BACAAJA, SEMARANG- Saban sore, saat matahari mulai turun dan orang-orang bersiap pulang dari bekerja, Marlan (56) justru baru memulai harinya. Tangannya pelan menutup pintu rumah, seakan tidak ingin membangunkan beban yang sudah lama tidur di hatinya: delapan bulan bekerja tanpa gaji.
Ia meraih helm, menghela napas panjang, lalu menyalakan motor yang tangkinya lebih sering berisi kecemasan daripada bensin. Kadang nyala, kadang enggan. Sama seperti harapan Marlan. Ia tetap berangkat ke kantor Suara Merdeka, tempat ia mengabdi sejak 2003. Dua puluh tahun lebih ia setia, tapi kini yang ia terima hanya senyap. Senyap dari gaji yang tak pernah datang, senyap dari ketidakpastian yang makin mencekik.
Baca juga: Buruh SPN Jebol Gerbang Kantor Gubernuran
“Masih ada kewajiban… ya harus berangkat,” ucapnya lirih seusai dipanggil Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang untuk mengklarifikasi laporannya, Rabu (10/12). Suaranya bukan pelan, tapi patah saat ditemui siang itu. Untuk sekadar bisa berangkat saja, Marlan harus gantian motor dengan anaknya yang kuliah.
Motor pulang sore, lalu giliran ia yang pergi. Kadang, atau bahkan sering, jarum bensin motonya berada di garis merah. Jika sudah begitu, dia hanya punya dua pilihan. Menambah jumlah utang yang sudah menumpuk, atau terpaksa tidak berangkat kerja.
Tetap Berjalan
Sementara itu, hidup di rumah terus berjalan dan tak peduli soal gajinya yang dibayarkan atau tidak. Tagihan tetap datang tepat waktu, seperti sedang mengejek kemampuan bayar. Anak istri tetap harus makan, dan listrik tetap harus disi tokennya. Belum lagi kebutuhan hidup lainya,
Dan istrinya… perempuan yang setiap pagi berangkat kerja ke pabrik, pulang sore dengan tubuh yang hampir lunglai, tapi tetap harus bertahan. Begitu istrinya pulang, Marlan ganti pergi. Rumah seperti stasiun kereta api, selalu ada yang datang, ada yang pergi, tapi jarang ada yang benar-benar istirahat.
Marlan memasak, mencuci, membersihkan rumah. Kadang ia tersenyum kecil, bukan karena bahagia, tapi agar anaknya tidak ikut menanggung letih yang ia sembunyikan.
Dikatakan, teman-temannya di kantor hidup dalam kisah yang tak kalah pahit. Ada yang anaknya sakit tapi tak mampu berobat. Ada yang menumpuk utang demi sekedar bertahan. Ada yang tetap kerja hingga malam meski tahu belum tetntu ada transferan gaji di akhir bulan.
“Rata-rata berat semua,” ujar Marlan. Kalimat sederhana, tapi di baliknya ada dunia yang runtuh perlahan. Bersama beberapa kolega, mereka sudah melapor ke pemerintah. Sudah berkali-kali. Sudah meminta difasilitasi. Sudah bersuara tentang hak normatif mereka yang entah tercecer di mana. Tapi yang datang selalu janji, bukan penyelesaian.
Baca juga: Buruh Semarang Ngudoroso UMR, Wali Kota: Tenang, Tak Kawal…
Di momen Hari Hak Asasi Manusia (HAM) ini, mereka mengetuk pintu lagi, pintu yang rasanya semakin jauh, semakin tebal dan semakin sulit dibuka. “Semoga ada hasil. Kami cuma ingin hak kami,” ucap Marlan tersebyum getir. Lebih seperti doa yang diikat dengan sisa-sisa tenaga.
Dan malam nanti, ketika pekerjaan selesai, Marlan akan pulang. Melewati jalanan gelap, membawa lelah yang tak pernah benar-benar hilang. Lalu tidur sebentar, bangun lagi, dan menunggu sore tiba untuk kembali menjalani hidup yang entah sedang ia perjuangkan atau sedang ia pertahankan.
Karena bagi Marlan, yang bertahan bukan hanya tubuhnya. Tapi sisa harapan yang ia paksa tetap menyala. Meski kadang mengecil, bergoyang-goyang tertiup angin. (Bae)


