BACAAJA, SEMARANG- Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Kota Semarang tak hanya menjadi panggung syiar Islam. Gelaran nasional tersebut juga membawa pesan tentang toleransi dan kebersamaan warga lintas agama.
Puncak partisipasi lintas umat beragama akan terlihat pada Sabtu (12/9/2026) melalui agenda Pancaran Ilahi Gema MTQ. Sebanyak 10.867 peserta dijadwalkan ikut menyanyikan Mars MTQ Nasional bersamaan dengan pembukaan MTQ.
Yang menarik, peserta tidak hanya berasal dari kalangan umat Islam. Ada ASN Kementerian Agama, ASN Pemkot Semarang, guru madrasah, santri, hingga perwakilan Guru Sekolah Minggu, Paroki Gereja Katolik, Wanita Katolik Republik Indonesia, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Wanita Hindu Dharma Indonesia, Peradah, Wandani, Patria, Majelis Buddhayana, Tempat Ibadah Tridarma, serta Walubi Kota Semarang.
Baca juga: 16 Duta Quran Semarang Siap Tempur di MTQ
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyambut baik keterlibatan tersebut. Menurutnya, kebersamaan umat Kristiani, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu dalam rangkaian MTQ justru menunjukkan wajah Semarang yang sebenarnya.
“MTQ Nasional XXXI ini adalah panggung bersama warga Kota Semarang. Saat saudara-saudara kita dari umat Kristiani, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Konghucu hadir dan ikut serta menyanyikan Mars MTQ Nasional, di situlah letak keindahan Kota Semarang yang sesungguhnya,” ujar Agustina saat Rapat Koordinasi Persiapan MTQ di Semarang.
Pesan Besar
Bagi Agustina, kebersamaan tersebut bukan sekadar seremoni untuk menyambut tamu dari berbagai daerah. Ada pesan lebih besar yang ingin ditunjukkan Semarang kepada Indonesia.
Yakni, toleransi bukan cuma tulisan manis di baliho atau slogan ketika ada acara besar. Toleransi harus terasa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika masyarakat dengan keyakinan berbeda bisa hadir dan saling mendukung dalam satu kegiatan.
Semangat itu nantinya juga berlanjut di Panggung Utama Lapangan Pancasila Simpang Lima selama rangkaian acara pada 13-18 September 2026. Berbagai kelompok masyarakat bakal ikut ambil bagian. Salah satunya Paduan Suara Akbar Kota Semarang yang beranggotakan 85 orang dan tampil pada Minggu (13/9/2026).
Kemudian pada Kamis (17/9), giliran Forum Perempuan Lintas Agama Kota Semarang dengan 40 anggota yang akan tampil. Panggung tersebut juga akan diisi berbagai pertunjukan lain, mulai dari Tari Ratoh Jaroe dari SMP Nasima, persembahan Dharma Wanita Persatuan Kota Semarang, Hadroh Rebana Anababa, hingga paduan suara Korpri Kota Semarang.
Baca juga: Semarang Bersiap Jadi Panggung MTQ Nasional 2026
Bagi Pemkot Semarang, keterlibatan banyak kelompok tersebut menjadi bagian dari keberhasilan kota sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXXI 2026. Bukan hanya soal bagaimana menyiapkan venue dan acara, tetapi juga bagaimana membuat seluruh warga merasa menjadi bagian dari gelaran nasional tersebut.
Pada akhirnya, MTQ di Semarang ingin meninggalkan lebih dari sekadar catatan tentang siapa yang menjadi juara. Ada pesan sosial yang ikut dibawa: bahwa kota yang beragam tetap bisa berdiri dalam satu barisan ketika kepentingan bersama ditempatkan di depan.
Lucunya, di tengah zaman ketika beda pilihan saja kadang cukup bikin orang saling unfollow, 10.867 orang dari berbagai keyakinan justru siap nyanyi bareng Mars MTQ. Mungkin memang sesederhana itu cara mengajarkan toleransi: nggak harus selalu sepakat, yang penting masih mau berdiri berdampingan. (tebe)

