Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ramadan Datang, Tapi Hati Kok Tetap Kosong? Ada yang Salah?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Ramadan Datang, Tapi Hati Kok Tetap Kosong? Ada yang Salah?

Buya Yahya, menyinggung soal siapa saja yang sebenarnya merugi di bulan suci ini. Ucapannya sederhana, tapi cukup bikin mikir dalam.

Nugroho P.
Last updated: Februari 24, 2026 10:20 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
, KH Yahya Zainul Ma'arif atau yang akrab disapa Buya Yahya.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Ramadhan itu tiap tahun datang, tapi nggak semua orang benar-benar “datang” menyambutnya. Ada yang puasanya jalan, sahurnya bangun, bukanya tepat waktu, tapi hatinya terasa biasa saja. Nggak ada getar, nggak ada rindu, nggak ada target berubah.

Padahal bulan ini sering disebut sebagai momen reset paling besar dalam hidup seorang muslim. Waktu di mana pahala dilipatgandakan, pintu ampunan dibuka lebar, dan kesempatan memperbaiki diri terasa begitu dekat. Tapi tetap saja, ada yang melewatinya seperti lewat bulan biasa.

Dalam sebuah ceramah, pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya, menyinggung soal siapa saja yang sebenarnya merugi di bulan suci ini. Ucapannya sederhana, tapi cukup bikin mikir dalam.

Menurutnya, orang yang tidak punya rasa rindu pada Ramadhan patut khawatir pada dirinya sendiri. Ramadhan itu tamu agung. Kalau tamu istimewa datang tapi kita biasa saja, bahkan nggak antusias, ada yang perlu dibereskan di dalam hati.

Ceramah tersebut dirangkum dari tayangan di kanal YouTube Al Bahjah. Dalam penjelasannya, Buya Yahya mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar kewajiban tahunan, tapi kesempatan emas yang belum tentu terulang.

Banyak orang menjalani Ramadhan hanya sebatas formalitas. Puasa iya, tapi kebiasaan lama tetap dipelihara. Lisan masih mudah menyakiti, waktu habis untuk hal sia-sia, dan ibadah tambahan terasa berat.

Inilah barisan orang yang sebenarnya rugi di bulan Ramadhan. Mereka yang masuk bulan suci tanpa target apa pun, lalu keluar darinya tanpa perubahan apa pun. Nggak ada peningkatan, nggak ada evaluasi, nggak ada perbaikan.

Ramadhan seharusnya jadi ruang refleksi. Tempat kita jujur pada diri sendiri. Sudah sejauh mana hubungan dengan Allah? Sudah berapa banyak dosa yang ditinggalkan? Atau jangan-jangan, masih nyaman dengan kebiasaan lama?

Puasa bukan cuma menahan lapar dan haus. Kalau cuma itu, semua orang yang diet juga bisa. Tapi esensi puasa adalah menahan diri dari yang haram, yang sia-sia, dan yang merusak hati.

Ada juga yang sibuk berburu takjil, sibuk buka bersama, sibuk update media sosial, tapi lupa memperbaiki kualitas sholatnya. Ramadhan jadi ramai di luar, tapi kosong di dalam.

Buya Yahya mengingatkan, ukuran keberhasilan Ramadhan bukan seberapa sering kita upload momen ibadah, tapi seberapa dalam perubahan itu terasa setelahnya. Apakah kita jadi lebih sabar? Lebih jujur? Lebih ringan membantu orang lain?

Orang yang beruntung di bulan ini biasanya terlihat dari perubahan kecil yang konsisten. Dulu jarang ke masjid, sekarang lebih rajin. Dulu mudah marah, sekarang lebih tenang. Dulu pelit, sekarang lebih dermawan.

Sebaliknya, orang yang merugi adalah mereka yang tetap sama seperti sebelum Ramadhan. Sholat masih bolong, maksiat masih jalan, hati masih keras. Seolah-olah Ramadhan hanya numpang lewat tanpa bekas.

Ada juga yang merasa aman karena sudah puasa penuh, tapi lupa mengevaluasi kualitas puasanya. Padahal bisa jadi, yang didapat hanya lapar dan haus, tanpa pahala maksimal karena sikap dan lisannya tak dijaga.

Ramadhan sering disebut sebagai madrasah kehidupan. Tempat belajar mengendalikan diri, mengatur waktu, dan melatih empati pada yang kekurangan. Kalau lulusannya nggak berubah, berarti ada yang salah dalam prosesnya.

Yang bikin sedih, kesempatan bertemu Ramadhan bukan jaminan tiap tahun. Banyak yang tahun lalu masih semangat tarawih, tapi tahun ini namanya tinggal kenangan. Umur itu rahasia.

Karena itu, siapa pun yang masih diberi umur untuk bertemu Ramadhan harusnya merasa beruntung. Ini bukan rutinitas biasa, ini kesempatan langka yang bisa jadi yang terakhir.

Jangan sampai Ramadhan berlalu dan kita cuma ingat menu buka puasanya, bukan momen taubatnya. Jangan sampai yang tersisa hanya foto-foto kebersamaan, tapi nggak ada cerita perubahan dalam diri.

Buya Yahya menegaskan, yang paling rugi adalah orang yang tidak mendapatkan ampunan di bulan penuh ampunan. Bayangkan, diskon dosa besar-besaran sedang dibuka, tapi kita malah cuek.

Ramadhan itu bukan soal ramai-ramai, bukan soal tren, bukan soal gaya hidup musiman. Ini soal hati dan kesungguhan. Soal mau berubah atau tidak.

Akhirnya, pertanyaannya sederhana tapi dalam: setelah Ramadhan selesai nanti, kita mau jadi versi yang sama, atau versi yang lebih baik? Karena yang benar-benar rugi bukan yang tak punya harta, tapi yang melewati Ramadhan tanpa makna. (*)

You Might Also Like

Kasus Sudewo: KPK Cium Ada “Main Belakang” di Jalur Kereta

Bisa Angkut 800 Ton Sekali Jalan, KA Brumbung Cargo Resmi Beroperasi

Bantahan Sekda Cilacap soal Korupsi Ditolak Hakim

Jateng-Inggris Jajaki Kerja Sama EBT, Pendidikan, dan Keamanan Siber

Ngobrol Santai Tapi Berat: Luthfi-Gus Yusuf Bedah Kemiskinan Sampai Isu BBM

TAGGED:buya yahyaislamiPUASA MERUGIRUGII PAS PUASA
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis. Sentil Keras Kesepakatan Dagang RI-AS, MUI: Ini Perjanjian atau Penjajahan?
Next Article Suasana meriah Bazar Ramadan di Muladi Dome Undi, Senin (23/02/2026). Meski diguyur hujan, antusiasme pengunjung tidak surut untuk berburu takjil. (dul) War Takjil Muladi Dome, Bukan Sekadar Bazar! Tetap Ramai meski Diguyur Hujan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ketika Konsentrasi Kekuasaan Berada di Tangan Orang Itu-Itu Saja

Forsan Jateng Mau Bikin Pesantren Makin Aman

TIMNAS SPANYOL - Untuk kali pertama dalam sejarah, tak ada pemain Real Madrid sama sekali dalam skuad tim nasional Spanyol.

Pertama dalam Sejarah! Tak Ada Pemain Real Madrid di Timnas Spanyol

Widodo C Putro: Pokoknya Nyerang!

ILUSTRASI pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI). (ist)

Terungkap! Alasan Warga dan Petani Temanggung Ramai Tolak Pembangunan Batalion TNI

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Salah satu Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia, Andreas Budi Wirohardjo, saat mendatangi Tegal.
Olahraga

Andreas Ingin Benahi Organisasi Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai di Tegal

Mei 6, 2025
Hukum

Janji Vonis Ringan Berujung Duit Rp140 Juta? Oknum Jaksa Rembang Disorot

April 13, 2026
Ekonomi

“THR” Ojol 2026 Kapan Cair? Kemnaker: Tinggal Nunggu Tanggal Mainnya

Februari 28, 2026
Bos Sritex, Iwan Setiawan bacain eksepsi kasus korupsinya di pengadilan, Senin (5/1/2026). (bae)
Hukum

Gak Terima Dituding Korupsi, Bekas Bos Sritex Salahkan Pandemi Covid-19 saat Sidang

Januari 5, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ramadan Datang, Tapi Hati Kok Tetap Kosong? Ada yang Salah?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?