Imbauan ini muncul setelah jumlah warga yang terdampak mencapai 270 orang, terdiri dari 231 anak-anak dan 39 orang dewasa. Di tengah penanganan para korban, sekolah diminta lebih waspada terhadap makanan yang terlihat atau tercium tidak normal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon, Handi Sogiyanto, mengingatkan guru agar tidak memaksakan pembagian makanan jika menemukan tanda mencurigakan. Aroma asam atau rasa yang tidak biasa pada sayur dan telur, misalnya, perlu menjadi alasan untuk menghentikan konsumsi sementara.
“Kalau misalkan memang ada sayur atau telur rada asam atau ini ya kalau bisa tidak dikonsumsi. Jangan sampai nanti menimbulkan berdampak seperti ini, gejala-gejala keracunan,” kata Handi, dikutip dari Tribun Jabar, Kamis (22/10/2026).
Guru Diminta Siaga, Kondisi Siswa Dipantau
Handi menegaskan, pengawasan tidak berhenti pada pemeriksaan makanan sebelum dibagikan. Sekolah juga diminta terus memantau kondisi siswa yang diduga terdampak, baik yang masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan maupun yang berada di rumah.
Kepala sekolah dan guru diminta bersiaga untuk memastikan seluruh siswa yang mengalami gejala terdata dan mendapat penanganan. Komunikasi antara Disdik dan pihak sekolah pun terus dilakukan hingga malam hari.
“Saya perintahkan kemarin juga untuk standby. Yang ada anak kena keracunan semuanya standby, Pak, guru-gurunya standby. Saya mewajibkan selalu sekolah itu selalu monitor terus terutama siswa-siswanya,” jelas Handi.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar perubahan kondisi kesehatan siswa bisa segera diketahui. Terlebih, kasus ini melibatkan banyak anak sehingga membutuhkan pengawasan dan koordinasi yang serius.
Meski demikian, pemeriksaan aroma dan kondisi fisik makanan bukan pengganti pengujian keamanan pangan. Makanan yang terlihat dan tercium normal pun belum tentu bebas dari kontaminasi, sehingga pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian.
Total Korban Tembus 270 Orang
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listyawaty, menyampaikan jumlah warga terdampak dugaan keracunan MBG mencapai 270 orang. Rinciannya, 231 anak-anak dan 39 orang dewasa.
Laporan awal diterima Dinkes pada Selasa (20/10/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Setelah itu, pasien terus berdatangan ke instalasi gawat darurat (IGD) RS Siloam Putra Bahagia hingga kapasitas layanan mendapat tekanan.
“Pasien terus bertambah di RS Siloam Putra Bahagia, hingga sore hari mencapai 42 orang. Itu data kemarin sore ya,” kata Maria, dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Rabu (21/10/2026).
Karena jumlah pasien meningkat, Pemerintah Kota Cirebon mengalihkan sebagian pasien ke sejumlah rumah sakit rujukan lain. Langkah ini dilakukan agar korban bisa memperoleh penanganan medis tanpa menumpuk di satu fasilitas kesehatan.
Sup Telur Puyuh Jadi Sorotan
Salah satu menu yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut adalah sup telur puyuh yang dikonsumsi siswa dan anak-anak pada hari itu. Namun, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Sebagai tindak lanjut, Badan Gizi Nasional (BGN) membekukan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga Lima sejak Selasa malam. Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Kota Cirebon, Yulian Septa Pratama, menyebut penghentian sementara tersebut dilakukan untuk mempermudah proses investigasi.
Pemerintah juga memastikan biaya perawatan dan pengobatan korban akan ditanggung hingga mereka pulih.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program MBG tidak cukup hanya memastikan makanan sampai ke sekolah. Keamanan bahan pangan, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi perlu diawasi secara ketat agar program pemenuhan gizi tidak justru menimbulkan risiko bagi anak-anak. (*)

