BACAAJA, BANJARNEGARA – Siapa sangka, cerita tentang seorang anak yang berjualan gula di lingkungan sekolah bisa berkembang menjadi film yang mencuri perhatian hingga festival internasional. Itulah perjalanan Gendis Arum, karya sinematografi siswa SMP Negeri 1 Pandanarum, Banjarnegara, yang berhasil mengubah kisah sederhana menjadi prestasi membanggakan.
Lebih menarik lagi, film produksi Arum Film tersebut dibuat dengan modal kurang dari Rp3 juta. Meski digarap menggunakan fasilitas dan anggaran terbatas, karya para siswa bersama guru ini sukses menyabet Juara 1 Banjarnegara Movie Festival 2026 dan mendapat kesempatan tampil dalam festival film internasional.
Prestasi itu tentu bukan perkara kecil. Gendis Arum harus bersaing dengan 44 sekolah tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Banjarnegara. Di tengah banyaknya karya yang masuk, film garapan SMPN 1 Pandanarum justru berhasil memikat dewan juri dan keluar sebagai pemenang utama.
Film tersebut lahir dari kreativitas Arum Film, rumah produksi yang dikembangkan di lingkungan SMPN 1 Pandanarum dengan bimbingan Kabul Setiawan, S.Pd. Ceritanya mengambil inspirasi dari kehidupan nyata seorang siswa yang memiliki kebiasaan berjualan gula di sekolah.
Pengalaman sederhana itu kemudian diolah menjadi cerita fiksi yang lebih luas. Gendis Arum mengangkat persoalan keluarga, pendidikan, cita-cita, serta perjuangan seorang anak dalam menentukan masa depannya.
Lewat kisah tersebut, para pembuat film ingin menyampaikan pesan bahwa keterbatasan ekonomi dan keadaan keluarga bukan alasan untuk mengubur impian. Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari justru menjadi kekuatan utama film ini.
Dari Festival Kabupaten hingga Panggung Internasional
Kemenangan di Banjarnegara Movie Festival ternyata bukan menjadi garis akhir perjalanan Gendis Arum. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Banjarnegara turut memberikan apresiasi atas kreativitas para siswa tersebut.
Sebagai bentuk penghargaan, film ini mendapat kesempatan menjalani pemutaran perdana dalam acara Ekraf Day 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Alun-Alun Banjarnegara pada 31 Oktober 2026 dan disaksikan masyarakat yang hadir.
Pencapaian berikutnya bahkan membawa nama SMPN 1 Pandanarum ke panggung yang lebih luas. Gendis Arum berhasil masuk dalam jajaran film pendek yang ditampilkan pada festival film internasional 2026.
Dalam ajang tersebut, karya siswa Banjarnegara ini menjadi salah satu perwakilan film pendek Indonesia yang hadir bersama karya dari sejumlah negara, termasuk Jepang.
Tak berhenti sampai di situ, Gendis Arum juga dijadwalkan tayang di Rajawali Cinema Purwokerto pada 6 November 2026. Pemutaran di bioskop menjadi pengalaman istimewa bagi para siswa yang sebelumnya mungkin hanya mengenal proses pembuatan film dari kegiatan sekolah.
Sutradaranya Siswi Kelas IX
Di balik layar, ada Azzahra Syahnina Putri, siswi kelas IX SMPN 1 Pandanarum yang dipercaya menjadi sutradara. Dengan pendampingan Kabul Setiawan, S.Pd., Azzahra mengarahkan para pemain dan kru untuk menerjemahkan cerita menjadi sebuah karya audiovisual.
Hal menarik lainnya, sebagian besar pemain berasal dari lingkungan sekolah sendiri. Azzahra Syahnina Putri memerankan karakter Gendis, Rianto menjadi ayah Gendis, sedangkan Adam Suseno mengambil peran sebagai teman Gendis.
Sejumlah guru juga ikut terlibat dalam proses produksi. Mereka tampil sebagai pemeran ibu-ibu tetangga dalam cerita, sehingga suasana produksi terasa seperti kerja bersama seluruh warga sekolah.
Keterlibatan siswa dan guru ini membuat Gendis Arum bukan sekadar proyek pembuatan film. Prosesnya menjadi ruang belajar bersama, mulai dari menyusun cerita, mengatur adegan, mengarahkan pemain hingga menyelesaikan produksi.
Modal di Bawah Rp3 Juta, Hasilnya Bikin Bangga
Ada satu hal yang membuat perjalanan Gendis Arum semakin menarik, yakni biaya produksinya yang sangat minim. Film ini hanya menghabiskan anggaran kurang dari Rp3 juta.
Dana tersebut terutama digunakan untuk menyewa peralatan syuting dan memenuhi kebutuhan konsumsi selama proses produksi. Artinya, para siswa dan guru harus memutar otak agar seluruh proses pembuatan film tetap berjalan dengan fasilitas seadanya.
Jika dibandingkan dengan produksi film yang memiliki dukungan anggaran besar, tentu ada banyak keterbatasan yang harus dihadapi. Namun, kondisi tersebut tidak membuat tim Arum Film kehilangan semangat untuk menghasilkan karya berkualitas.
Justru keterbatasan itu menjadi pemicu lahirnya kreativitas dan kekompakan. Para siswa dituntut bekerja sama, berbagi tanggung jawab, disiplin menjalankan tugas, sekaligus belajar mengambil keputusan selama proses produksi.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang tidak selalu bisa diperoleh dari pembelajaran di dalam kelas. Mereka bisa mengenal langsung dunia perfilman sekaligus mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja tim, dan keberanian menuangkan gagasan.
Sekolah Desa Juga Bisa Punya Karya Besar
Keberhasilan Gendis Arum menjadi bukti bahwa kreativitas pelajar tidak ditentukan oleh besar kecilnya fasilitas sekolah. Dengan ide cerita yang kuat, pendampingan guru, dan kemauan untuk belajar, siswa dari wilayah perdesaan pun bisa menghasilkan karya yang mendapat pengakuan lebih luas.
Bagi SMPN 1 Pandanarum, pencapaian ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi, film tersebut berangkat dari cerita sederhana yang tumbuh dari lingkungan sekitar, kemudian berkembang menjadi karya yang mampu bersaing di berbagai ajang.
Lebih dari sekadar piala dan kesempatan tampil di festival internasional, Gendis Arum membawa pesan bahwa setiap kehidupan memiliki cerita yang layak diangkat. Kisah anak penjual gula di sekolah menjadi pengingat bahwa mimpi besar tidak harus berawal dari tempat yang serba berkecukupan.
Kini, karya siswa SMPN 1 Pandanarum itu membuktikan bahwa sekolah di pelosok Banjarnegara juga mampu melahirkan kreativitas yang menembus batas. Modalnya memang tak sampai Rp3 juta, tetapi semangat dan cerita yang dibawanya berhasil melangkah jauh hingga panggung perfilman internasional. (*)

