BACAAJA, SEMARANG – Setahun sudah Agustina Wilujeng Pramestuti-Iswar Aminuddin memimpin Kota Semarang. Di masa kepemimpinannya, berbagai program berjalan. Tapi di lapangan, obrolan warga ternyata masih dipenuhi catatan kecil yang kalau dikumpulkan, rasanya nggak kecil juga.
“Jalanan masih banyak yang bolong,” kata Muiz (23), setengah tertawa, tapi nadanya serius.
Menurutnya, beberapa titik di Semarang terasa kurang terawat. Ia juga menyinggung soal knalpot brong yang suaranya masih sering bikin kaget di jalanan.
Bacaaja: Gubernur Jateng Selalu Dirujak Netizen, Gimana Kinerja Luthfi-Yasin Setahun Terakhir?
Bacaaja: Satu Tahun Agustina-Iswar: Ijazah Nggak Lagi Disandera, SPP Nggak Bikin Deg-degan
“Terus kalau ada komplain, rasanya sekarang nggak se-gercep dulu,” tambahnya. Kamis (26/02/2026)
Keluhan soal jalan berlubang juga disampaikan Yassar (22). Ia merasa masih cukup sering menemukan aspal yang rusak di beberapa ruas jalan.
Selain itu, satu hal yang bikin dia heran adalah banjir di kawasan sekitar Stasiun di Semarang yang seperti datang dan pergi, tapi nggak benar-benar selesai.
Kawasan sekitar Stasiun di Semarang memang sering jadi sorotan tiap musim hujan. Air menggenang, lalu lintas tersendat, dan warga cuma bisa berharap air cepat surut.
Belum selesai soal jalan dan banjir, pembicaraan beralih ke transportasi umum, khususnya Trans Semarang. Nana (23) langsung mengangguk saat ditanya soal BRT.
“Armada-nya menurutku kurang. Soalnya tiap naik selalu penuh. Nunggu bus berikutnya juga lama,” ujarnya. Kamis (26/02/2026)
Menurutnya, ini sebenarnya tanda bagus, artinya warga banyak yang minat naik BRT. Tapi kalau jumlah armadanya nggak nambah, penumpang jadi desak-desakan dan akhirnya malas.
Yassar juga menambahkan, beberapa bus terasa seperti belum ada peremajaan. Bahkan ada keluhan soal sopir yang dinilai kadang ugal-ugalan, khususnya di armada besar, bukan feeder.
“Yang bus gede itu lho, kadang ngebut,” katanya. Kamis (26/02/2026)
Masalah lain yang bikin geleng kepala adalah pengendara motor yang naik ke trotoar. Trotoar yang seharusnya aman buat pejalan kaki, malah sering jadi jalur alternatif saat macet.
Ditambah lagi lahan parkir yang sempit di beberapa titik kota, bikin suasana makin semrawut.
Obrolan ini memang terdengar seperti kumpulan kritik. Tapi kalau didengar baik-baik, sebenarnya ini bentuk kepedulian. Warga masih berharap kotanya nyaman.
Mereka ingin jalan yang mulus, transportasi publik yang layak dan cukup, banjir yang benar-benar tertangani, dan aturan yang ditegakkan dengan konsisten.
Semarang terus berkembang. Gedung bertambah, kawasan ramai, aktivitas makin padat. Tapi di balik itu, hal-hal mendasar seperti jalan, banjir, dan transportasi tetap jadi ukuran sederhana, apakah kota ini terasa enak ditinggali atau tidak.
Suara-suara seperti Muiz, Yassar, dan Nana mungkin terdengar biasa. Tapi justru dari percakapan ringan itulah gambaran kota hari ini bisa terlihat apa adanya. (dul)


