BACAAJA, SEMARANG – Wacana reaktivasi jalur kereta api di berbagai titik sudah muncul cukup lama. Namun, jalur lintas Kedungjati-Tuntang dinilai paling realistis buat segera dieksekusi.
Djoko Setijowarno dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) bilang, jalur sepanjang sekitar 30 kilometer ini disebut jadi “tes awal” keseriusan pemerintah. Pemerintah nggak perlu langsung loncat ke proyek besar.
Mulai saja dari jalur yang sudah siap. Selain pendek, jalur Kedungjati-Tuntang urusan lahannya juga relatif aman dan minim konflik dibanding jalur lain.
Bacaaja: Kasus Sudewo: KPK Cium Ada “Main Belakang” di Jalur Kereta
Bacaaja: Kayuh Pelan, Mimpi Jalan: Tempe Mengantar Haji Mbah Kasidah
“Untuk menunjukkan komitmen bangun jalur KA, cukup reaktivasi dua jalur yang minim potensi sosial dan sudah bebas lahan, salah satunya Kedungjati-Tuntang,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Menurut dia, keseriusan pemerintah untuk buka baru atau reaktuvasi jalur kereta bisa diukur dengan sederhana. Kalau sampai akhir 2026 belum ada anggaran, komitmen itu patut dipertanyakan.
“Jika sampai akhir tahun 2026 tidak ada anggaran pembangunan atau reaktivasi jalur KA, artinya seperti ucapan Presiden Prabowo… omon-omon,” sindirnya.
Selama ini, kata dia, target pembangunan rel memang sering meleset. Bahkan sebelum muncul program besar bernilai ratusan triliun seperti MBG, progresnya sudah tersendat.
Makanya, reaktivasi jalur lama jadi opsi paling masuk akal. Lebih cepat, dan jelas memanfaatkan aset negara yang sudah ada.
Jalur Kedungjati-Tuntang punya sejarah panjang. Dibangun sejak 1873 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, lintasan ini dulu menghubungkan Semarang dengan Ambarawa untuk kepentingan logistik dan militer.
Sekarang jejaknya masih bisa dilihat lewat rute wisata ke Museum Kereta Api Ambarawa. Tapi layanan reguler sudah berhenti sejak 1976.
Waktu itu kereta kalah saing dari transportasi jalan. Infrastruktur menua, biaya tinggi, penumpang turun, akhirnya jalur ditinggalkan.
Sempat ada upaya reaktivasi pada 2013–2015. Tapi berhenti di tengah jalan. Rel yang sempat dipasang kini malah ketutup semak.
Dari sisi pariwisata, jalur ini bisa membuka akses ke kawasan seperti Rawa Pening, Bandungan, sampai lereng Gunung Ungaran. Potensinya besar kalau dikemas serius.
Stasiun Tuntang juga bisa naik kelas. Dari sekadar titik wisata jadi simpul perjalanan yang lebih hidup.
Manfaat lain, jalur ini bisa mengurangi beban jalan nasional. Terutama di kawasan Bawen yang dikenal rawan macet dan kecelakaan. (bae)

