BACAAJA, GROBOGAN– Lahan kosong bukan berarti tak bisa menghasilkan cuan. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadi membuktikannya dengan menyulap lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) menjadi area pertanian produktif.
Kali ini, tanaman okra menjadi pilihan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan bercocok tanam. Bersama Kelompok Tani Agro Makmur, Lapas Purwodadi mulai melakukan penanaman okra di lahan seluas kurang lebih 3.000 meter persegi, baru-baru ini.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Lapas Kelas IIB Purwodadi Erik Murdiyanto, perwakilan Kelompok Tani Agro Makmur, jajaran pegawai, peserta magang, serta enam warga binaan yang terlibat langsung dalam proses penanaman.
Program ini bukan sekadar upaya menghijaukan lahan. Lebih dari itu, kegiatan pertanian tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian agar warga binaan memiliki keterampilan produktif sebagai bekal setelah bebas nanti.
Baca juga: Lapas Purwodadi Bantu Bedah Rumah Warga
Kalapas Kelas IIB Purwodadi, Erik Murdiyanto mengatakan, pemanfaatan lahan SAE diharapkan mampu memberikan nilai tambah sekaligus mendukung program ketahanan pangan.
“Melalui kegiatan penanaman okra ini, kami ingin mengoptimalkan lahan yang tersedia agar lebih produktif dan memberikan manfaat. Selain mendukung program ketahanan pangan, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk memperoleh keterampilan di bidang pertanian yang nantinya dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Beri Pendampingan
Dalam pelaksanaannya, Kelompok Tani Agro Makmur turut memberikan pendampingan dan pengetahuan mengenai teknik budidaya. Mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga pemeliharaan tanaman agar hasil panen bisa optimal.
Tanaman okra tersebut diperkirakan mulai bisa dipanen setelah sekitar 45 hari masa tanam. Namun, waktu panen tetap menyesuaikan kondisi pertumbuhan dan perawatan tanaman.
Baca juga: Warga Binaan Lapas Purwodadi Dilatih Otomotif
Melalui kolaborasi ini, Lapas Purwodadi berharap lahan SAE tidak hanya menjadi fasilitas pendukung pembinaan, tetapi juga mampu menghasilkan produk pertanian yang bermanfaat.
Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan di balik tembok lapas tidak melulu soal menjalani masa hukuman. Ada kesempatan belajar, bekerja, dan menyiapkan masa depan. Sebab, ketika warga binaan kembali ke masyarakat, idealnya yang dibawa bukan sekadar cerita pernah tinggal di balik jeruji, melainkan juga keterampilan untuk menanam harapan dan memanen kehidupan yang lebih mandiri. (tebe)

