BACAAJA, SEMARANG– Pemkot Semarang makin serius menggarap Kampung Batik Rejomulyo. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan kawasan ini diproyeksikan jadi sentra batik ramah lingkungan sekaligus penguat identitas Batik Semarang.
Komitmen itu disampaikan Agustina saat meninjau langsung Kampung Batik Rejomulyo dalam rangkaian Temu Warga Lokal Semarang Timur, Minggu (25/1/2026).
Dalam kunjungannya, Agustina dibuat terkesan dengan sistem produksi batik yang sudah dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Fasilitas ini memungkinkan proses membatik menggunakan pewarna alam tanpa bikin lingkungan ketar-ketir.
Baca juga: Dari Balik Jeruji ke Catwalk: Batik Lapas Semarang Siap Naik Kelas
“Wah ini keren, di belakangnya ada IPAL. Jadi ini memang diniatkan untuk produksi batik dengan pewarna alam. Bukan cuma pakai pewarna biasa,” ujar Agustina.
Menurutnya, langkah tersebut jadi bukti kalau Kampung Batik Rejomulyo nggak sekadar jualan kain, tapi juga serius menjaga lingkungan tanpa meninggalkan nilai budaya.
Nggak berhenti di produksi, Kampung Batik Rejomulyo juga mulai melirik sisi sejarah. Para pelaku batik setempat bahkan menggagas kehadiran museum batik yang menampilkan replika Batik Semarang sejak era 1800-1900-an.
Nilai Tambah
Bagi Agustina, ide ini jadi nilai tambah yang bikin kawasan ini makin “berisi”, bukan cuma tempat belanja tapi juga tempat belajar. “Nantinya ada produk berkualitas selain UMKM batik yang sudah ada. Jadi ada upgrade, dari sisi pengetahuan sejarah sampai keahlian yang dimiliki,” jelasnya.
Ia menambahkan, revitalisasi Kampung Batik Rejomulyo yang dilakukan Pemkot Semarang sekaligus menjadi penanda 20 tahun kawasan tersebut dikembangkan sejak 2006.
Hasilnya, kawasan kini lebih tertata, ruang pamer lebih bersih, dan suasana lebih representatif untuk pengrajin maupun pengunjung. “Kalau dulu tempatnya agak kurang cantik, sekarang jadi luar biasa cantik. Ruang pamernya juga bersih,” kata Agustina.
Baca juga: Batik Buatan Warga Lapas Bikin Agustina Angkat Topi
Soal dampak ekonomi, Agustina menegaskan peran Pemkot bukan buat jualan batik, tapi memastikan kawasan ini nyaman dan layak dikunjungi. Targetnya jelas: wisatawan datang, belanja, lalu balik lagi.
“Tugas pemerintah kota itu meng-endorse. Supaya pelancong datang ke sini, belanja aman dan nyaman, lalu kembali lagi,” ujarnya.
Kalau dulu batik identik dengan pewarna pekat dan limbah ribet, Rejomulyo pengin bilang: batik bisa cantik tanpa bikin lingkungan sakit. Tinggal satu PR, wisatawan datang, dompet terbuka, dan batik Semarang makin punya cerita, bukan cuma motif. (tebe)


