BACAAJA, DEMAK- Aliansi Rakyat Miskin Semarang Demak (ARMSD) meminta pemerintah memprioritaskan penanganan wilayah pesisir yang sudah berada dalam kondisi darurat.
Menurut mereka, kawasan seperti Dukuh Timbulsloko di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, membutuhkan langkah cepat, tanpa harus menunggu proyek Giant Sea Wall terwujud.
Permintaan itu disampaikan ARMSD dalam pernyataan sikap terkait rencana pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di Pantura Jawa. Koordinator ARMSD Ahmad Marzuki mengatakan, sebagian warga di jaringan mereka sudah hidup di tengah genangan air laut.
Baca juga: Warga Pantura Minta Giant Sea Wall Jangan Cuma Untungkan Pemodal
Salah satu contohnya adalah warga di Dukuh Timbulsloko yang selama bertahun-tahun terdampak abrasi. “Dukuh Timbulsloko dan beberapa dukuh lain di Sayung sudah lama terabrasi, dan rumah-rumah warga yang bertahan sudah lama berada di atas air laut (disebut geladak),” kata Marzuki, Selasa (23/6/2026).
Kondisi itu membuat kehidupan warga semakin berat. Rumah-rumah yang masih bertahan kini berdiri di atas geladak, sementara air laut menjadi bagian dari keseharian mereka.
Terdampak Rob
Menurut ARMSD, saat rob datang, air laut bisa langsung masuk ke rumah warga. Tidak hanya itu, akses jalan di dalam dukuh juga kerap terdampak karena sebagian terbuat dari kayu geladak.
“Kalau air laut naik, air laut menggenangi lantai rumah warga. Kadang-kadang jalan dukuh, yang juga terbuat dari kayu geladak, terendam dan disapu oleh air laut,” ujarnya.
Dalam situasi seperti itu, ARMSD menilai warga saat ini hanya berusaha bertahan. Mereka khawatir kondisi akan semakin memburuk jika penanganan darurat terus tertunda.
Karena itu, organisasi tersebut meminta pemerintah tidak menjadikan Giant Sea Wall sebagai satu-satunya jawaban untuk persoalan pesisir. Menurut mereka, ada kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani.
Baca juga: Gus Yasin Sebut Giant Sea Wall Semarang Demak akan Dibikin Lebih Panjang, sampai Mana?
“Kasus-kasus darurat seperti Timbulsloko, dalam pandangan kami, perlu penanganan darurat dan cepat dari pemerintah, tidak perlu menunggu proyek Giant Sea Wall,” tegas Marzuki. ARMSD berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada wilayah-wilayah yang saat ini sudah mengalami dampak paling parah akibat abrasi dan rob.
Sulit membicarakan proyek raksasa yang baru akan dibangun, ketika ada warga yang setiap pagi membuka pintu rumah dan langsung disambut air laut. Sebab bagi mereka, rob tidak pernah menunggu rapat selesai ataupun proyek dimulai. (bae)

