BACAAJA, SEMARANG — Warga Mangkang Kulon seolah sudah akrab banget sama banjir. Tiap hujan deras turun beberapa jam saja, air biasanya mulai masuk ke permukiman dan bikin aktivitas warga terganggu.
Banjir yang kembali merendam kawasan Kecamatan Tugu, Kota Semarang itu nggak cuma bikin jalan tergenang, tapi juga membuat pedagang kecil harus menanggung kerugian karena barang dagangan mereka ikut terendam air.
Salah satu yang terdampak adalah Nurul Nikmah. Pedagang sembako itu mengaku rugi hampir Rp500 ribu setelah sejumlah barang jualannya rusak terkena banjir.
Bacaaja: Setop Jual Hulu Ngaliyan ke Pengembang, Amerta: Akar Masalah Banjir
Bacaaja: Nasib Tragis Maryam, Lansia Semarang Tewas Terseret Banjir Imbas Tanggul Mangkang Jebol
Menurut Nurul, sebenarnya ia sudah curiga bakal hujan deras sejak sore hari dan sempat memindahkan beberapa barang ke tempat lebih tinggi. Tapi ternyata air tetap masuk ke dalam toko.
“Beberapa barang sudah saya amankan, tapi banyak juga yang tetap kena air,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Air yang masuk merendam beras, gula, hingga tepung yang rencananya akan dijual lagi secara eceran.
“Beras yang masih di karung dan mau dijual eceran, gula sama tepung juga kena,” katanya.
Bagi pedagang kecil, kerugian ratusan ribu rupiah tentu cukup berat. Selain kehilangan barang dagangan, mereka juga harus memikirkan modal baru supaya usaha tetap bisa jalan.
Sementara itu, warga lain, Musytasfiydin, mengatakan banjir di Mangkang memang sudah seperti rutinitas setiap musim hujan datang.
“Mangkang memang langganan banjir mas. Hujan tiga jam saja sudah bisa banjir sampai mata kaki,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Menurutnya, kalau hujan turun seharian, kawasan tersebut bisa berubah seperti segoro atau lautan kecil.
Meski terdengar bercanda, ucapan itu menggambarkan bagaimana warga perlahan mulai terbiasa hidup berdampingan dengan banjir yang datang berulang kali.
Namun di balik kebiasaan itu, warga tetap berharap ada penanganan serius dari pemerintah supaya banjir di Mangkang Kulon nggak terus jadi masalah tahunan.
Sebab, genangan yang datang lagi dan lagi bukan cuma mengganggu aktivitas warga, tapi juga mengancam penghasilan pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari usaha harian mereka. (dul)

