BACAAJA, SEMARANG- Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menjalani agenda yang cukup unik, Selasa (25/8/2026). Dalam sehari, ia mengunjungi tiga rumah ibadah dari komunitas Katolik, Kristen, dan Islam.
Perjalanannya dimulai dari Gereja St Theresia Paroki Bongsari, berlanjut ke GKJ Semarang Timur, lalu ditutup dengan Pengajian Akbar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Semarang atau Kauman.
Di setiap tempat, benang merah yang dibawa Agustina sama: kerukunan dan harmoni bukan sekadar slogan yang enak dipasang di baliho, tapi harus benar-benar hidup dalam keseharian warga.
Kunjungan pertama dilakukan di Gereja St. Theresia Paroki Bongsari dalam acara Funwalk memperingati HUT ke-58 paroki. Agustina mengapresiasi kebersamaan warga yang selama ini saling mendukung, termasuk saat perayaan keagamaan berlangsung.
“Hari ini ada kegiatan Katolik, Kristen, kemudian nanti peringatan Maulid Nabi di Kauman. Inilah indahnya Kota Semarang, sebuah kebersamaan yang memberikan keberkahan dan kedamaian luar biasa,” ujarnya.
Baca juga: Pemkot Semarang Ingatkan RT/RW Soal Batas Wewenang
Menurut Agustina, kebiasaan saling mendukung antarumat beragama merupakan modal sosial yang sangat penting untuk menjaga Kota Semarang tetap kondusif.
Dukungan itu, kata dia, tak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga tumbuh secara alami di tengah masyarakat. Saat Natal, Paskah, Maulid Nabi, maupun agenda keagamaan lainnya, warga dari latar belakang berbeda sudah terbiasa ikut menjaga dan mendukung.
“Dukungan pemerintah kota maupun antarumat beragama kita lakukan secara tulus dan ikhlas. Dukungan dari umat agama lain saat perayaan Natal, Paskah, maupun agenda besar keagamaan lainnya menunjukkan betapa kuatnya rasa persaudaraan di kota ini,” tegasnya.
Dari Bongsari, perjalanan Agustina berlanjut ke GKJ Semarang Timur. Di sana, ia menghadiri Festival Paduan Suara Gerejawi Klasis GKJ Semarang Timur. Menariknya, Agustina memakai paduan suara sebagai gambaran kehidupan masyarakat Semarang. Menurutnya, harmoni justru lahir karena setiap suara punya karakter yang berbeda.
“Saya melihat kekuatan paduan suara ada pada harmoni. Setiap karakter suara saling melengkapi hingga tercipta alunan yang indah. Begitu pula Kota Semarang, keberagaman yang dirawat dengan inklusivitas akan melahirkan harmoni kota yang kuat,” tuturnya.
Analogi itu cukup sederhana, tapi kena. Semarang memang tak harus punya suara yang sama untuk bisa terdengar indah. Yang penting, jangan ada yang merasa harus membungkam suara lain.
Maulid Nabi
Rangkaian safari keagamaan kemudian ditutup di Serambi Utama Masjid Agung Semarang. Agustina hadir dalam Pengajian Akbar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar Yayasan Badan Pengelola Masjid Agung Semarang.
Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan cuma soal seremoni tahunan. Lebih dari itu, Maulid menjadi pengingat tentang ajaran Rasulullah SAW mengenai akhlak, kasih sayang, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama.
“Maulid Nabi mengingatkan kita pada sosok Rasulullah yang membawa ajaran tentang akhlak, kasih sayang, dan kejujuran. Kecintaan kepada Nabi Muhammad perlu terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain, dengan keramahan dan kesediaan membuka ruang bagi sesama,” katanya.
Di tengah suasana pengajian, Agustina juga mengajak jemaah untuk mendoakan warga yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur serta kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Kepedulian warga Semarang, kata dia, juga sudah diwujudkan lewat aksi penggalangan bantuan. Melalui program “Kota Semarang Peduli”, donasi sebesar Rp156 juta untuk korban gempa NTT telah berhasil disalurkan.
Baca juga: Saat Budaya, Iman, dan Harmoni Bertemu di Jantung Semarang
“Melalui ‘Kota Semarang Peduli’, dalam waktu singkat kita bergerak bersama dan telah menyalurkan donasi Rp156 juta untuk saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur,” ungkapnya.
Menutup agenda, Agustina turut memaparkan kesiapan Semarang menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXI. Hingga kini, progres persiapan disebut sudah mencapai 80 persen.
Ia pun mengajak warga Semarang untuk bersiap menyambut sekitar 8.000 hingga 11.000 kafilah dari berbagai daerah di Indonesia dengan keramahan khas warga kota dan suasana yang tetap adem.
Pada akhirnya, pesan dari safari sehari itu sebenarnya cukup gampang dicerna. Semarang punya banyak perbedaan, banyak suara, banyak cara berdoa, dan banyak latar belakang. Tapi kalau semuanya bisa saling menghargai, kota ini tak perlu sibuk mencari harmoni, karena harmoni itu sudah dimainkan setiap hari.
Kadang manusia masih suka ribut karena beda pilihan, padahal paduan suara saja butuh banyak suara berbeda supaya enak didengar. Jadi mungkin yang perlu disetel bukan volume perbedaan, tapi ego masing-masing. (tebe)

