BACAAJA, SEMARANG – Ideologi radikal tahu betul siapa yang harus dibidik. Bukan cuma orang dewasa, tapi anak-anak dan remaja yang lagi sibuk mencari identitas. Fase labil ini jadi pintu masuk paling empuk.
Prof Syamsul Ma’arif, Guru Besar UIN Walisongo, menyebut kondisi ini bukan kebetulan. Anak muda sedang butuh pengakuan, eksistensi, dan tempat merasa “dianggap”.
“Anak-anak ini potensial karena mereka sedang mencari identitas dan ruang eksistensi,” ujar Ketua FKPT Jateng periode 2020–2025, Jumat (2/12/2025) malam.
Bacaaja: Waspadai Modus Ini! Propaganda Teror Menyebar dari Medsos ke Grup Privat
Bacaaja: Hati-Hati! Jaringan Terorisme Sasar Anak-anak Lewat Game Online
Kelompok radikal membaca situasi itu dengan sangat jeli. Mereka tak langsung bicara ideologi keras. Yang ditawarkan lebih dulu justru rasa memiliki, solidaritas, dan peran penting di sebuah komunitas.
Narasinya dibungkus rapi dan kekinian. Isu-isu yang dekat dengan dunia anak muda diangkat, bahasanya santai, bahkan terasa membela. Perlahan, ideologi mulai disuntikkan.
Menurut Syamsul, inilah perebutan pengaruh yang sesungguhnya. Siapa yang lebih dulu diterima dan dipercaya anak, dialah yang menang.
“Ini perebutan ideologi. Siapa yang jadi rujukan, itulah yang akan diikuti,” jelas Ketua ISNU Kota Semarang itu.
Masalahnya, proses ini kini berlangsung di ruang digital yang nyaris tak terlihat. Media sosial, grup privat, sampai dunia gim jadi lahan subur. Semua berjalan tanpa tatap muka.
Kalau dulu radikalisasi butuh waktu bertahun-tahun, sekarang jauh lebih cepat. Teknologi mempercepat proses indoktrinasi.
Ahli Indonesia Knowledge Hub on Countering Terrorism and Violent Extremism (I-KHub) ini menilai, masyarakat sering terlambat menyadari.
Publik baru bereaksi saat kasus muncul. Padahal yang dibutuhkan justru pencegahan sejak awal.
Syamsul menekankan pentingnya membangun “imunitas” anak. Orang tua, sekolah, dan lingkungan harus hadir sebagai rujukan yang sehat, sebelum ideologi radikal mengambil alih peran itu.
“Jadi semuanya harus peduli dan menjadi pilar di komunitas masing-masing,” sarannya.
Jika ruang identitas anak dibiarkan kosong, kelompok radikal akan mengisinya. Dan ketika itu terjadi, ideologi berbahaya masuk tanpa terasa. Maka solusinya, ayo cegah sekarang. (bae)

