BACAAJA, SEMARANG- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Diponegoro menggelar bedah buku bertajuk Shortcut Teori-Teori Pilihan dalam Ilmu Politik di Ruang Teater Gedung C Fisip Undip, Jumat (22/5/2026).
Salah satu pembahas yang hadir yakni Mohammad Saleh. Wakil Ketua DPRD Jateng yang juga Ketua DPD Partai Golkar Jateng itu ngomong blak-blakan soal dunia politik hari ini yang menurutnya makin kompleks dan nggak bisa cuma dibaca pakai teori lama.
Menurut Saleh, teori politik memang penting. Tapi kalau cuma berhenti di ruang kelas tanpa ngerti kondisi lapangan, ya akhirnya cuma jadi hafalan ujian. “Teori itu penting, tetapi akan lebih bermakna jika bisa digunakan untuk membaca perilaku pemilih, strategi kampanye, dan dinamika kekuasaan yang nyata di lapangan,” ujar Saleh di depan mahasiswa dan peserta diskusi.
Baca juga: Kursi SMA Negeri Cuma 40 Persen, Mohammad Saleh: Jangan Ada “Jalur Belakang”
Dia bilang, praktik politik di Indonesia sering nggak berjalan serasional teori klasik. Banyak faktor lain yang ikut main, mulai dari emosi pemilih, kedekatan sosial, sampai framing media yang tiap hari nongol di timeline masyarakat.
Bahkan menurutnya, politik era digital sekarang sudah berubah total. Dulu kandidat sibuk turun ke pasar atau keliling kampung. Sekarang? Belum tentu. Kadang perang citra justru lebih panas di media sosial dibanding di lapangan.
“Hari ini pertarungan politik bukan hanya soal program, tetapi juga soal persepsi, narasi, dan bagaimana realitas dibingkai di ruang publik,” tambahnya.
Saleh juga nyinggung soal fenomena digital campaigning dan microtargeting yang sekarang makin sering dipakai dalam politik modern.

Harus Upgrade
Kandidat nggak lagi bicara ke semua orang sekaligus, tapi mulai membidik kelompok tertentu lewat algoritma dan media sosial. Artinya, teori politik juga harus ikut upgrade.
Acara bedah buku ini turut menghadirkan penulis buku, Muhammad Adnan, serta akademisi Fisip Undip, Wijayanto yang membahas soal politik digital dan perubahan perilaku pemilih.
Baca juga: Mohammad Saleh: BUMD Jangan Cuma Numpang Nama, Saatnya Fokus Nambah PAD
Sementara itu, Dekan Fisip Undip, Teguh Yuwono menyebut, forum seperti ini penting buat bikin dunia kampus nggak terjebak jadi “menara gading” yang jauh dari realitas sosial-politik.
Diskusi ini diikuti mahasiswa, akademisi, sampai pemerhati politik yang terlihat antusias ngebahas bagaimana teori-teori politik bisa dipakai buat memahami kondisi demokrasi Indonesia hari ini.
Karena di zaman sekarang, politik bukan cuma soal debat visi-misi. Kadang yang lebih menentukan justru siapa yang paling jago ngatur narasi dan menang di kolom komentar. (tebe)

