BACAAJA, SEMARANG- Kemiskinan bukan perkara yang bisa selesai hanya dengan membagikan bantuan, lalu mencatat berapa banyak warga yang sudah menerima. Ada persoalan pekerjaan, pendapatan, hingga data yang harus dibereskan supaya masyarakat benar-benar bisa keluar dari kondisi sulit.
Pemprov Jateng pun menyiapkan langkah lanjutan melalui program Satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Satu Desa Dampingan. Program yang sudah menjangkau 641 desa itu akan diperluas untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan.
Wagub Jateng, Taj Yasin Maemoen mengatakan, meski angka kemiskinan di wilayahnya mengalami penurunan, upaya tersebut tetap perlu diperkuat. Salah satunya dengan memastikan program pemerintah benar-benar menyasar wilayah dan warga yang membutuhkan.
Hal itu disampaikan Taj Yasin dalam Rapat Koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Provinsi Jateng 2026 di Kantor Bappeda Jateng, Selasa (29/9/2026).
Baca juga: Angka Kemiskinan di Jateng Turun
Menurutnya, penanganan kemiskinan harus dimulai dari pemetaan wilayah secara lebih spesifik. Pemerintah perlu mengetahui kecamatan mana yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi, kemudian mengidentifikasi desa yang membutuhkan perhatian lebih.
“Di kecamatan kita mana yang paling miskin? Kita kecilkan lagi di kecamatan itu desanya mana. Di situ kita tugaskan OPD kita,” kata Wagub. Dalam program desa dampingan, OPD yang ditugaskan tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan kemiskinan sendirian.
Mereka berperan sebagai koordinator yang menghubungkan kebutuhan desa dengan berbagai program dari perangkat daerah lain. Dengan pola tersebut, penanganan kemiskinan diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri. Persoalan ekonomi, sosial, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat bisa ditangani secara lebih terarah.
Menurut Taj Yasin, kondisi masyarakat bisa berubah sewaktu-waktu. Karena itu, pendataan kemiskinan perlu dilakukan secara berkala agar pemerintah tidak menggunakan informasi yang sudah tidak sesuai dengan keadaan di lapangan.
Proses verifikasi, lanjutnya, bisa dimulai dari tingkat desa, bahkan RT dan RW. Perangkat desa bersama tokoh masyarakat dinilai lebih memahami kondisi warga di lingkungannya.
Selain membenahi data, Taj Yasin juga mengingatkan agar penanggulangan kemiskinan tidak hanya berorientasi pada bantuan konsumtif. Masyarakat usia produktif perlu mendapat dukungan yang bisa membantu meningkatkan pendapatan dan membuka peluang untuk keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.
Bantuan Produktif
Salah satu contohnya melalui bantuan produktif berupa kambing, ayam, atau unggas. Namun, bantuan semacam itu tidak cukup hanya diserahkan kepada penerima. Pemerintah juga perlu memastikan adanya pendampingan dan pengawasan agar usaha yang dirintis bisa berkembang.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jateng, Imam Maskur mengatakan, upaya penanggulangan kemiskinan terus dilakukan seiring pertumbuhan ekonomi Jateng yang mencapai 5,31 persen.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi perlu dibarengi dengan penciptaan lapangan kerja agar masyarakat memiliki pendapatan dan mampu meningkatkan kesejahteraan.
Berdasarkan data yang disampaikan Imam, persentase penduduk miskin Jawa Tengah pada Maret 2026 mencapai 9,21 persen atau sekitar 3,29 juta orang. Kemiskinan masih relatif tinggi di wilayah pedesaan. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi karakter Jateng yang sebagian besar agraris, dengan pilihan sumber pendapatan yang relatif terbatas.
Baca juga: Luthfi Ajak Kadin Jateng Perangi Kemiskinan
Meski demikian, angka kemiskinan ekstrem menunjukkan perkembangan positif. Imam menyebut, kemiskinan ekstrem di Jateng turun dari sekitar 0,62 persen pada 2024 menjadi 0,3 persen pada 2025. Penurunan tersebut mencapai lebih dari 50 persen.
Sebab, 641 desa sudah masuk program, tetapi angka kemiskinan masih jutaan. Pekerjaan rumahnya bukan sekadar menambah daftar desa dampingan, melainkan memastikan setiap pendampingan membawa perubahan nyata.
Jangan sampai yang paling cepat berkembang justru jumlah rapat, laporan, dan tabel program. Sementara warga masih harus bertanya, kapan bantuan itu benar-benar bisa mengubah nasib mereka? (tebe)

