BACAAJA, SEMARANG – Guru-gurunya sudah mengingatkan lewat grup sekolah supaya jangan ikut demo. Tapi ARM, pelajar SMK berusia 18 tahun asal Semarang Barat, justru penasaran.
Alih-alih diam di rumah, malah nekat meluncur ke tengah kota Semarang. Ia bergabung dengan massa aksi 29 Agustus 2025.
Keputusan iseng itu berujung panjang. Bukan sekadar ikut menyaksikan. ARM ikut terlibat langsung dalam kerusuhan perusakan pos polisi di Simpang Lima Semarang.
Ia mengambil pecahan pot bunga, menggenggam batu, lalu melempar ke arah videotron di atas pos pelayanan lalu lintas Simpang Lima. Layar monitor pun retak, rusak, dan akhirnya tidak berfungsi.
Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Mohammad Syahduddi, menjelaskan detail peristiwa itu.
“Pelaku mengambil batu dari pecahan pot bunga dan melemparkan ke arah videotron dan mengenai bagian layar monitor,” katanya, Jumat (19/9/2025).
Menurut Syahduddi, ARM sendiri mengaku awalnya cuma penasaran mengikuti aksi unjuk rasa usai mendapat imbauan dari grup sekolah.
“Ketika ada grup guru sekolah memberikan imbauan untuk tidak melakukan aksi unjuk rasa, anak ini merasa penasaran. Kemudian dia berusaha untuk datang ke kawasan Simpang Lima dan pada akhirnya mengikuti aksi unjuk rasa,” jelasnya.
Kini, ARM resmi masuk kategori anak yang berhadapan dengan hukum. Status tersangka melekat, proses hukum menunggu, dan cerita tentang “penasaran” berubah jadi bab baru di kepolisian. (bae)


