.

Baca juga: Semarang Buka Jalan ke Panggung Dunia

Sebelum memberikan sambutan, Agustina terlihat asyik berbincang dengan sejumlah penyair, di antaranya Timur Sinar Suprabana, Budi Maryono, dan Triyanto Triwikromo. Suasana makin cair ketika mereka berfoto bersama dengan pose mengangkat tiga jari tengah ke atas.

Di hadapan komunitas sastra, Agustina membocorkan konsep festival yang ingin menjadikan ruang-ruang publik sebagai tempat perjumpaan para penulis dan pembaca. Beberapa lokasi yang masuk bayangannya antara lain pusat buku bekas di kawasan Stadion, Kota Lama, Lawang Sewu, hingga ruang publik lainnya.

“Kita akan membuat di Kota Lama, kita akan membuat di Lawang Sewu. Mungkin seru-seruan kita membuat di bundaran. Itu akan menjadi sebuah pertemuan yang bagus,” ungkapnya.

Bagi Agustina, sastra tak harus selalu berurusan dengan gedung pertunjukan, panggung megah, atau dekorasi mahal. Justru, ketika puisi dan karya sastra hadir di ruang yang biasa dilewati masyarakat, peluang orang untuk mengenal dan menikmatinya semakin terbuka.

Pemkot Semarang pun mendorong Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta OPD lainnya. Harapannya, festival ini tak berhenti sebagai agenda seni, tetapi ikut menghidupkan pariwisata, menggerakkan UMKM, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Regenerasi Sastrawan

Di balik rencana festival, ada persoalan lain yang ingin disentuh Agustina: regenerasi sastrawan. Ia mengkhawatirkan semakin sedikit ruang bagi para penyair senior untuk berbagi pengalaman dan menularkan pengetahuan kepada generasi muda.

Menurutnya, menjadi penulis atau penyair bukan perkara mengikuti pendidikan formal lalu mendadak mahir merangkai kata. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari membaca karya, memahami pemikiran pendahulu, menyaksikan pertunjukan, hingga terlibat langsung dalam kegiatan sastra.

Karena itu, panggung bagi generasi muda perlu terus dibuka. Mereka harus punya kesempatan bertemu, belajar, dan berdiskusi langsung dengan para sastrawan yang lebih dulu berkarya.

Agustina juga mengingatkan bahwa puisi bukan sekadar permainan kata-kata indah. Sastra bisa menjadi medium menyampaikan aspirasi, membaca realitas, membangun empati, hingga mengkritik keadaan sosial.

Ia menyinggung panggung-panggung puisi pada era 1995-1996 yang pernah menjadi ruang ekspresi masyarakat untuk menyuarakan kritik dan aspirasi terhadap kekuasaan. “Puisi bisa berfungsi sebagai upaya untuk menyuarakan aspirasi, merefleksikan kehidupan dan menumbuhkan kesadaran sosial,” tuturnya.

Baca juga: Sastra Indonesia Bisa Mendunia? Semitra X UPGRIS Ungkap Strateginya

Agustina juga ingin ekosistem seni dan sastra Semarang semakin inklusif. Keterlibatan penyandang disabilitas dalam Semarang Berpuisi menjadi salah satu hal yang mendapat apresiasi.

Ia berharap program Rumah Inspirasi yang mulai disosialisasikan di tingkat kecamatan tidak hanya berkutat pada akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan perumahan. Ruang untuk mengembangkan bakat seni dan kreativitas warga, termasuk penyandang disabilitas, juga perlu mendapat perhatian.

Melalui Writers and Readers Festival 2027, Semarang ingin tampil bukan hanya sebagai kota wisata dengan bangunan bersejarah, tetapi juga ruang tumbuhnya gagasan, imajinasi, dan kritik sosial.

Kota Lama dan Lawang Sewu boleh punya bangunan megah, tetapi kota juga butuh kehidupan intelektual yang hidup. Sebab, jangan sampai ruang publik hanya ramai oleh wisatawan yang sibuk berfoto, sementara gagasan dan karya warganya justru tak punya panggung. Jangan sampai puisinya cuma jadi hiasan acara, sementara kritiknya malah disuruh diam. (tebe)

You Might Also Like

Ancaman Kekeringan Mengintai, JK Kerahkan PMI Genjot Distribusi Air Bersih

Netflix Pangkas 1.000 Pegawai, Strategi Bisnis Berubah

Bukan Cuma Lomba, Peserta Kaligrafi MTQ Dibikin Betah di Semarang

Respati Ajak Anak Disabilitas Liburan ke Solo Safari: Bukan Cuma Fun, tapi Inklusif

Tertidur Tenang Tapi Tak Bangun, Ini Risiko Medis yang Sebenarnya Tersembunyi

TAGGED:agustina wilujengheadlinepemkot semarangsastra semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Modal Rp3 Juta, Film Siswa Pandanarum Go Internasional
Next Article Dari SBY hingga Macron, Deretan Pemimpin Dunia yang Pernah Disadap

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Meriah, Lomba Senam Lansia se-Kecamatan Banyumanik, Agustina: Semua Jadi Juara

Bimtek Aswakada, Iswar Bawa Misi Borong Ide untuk Semarang

Bayar Pajak Kendaraan di Jateng Bisa Dapat Cashback Rp50.000, Begini Caranya

PROGRES PENGERJAAN - Progres pembangunan proyek infrastruktur Tol Semarang-Demak Seksi I mencapai 79,42 persen pada 22 Oktober 2026. (ist)

WNI Susah Cari Kerja, Proyek Tol Semarang-Demak Malah Digarap TKA Ilegal dari Tiongkok

Klaim Fiktif Rp 22 Miliar, BPJS Buka-bukaan soal RS Padma Lalita

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

270 Orang Terdampak MBG, Guru Diminta Cek Menu Mengendus Makanan

Oktober 22, 2026
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bappeda Jateng) Yusmanto.
Info

Tanah Warga Terancam Tenggelam, Jateng Bangun Tanggul 900 Meter di Sayung

Oktober 5, 2026
ANTISIPASI VIRUS--Selebaran berisi edukasi pencegahan Hantavirus yang dibuat Polda Jateng. (ist)
Info

Hantavirus Lagi Rame, Semarang Masih Aman tapi . . . .

Mei 12, 2026
Info

Bayi Alena Meninggal di Usia 28 Hari: Sempat Kritis, Diduga Diberi Telur Mentah Sang Nenek

Oktober 12, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Semarang Bakal Punya Festival Sastra Besar, Agustina Ingin Puisi Turun ke Jalan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?