BACAAJA, JAKARTA — Perjuangan panjang puluhan petani dari Kabupaten Pati akhirnya mulai kelihatan hasilnya. Setelah lebih dari setahun menanti kejelasan bantuan gagal panen alias puso, perwakilan petani dari 26 desa di empat kecamatan itu akhirnya dapat angin segar: BNPB janji bantuan cair maksimal 30 hari ke depan.
Mereka nggak datang sendirian. Dipimpin dua tokoh lokal, Heri Priyatno (Kades Wegil, Sukolilo) dan H. Ali Sururi (Desa Talun, Kayen), rombongan ini ikut didampingi Kepala BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prastyo, dan anggota DPR RI Komisi VIII dari Fraksi NasDem, Sri Wulan. Aksi ini berlangsung dalam audiensi resmi di kantor BNPB, Selasa (23/9).
Janji Lama yang Akhirnya Diungkit Lagi
Deputi IV BNPB Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Jarwansah, dalam pertemuan itu membeberkan kenapa bantuan yang dijanjikan Presiden Jokowi sejak 2023 itu mandek total. Ternyata, meski anggaran Rp420 miliar sudah disiapkan, berbagai kendala birokrasi bikin dana itu gagal tersalurkan dan malah balik ke kas negara.
“Tahun ini kami alokasikan Rp15 miliar untuk Pati dari anggaran optimalisasi. Tapi banyak data dari 2023 yang gak sesuai format, jadi gak bisa diproses. Ditambah kondisi keuangan kita defisit, ya makin sulit,” jelas Jarwansah.
Senada, Direktur Dana Siap Pakai BNPB, Agus Priyatno, juga blak-blakan soal kondisi fiskal. “Defisit kita sampai Rp300 miliar. Tapi kami tetap komit. Kalau pimpinan sudah putuskan, kami langsung jalankan,” katanya.
Desakan Keras dari DPR dan Petani
Gak cuma dengar alasan, Sri Wulan dari DPR langsung gaspol mempertanyakan kenapa bantuan untuk Pati beda perlakuan dengan daerah lain. “Petani Pati itu bahkan udah disebut dalam acara simbolis penyerahan bantuan Presiden di Grobogan dan Pekalongan. Tapi kenapa sampai sekarang belum cair?” kritiknya.
Ali Sururi, petani dari Desa Talun, juga menyampaikan kekecewaan mendalam. “Kami udah ngajuin data sebelum deadline. Bahkan sampai beli materai mahal dua hari sebelum lebaran. Data kami juga udah diverifikasi BPKP dan disahkan lewat SK Bupati. Tapi kenapa malah dikembalikan di akhir 2024? Jangan anggap kami pengusul baru,” tegasnya.
Para petani dari Kabupaten Pati memang menjadi pengusul dengan data yang lengkap sejak awal. Yakni Mei hingga Juli 2023, meskipun tenggat waktu pengajuan hanya dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri 2023. Bahkan sempat terjadi kesulitan mencari materi lantaran setiap petani, harus melampirkan dua lembar dokumen bermaterai 10.000.
Pada 13 Desember 2023, Presiden Jokowi menyerahkan simbolis bantuan ini, saat berkunjung ke Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan. Total saat itu terdapat 16.321 hektar sawah yang gagal panen karena puso. Dengan total petani yang menjadi korban, termasuk dari Kabupaten sebanyak 6.431 jiwa. Data itu Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, dalam laporannya kepada Presiden.
Tekanan Publik Berbuah Janji
Di bawah tekanan data valid, suara petani, dan sorotan anggota DPR, akhirnya BNPB mengeluarkan janji resmi: pencairan bantuan maksimal dalam 30 hari ke depan.
Kades Wegil, Heri Priyatno, berharap janji ini bukan PHP alias pemberi harapan palsu. “Petani kami sudah terlalu sabar. Harusnya mereka nggak perlu jalan jauh ke Jakarta buat tagih janji Presiden. Tapi karena belum ada kepastian, ya terpaksa kami turun langsung,” katanya.
Kades Gadudero Sukolilo, Agus Yulianto, yang turut serta dalam audensi tersebut menambahkan, warganya yang notabene petani, sangat tidak berharap ada kegagalan dalam usaha pertaniannya. Mereka lebih memilih usaha pertaniannya berhasil dibanding gagal.
“Sebab jika berhasil, dari lahan satu hektar, panen jagung nya bisa menghasilkan uang hingga Rp.40 juta. Lha ini ketika puso atau gagal panen, kita hanya dapat ganti Rp.8juta. Habis gitu, nagihnya sampai ke Jakarta. Petani kami nggak minta. Tetapi mereka ditawari, dijanjikan mau dikasih,” ungkapnya.
Harapan Terakhir: Negara Jangan Lupa Siapa yang Kasih Makan
Aksi ini jadi pengingat keras bahwa janji negara itu bukan sekadar seremoni. Apalagi yang dijanjikan ke petani—mereka yang tiap hari berkeringat demi pangan rakyat. Sekarang bola ada di tangan BNPB. Apakah 30 hari cukup untuk menebus setahun kekecewaan?
Atau, tambah Agus Yulianto, petani Pati yang dijanjikan stimulant puso ini harus ber bonding-bondong ke Jakarta, menagih janji ke Presiden. “Jangan diremehkan, dan tolong jangan pernah dijanjikan. Mereka berharap dan menagih karena dijanjikan,” tegasnya.
Pj Kades Cengkalsewu Sukolilo, Imam Sopyan menegaskan, janji ini bermula dari Presiden Jokowi di akhir 2023. Kalau sekarang Presidennya sudah berganti ke Prabowo Subianto, apakah perlu petani Pati ini diketemukan dengan Presiden.
“Janji stimulant puso ini janji Presiden. Maka sekarang kita serahkan ke Presiden jika BNPB tidak mampu menyelesaikan janji ini. Di mulai Presiden, maka kita minta Presiden juga yang mengakhirinya,” tukas Imam.(*)


