BACAAJA, JEPARA, – Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, benar-benar terputus dari dunia luar. Jalur utama Kajang–Tempur yang jadi urat nadi warga kini lumpuh total setelah longsor besar terjadi di hampir sepanjang ruas jalan.
Hujan deras yang turun tanpa jeda sejak Jumat hingga Sabtu (9–10/1) bikin lereng Muria nggak kuat menahan beban.
Material longsor berupa tanah, batu, dan pasir menutup badan jalan dari berbagai arah. Di beberapa titik, jalannya bukan cuma ketutup, tapi hilang karena tergerus derasnya aliran sungai.
Bacaaja: Jalan Putus Dampak Longsor, BPBD Temanggung Antar-Jemput Siswa Sekolah
Bacaaja: Kredit Bodong Rp263,6 M BPR Jepara Arta, Cuma Modal Nama Pedagang & Pengangguran
Kondisi ini bikin kendaraan sama sekali nggak bisa melintas, bahkan untuk sekadar motor.
Berdasarkan data lapangan, longsor besar tercatat terjadi di setidaknya 18 titik. Di kawasan Basuno, tebing setinggi kurang lebih 20 meter ambrol dan menutup jalan selebar 12 meter. N
ggak jauh dari situ, di area Leki, longsor terjadi beruntun dan menimbun jalan sepanjang sekitar 100 meter dengan ketebalan material mencapai 1 hingga 1,5 meter. Jalanan berubah jadi tumpukan tanah raksasa.
Situasi makin parah di kawasan Dieng. Longsoran di beberapa titik menutup jalan dengan panjang bervariasi, dari 6 hingga 13 meter. Bahkan di salah satu lokasi, sebagian badan jalan ikut ambles.
Di sekitar Jembatan Dieng, longsor dari tebing setinggi hampir 100 meter membawa material yang menutup jalan sepanjang 60 meter. Meski jembatan masih berdiri, pagar pengamannya raib tersapu longsor.
Kerusakan ekstrem juga terjadi di pertigaan dekat spot foto Selamat Datang Tempur. Di lokasi ini, badan jalan sepanjang sekitar 50 meter hilang total, tergerus aliran Sungai Kali Gelis. Kondisi serupa terlihat di Kali Untuk dan Kali Bayi, di mana longsoran dari sumber mata air menutup jalan sepanjang 15 hingga 20 meter.
Di Kali Bayi, longsor dari tebing setinggi sekitar 200 meter kembali menutup jalan. Sementara di tanjakan Gandu, jalan ambrol karena tergerus arus sungai, disusul longsor lain setinggi 20 meter yang menutup tanjakan sepanjang 8 meter dengan material setebal hingga 1,5 meter.
Kerusakan paling bikin ngeri terjadi di kawasan Pule. Di tanjakan Pule, longsor dari tebing setinggi sekitar 100 meter menerjang badan jalan sampai pagar pengaman lenyap, padahal jurang di sisi jalan punya kedalaman hampir 100 meter.
Di Jembatan Pule, badan jalan longsor sepanjang 50 meter dan butuh pembangunan talud darurat. Sementara di Jembatan Mbah Sujak, batu-batu besar menutup jembatan dan mengalihkan aliran sungai hingga menggerus halaman rumah warga dan jalan sedalam sekitar 6 meter.
Tak berhenti di situ, longsor juga terjadi di atas greenhouse, Kali Unthok jalur menuju Dukuh Duplak, serta sejumlah titik lain dengan material yang menutup jalan hingga 20 meter.
Ini baru longsor besar, longsor kecil jumlahnya jauh lebih banyak dan hampir merata di sepanjang jalur.
Akibat rangkaian longsor ini, akses utama menuju Desa Tempur lumpuh total. Warga tak bisa keluar-masuk desa, distribusi logistik tersendat, dan aktivitas ekonomi praktis berhenti.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dengan penanganan darurat, membuka akses sementara, dan menurunkan alat berat secepatnya, mengingat skala kerusakan yang dinilai sangat parah. (*)

