BACAAJA, JAKARTA– Katanya generasi muda punya banyak peluang di era digital. Bisa kerja dari mana saja, jualan lewat media sosial, sampai jadi kreator konten.
Namun, di balik narasi manis itu, ada kenyataan yang tak kalah pahit: mencari pekerjaan tetap makin sulit, sementara gaji belum tentu cukup untuk membiayai hidup.
Tak heran jika Gen Z dan milenial mulai berburu side hustle alias pekerjaan sampingan. Bukan semata ingin menambah gaya hidup, tetapi kadang demi memastikan saldo rekening tidak megap-megap menjelang akhir bulan.
Persoalan ini menjadi sorotan Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia dalam Youth Economic Summit 2026 yang digelar bersama Suara.com di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Sabtu (7/11/2026).
Strategic Research Manager CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan, tingkat pengangguran kelompok usia muda di Indonesia mencapai 17 persen. Angka tersebut sekitar 3,2 kali lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran umum.
Menurut Yusuf, kondisi itu menunjukkan persoalan struktural dalam penyerapan tenaga kerja muda, terutama ketika Indonesia sedang menikmati momentum bonus demografi.
Membludaknya pencari kerja dalam berbagai bursa kerja atau job fair menjadi salah satu gambaran betapa ketatnya persaingan mendapatkan pekerjaan. Masalahnya ternyata bukan sekadar kurangnya lapangan kerja. Ada jurang antara keterampilan pencari kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.
Yusuf menjelaskan, sekitar 35 persen angkatan kerja muda bekerja tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya. Kondisi ini dikenal sebagai mismatch yang terbagi menjadi dua persoalan, yakni overeducated dan undereducated.
Overeducated terjadi ketika lulusan berpendidikan tinggi justru bekerja pada posisi yang tidak membutuhkan kualifikasi tersebut. Sebaliknya, undereducated menggambarkan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tertentu, tetapi diisi tenaga kerja yang belum memenuhi standar kompetensi.
“Dari sisi suplai, kita mengeluarkan angkatan kerja yang begitu besar, tetapi tidak match dengan permintaan industri saat ini,” ujar Yusuf. Ia menilai pendidikan tenaga kerja yang masih didominasi lulusan SMA ke bawah belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan sektor digital maupun manufaktur tingkat lanjut. Ironisnya, industri manufaktur juga kesulitan mencari tenaga terampil untuk mengadopsi teknologi.
Kenaikan Upah
Persoalan belum selesai ketika anak muda berhasil mendapatkan pekerjaan. Tantangan berikutnya adalah upah yang daya belinya cenderung stagnan. Menurut Yusuf, kenaikan upah secara nominal belum banyak mengubah kemampuan belanja pekerja dibandingkan kondisi 2018. Kenaikan pendapatan belum sebanding dengan biaya hidup yang terus meningkat.
Akibatnya, pekerjaan utama sering kali belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi membiayai hiburan dan kebutuhan gaya hidup.
Data yang dipaparkan CORE Indonesia mencatat sekitar 53 persen pelaku side hustle berasal dari kelompok kelas menengah.
“Pekerja 9 to 5 pada akhirnya harus mengambil pekerjaan tambahan karena masalah upah. Sayangnya, konsekuensi dari realita finansial ini sangat besar. Satu dari dua Gen Z dan milenial saat ini terpaksa menunda keputusan-keputusan besar dalam hidup mereka, seperti menikah atau membeli rumah,” ungkap Yusuf.
Artinya, pekerjaan sampingan bukan lagi sekadar proyek mengejar cuan tambahan. Bagi sebagian anak muda, aktivitas tersebut sudah menjadi strategi bertahan menghadapi tekanan ekonomi.
Meski situasinya terlihat suram, Yusuf melihat masih ada peluang dari perkembangan ekonomi digital dan gig economy. Mengutip laporan World Economic Forum (WEF), sekitar 78 juta pekerjaan baru diperkirakan tercipta secara global hingga 2030.
Penetrasi internet dan adopsi teknologi di Indonesia dinilai bisa membuka ruang kerja baru bagi generasi muda. Namun, peluang tersebut harus dibarengi peningkatan kualitas tenaga kerja dan pembenahan sistem pendidikan agar sesuai kebutuhan industri.
Pemerintah juga diminta tidak hanya mengejar penurunan angka pengangguran secara statistik, tetapi memastikan pekerjaan yang tersedia memiliki kualitas dan memberikan penghasilan layak. “Peluang dari ekonomi digital tetap ada dan harus kita kejar bersama dengan membenahi mismatch yang terjadi saat ini,” tegasnya.
Youth Economic Summit 2026 menjadi ruang diskusi mengenai pengangguran, kesenjangan keterampilan, daya beli, hingga masa depan pekerjaan generasi muda.
Forum ini diselenggarakan CORE Indonesia bersama Suara.com dengan Uni Eropa sebagai peserta khusus. Pada akhirnya, bonus demografi seharusnya menjadi modal untuk melompat lebih jauh, bukan sekadar menambah panjang antrean pencari kerja.
Sebab, kalau anak muda harus punya dua atau tiga pekerjaan hanya untuk membiayai satu kehidupan, jangan buru-buru menyebut mereka generasi paling produktif. Bisa jadi, mereka bukan sedang mengejar kesuksesan, melainkan sedang berusaha agar tidak kehabisan napas sebelum tanggal gajian. (tebe)

