BACAAJA, SEMARANG – Setelah sebulan menahan lapar dan haus, Lebaran sering jadi “momen balas dendam” yang sulit dikontrol.
Meja penuh opor, rendang, sambal goreng, ditambah kue-kue manis seperti nastar dan kastengel, semuanya menggoda untuk disantap tanpa jeda. Tapi di balik kenikmatan itu, ada risiko kesehatan yang diam-diam mengintai.
Hal ini diingatkan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang yang meminta masyarakat lebih waspada terhadap perubahan pola makan setelah Ramadan.
Bacaaja: WFH Usai Lebaran Bikin Pelaku Usaha Ikutan Deg-degan
Bacaaja: 5 Spot Wisata Paling Diburu saat Libur Lebaran di Semarang: dari Lawang Sewu sampai Saloka
Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam, menjelaskan bahwa perubahan drastis dari pola puasa ke pola makan bebas sering kali membuat tubuh “kaget”.
“Setelah puasa, banyak yang langsung makan berlebihan. Ini yang memicu gangguan seperti diare, gula darah naik, bahkan bisa sampai sesak napas,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).
Menurutnya, makanan khas Lebaran yang didominasi santan jadi salah satu pemicu utama. Opor ayam, gulai, hingga sambal goreng memiliki kandungan lemak yang cukup tinggi dan cenderung berat dicerna, apalagi jika dikonsumsi berulang dalam waktu singkat.
Bagi orang dengan lambung sensitif, kondisi ini bisa langsung terasa. mulai dari perut kembung, mual, hingga diare. Risiko akan semakin tinggi jika makanan yang dikonsumsi kurang higienis atau sudah terlalu lama disajikan di suhu ruang.
Tak berhenti di situ, camilan Lebaran juga sering dianggap sepele. Padahal, kandungan gula dan kalorinya cukup tinggi. Dalam gambaran sederhana, tiga buah nastar saja bisa setara dengan satu piring nasi.
Kalau dalam sehari seseorang makan beberapa jenis kue sekaligus tanpa sadar, asupan kalorinya bisa melonjak jauh dari kebutuhan harian. Ditambah minuman manis seperti sirup atau soda, kombinasi ini jadi “paket lengkap” untuk memicu kenaikan gula darah.
Kondisi ini tentu berisiko, terutama bagi penderita diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi. Bahkan pada orang sehat sekalipun, perubahan mendadak ini bisa membuat tubuh cepat lelah, mengantuk, dan tidak bertenaga.
Selain pola makan, perubahan aktivitas juga ikut berpengaruh. Selama Lebaran, banyak orang lebih banyak duduk, berkumpul, atau tidur, sementara aktivitas fisik berkurang drastis. Padahal, tubuh tetap butuh bergerak untuk menyeimbangkan asupan energi.
“Kalau makan banyak tapi tidak diimbangi aktivitas, gula darah dan kolesterol bisa ikut naik. Ini yang sering tidak disadari,” tambah Hakam.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes menyarankan masyarakat mulai kembali ke pola makan seimbang. Porsi makan sebaiknya dikontrol, tidak berlebihan, dan tetap diselingi konsumsi sayur serta buah.
Selain itu, penting juga untuk memperbanyak minum air putih, membatasi minuman manis, serta tetap menjaga aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki atau olahraga santai.
Lebaran memang soal kebersamaan dan kebahagiaan. Tapi menjaga tubuh tetap sehat setelahnya juga tidak kalah penting. Karena kalau sampai jatuh sakit, momen yang seharusnya jadi ajang silaturahmi justru bisa berubah jadi waktu untuk pemulihan. (dul)


