BACAAJA, SEMARANG – Amarah sempat tersulut di tubuh Pagar Nusa. Setelah ada pesilat yang tewas dikeroyok, banyak pendekar dari berbagai daerah datang ke Semarang dan Demak. Niatnya menuntut balas.
Mereka tak terima, pesilat Pagar Nusa yang tak bersalah, Mohammad Bimo Saputra (17), tewas mengenaskan.
Situasi itu diakui Ketua Pagar Nusa Jawa Tengah, Arief Rohman. Ia tak menampik emosi para anggota sedang di titik tinggi. Solidaritas bergerak cepat, bahkan nyaris tak terbendung.
“Ya, kami telah sekuat tenaga menahan amarah mereka,” kata Arief saat mengunjungi rumah almarhum Mohammad Bimo Saputra, Senin (29/12/2025).
Bacaaja: Tiga Kreak Ditangkap setelah Keroyok Pesilat Pagar Nusa hingga Tewas di Demak
Bacaaja: Anggota Pagar Nusa Dihajar Brutal Geng Balap Liar hingga Meninggal di Semarang
Petinggi Pagar Nusa yang juga Bupati Blora itu mengimbau semua pendekar, agar tidak bertindak main hakim sendiri. Sebab, negara kita negara hukum.
“Kami imbau para pendekar di Semarang dan Demak dan yang berdatangan dari luar daerah, mohon tidak berdindak di luar komando organisasi,” tegasnya.
Menurut Arief, pembalasan hanya akan membuka luka baru. Ia meminta semua pihak menahan diri dan mempercayakan penanganan kasus ke kepolisian.
Di sisi lain, Kapolres Demak AKBP Ari Cahya Nugraha membenarkan adanya pengeroyokan di Jembatan Ganefo. Polisi, kata dia, sudah mengamankan tiga orang.
“Kami amankan tiga orang. Perannya apa, apakah terlibat atau tidak, masih diperiksa,” jelas Ari lewat sambungan telepon, Sabtu (27/12/2025).
Namun, polisi belum membuka identitas resmi para terduga. Status hukum mereka juga belum dijelaskan ke publik.
Informasi yang beredar menyebut tiga orang berinisial WS (28) warga Grobogan, MB (21) warga Demak, serta satu anak yang berhadapan dengan hukum.
Kabarnya, polisi udah menangkap dua orang lain, yakni REA (18) dan MIA (16), warga Demak.
Saat dikonfirmasi kembali pada Senin (29/12/2025), Kapolres Demak belum memberi jawaban lanjutan. (bae)


