Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Pulang Malam Bawa Lelah, Berangkat Sore Bawa Doa: Marlan Terus Ngantor Meski 8 Bulan Tak Digaji
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Hukum

Pulang Malam Bawa Lelah, Berangkat Sore Bawa Doa: Marlan Terus Ngantor Meski 8 Bulan Tak Digaji

Cerita Marlan (56) pada akhirnya sampai pada satu kesimpulan pahit. Sebagai pekerja, ia tetap bekerja meski tak digaji. Bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena hidup memaksanya bertahan. Setiap sore ia kembali ke kantor, menunaikan kewajiban yang tak lagi sebanding dengan haknya, seolah kesetiaan adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia genggam ketika kenyataan terus memojokkannya.

T. Budianto
Last updated: Desember 10, 2025 4:30 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
PANGGILAN KLARIFIKASI: Marlan duduk di kantin Kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang menunggu panggilan untuk klarifikasi laporan, Rabu (10/12). (Foto: Bae)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Saban sore, saat matahari mulai turun dan orang-orang bersiap pulang dari bekerja, Marlan (56) justru baru memulai harinya. Tangannya pelan menutup pintu rumah, seakan tidak ingin membangunkan beban yang sudah lama tidur di hatinya: delapan bulan bekerja tanpa gaji.

Ia meraih helm, menghela napas panjang, lalu menyalakan motor yang tangkinya lebih sering berisi kecemasan daripada bensin. Kadang nyala, kadang enggan. Sama seperti harapan Marlan. Ia tetap berangkat ke kantor Suara Merdeka, tempat ia mengabdi sejak 2003. Dua puluh tahun lebih ia setia, tapi kini yang ia terima hanya senyap. Senyap dari gaji yang tak pernah datang, senyap dari ketidakpastian yang makin mencekik.

Baca juga: Buruh SPN Jebol Gerbang Kantor Gubernuran

“Masih ada kewajiban… ya harus berangkat,” ucapnya lirih seusai dipanggil Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang untuk mengklarifikasi laporannya, Rabu (10/12). Suaranya bukan pelan, tapi patah saat ditemui siang itu. Untuk sekadar bisa berangkat saja, Marlan harus gantian motor dengan anaknya yang kuliah.

Motor pulang sore, lalu giliran ia yang pergi. Kadang, atau bahkan sering, jarum bensin motonya berada di garis merah. Jika sudah begitu, dia hanya punya dua pilihan. Menambah jumlah utang yang sudah menumpuk, atau terpaksa tidak berangkat kerja.

Tetap Berjalan

Sementara itu, hidup di rumah terus berjalan dan tak peduli soal gajinya yang dibayarkan atau tidak. Tagihan tetap datang tepat waktu, seperti sedang mengejek kemampuan bayar. Anak istri tetap harus makan, dan listrik tetap harus disi tokennya. Belum lagi kebutuhan hidup lainya,

Dan istrinya… perempuan yang setiap pagi berangkat kerja ke pabrik, pulang sore dengan tubuh yang hampir lunglai, tapi tetap harus bertahan. Begitu istrinya pulang, Marlan ganti pergi. Rumah seperti stasiun kereta api, selalu ada yang datang, ada yang pergi, tapi jarang ada yang benar-benar istirahat.

Marlan memasak, mencuci, membersihkan rumah. Kadang ia tersenyum kecil, bukan karena bahagia, tapi agar anaknya tidak ikut menanggung letih yang ia sembunyikan.

Dikatakan, teman-temannya di kantor hidup dalam kisah yang tak kalah pahit. Ada yang anaknya sakit tapi tak mampu berobat. Ada yang menumpuk utang demi sekedar bertahan. Ada yang tetap kerja hingga malam meski tahu belum tetntu ada transferan gaji di akhir bulan.

“Rata-rata berat semua,” ujar Marlan. Kalimat sederhana, tapi di baliknya ada dunia yang runtuh perlahan. Bersama beberapa kolega, mereka sudah melapor ke pemerintah. Sudah berkali-kali. Sudah meminta difasilitasi. Sudah bersuara tentang hak normatif mereka yang entah tercecer di mana. Tapi yang datang selalu janji, bukan penyelesaian.

Baca juga: Buruh Semarang Ngudoroso UMR, Wali Kota: Tenang, Tak Kawal…

Di momen Hari Hak Asasi Manusia (HAM) ini, mereka mengetuk pintu lagi, pintu yang rasanya semakin jauh, semakin tebal dan semakin sulit dibuka. “Semoga ada hasil. Kami cuma ingin hak kami,” ucap Marlan tersebyum getir. Lebih seperti doa yang diikat dengan sisa-sisa tenaga.

Dan malam nanti, ketika pekerjaan selesai, Marlan akan pulang. Melewati jalanan gelap, membawa lelah yang tak pernah benar-benar hilang. Lalu tidur sebentar, bangun lagi, dan menunggu sore tiba untuk kembali menjalani hidup yang entah sedang ia perjuangkan atau sedang ia pertahankan.

Karena bagi Marlan, yang bertahan bukan hanya tubuhnya. Tapi sisa harapan yang ia paksa tetap menyala. Meski kadang mengecil, bergoyang-goyang tertiup angin. (Bae)

You Might Also Like

Mohammad Saleh Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan

Prambanan Siap Diserbu 35 Ribu Umat!

Mas Septa Penjaga Kenangan Masa Kecil: Koleksi Ribuan Item Mainan Jadul dari ‘Lorong Waktu’

Kerjo Aneh-aneh: Bakul Jamu Unik, Jualan Sambil Nyanyi dan Live TikTok

Kutuk Teror Air Keras ke Andrie Yunus, Tokoh Lintas Iman Jateng: Usut sampai Dalangnya!

TAGGED:disnaker kota semarangheadlinesuara merdekawali kota semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi bencana banjir bandang yang menghanyutkan kayu-kayu gelondongan. Dunia Siap Bantu tapi Pemerintah Tutup Pintu, Takut Borok Lahan Ketahuan?
Next Article Komdigi Gratiskan Internet Sebulan, untuk Korban di Aceh, Perlu Ndak Ya?

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kepala Disbudpar Kota Semarang

Lebaran Monyet di Gua Kreo: Kera Berpesta di Sesaji Rewanda, Wisatawan Ikutan Seru-seruan

Niacinamide Bukan Selalu Jawaban, Ini Tiga Kondisi Stop Dulu

Banjir Brebes Gak Cuma Soal Hujan, Menteri PU: Beresi Muara Dulu

PSIS vs Persipal, Laga Hidup Mati di Jatidiri

Cabai Nempel di Lidah, Cerita Lama Jadi Kebiasaan Baru

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Erupsi Gunung Semeru.
Info

178 Pendaki Tertahan, Begini Sejarah Erupsi Semeru Sejak 1818

November 20, 2025
Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Dharma Sena saat konferensi pers, Kamis (5/3/2026). (ist)
Hukum

Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Naik Penyidikan, Siapa jadi Tersangka?

Maret 5, 2026
Mantan Menteri BUMN yang juga dijuluki si 'Raja Media' Dahlan Iskan.
Unik

Raja Media Dahlan Iskan Tersangka Penggelapan, Pelapornya Jawa Pos

Juli 8, 2025
Tampilan depan Mahindra Scorpio pick up, salah satu jenis kendaraan build up yang akan diimpor pemerintah dari India untuk Kopdes Merah Putih.
Ekonomi

Bukan Industri Lokal, Kopdes Merah Putih Siap Kasih Cuan Gede Pabrik Otomotif India

Februari 21, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pulang Malam Bawa Lelah, Berangkat Sore Bawa Doa: Marlan Terus Ngantor Meski 8 Bulan Tak Digaji
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?