BACAAJA, SEMARANG– Indonesia punya modal panjang untuk menjadi rujukan penilaian Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di tingkat internasional. Sejak 1969, MTQ terus digelar secara konsisten di Indonesia, dari tingkat daerah hingga nasional. Kini, pengalaman tersebut ingin dibawa ke level yang lebih tinggi.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong agar kualitas sistem penilaian MTQ di Indonesia terus diperkuat hingga bisa menjadi standar yang dirujuk secara internasional.
Hal itu disampaikan saat mengukuhkan Dewan Pengawas dan Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Grand Candi Hotel, Kota Semarang, Sabtu (12/9/2026).
Sebanyak 162 orang dikukuhkan dalam agenda tersebut. Mereka terdiri atas tujuh Dewan Pengawas, empat pimpinan Dewan Hakim, dan 151 anggota Dewan Hakim.
Menurut Nasaruddin, kualitas penjurian menjadi salah satu kunci keberhasilan MTQ. Sebagus apa pun penyelenggaraannya, kata dia, tetap bisa bermasalah jika proses penilaiannya tidak berjalan dengan baik. “Kali ini kita masuki suatu lembaran baru dunia perhakiman di dalam MTQ ini,” ujarnya.
Baca juga: Semarang Berubah Jadi Panggung Keberagaman Saat Pawai MTQ
Nasaruddin mendorong pelatihan dan pengembangan kapasitas hakim dilakukan secara berkelanjutan. Ia bahkan membayangkan adanya asosiasi internasional Dewan Hakim MTQ.
Gagasan tersebut dinilai relevan karena penyelenggaraan MTQ kini tidak hanya berkembang di negara-negara mayoritas muslim. Sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, juga telah menggelar kegiatan serupa.
Di titik inilah Indonesia dinilai punya keunggulan pengalaman. “MTQ ya patronnya adalah Indonesia. Tidak ada satu negara yang secara konsisten mulai dari tahun 1969 nonstop sampai hari ini, kita tetap melaksanakan MTQ,” kata Nasaruddin.
Frekuensi penyelenggaraan MTQ di Indonesia juga cukup tinggi. Dalam setahun, menurut Nasaruddin, ada sekitar 25 penyelenggaraan MTQ tingkat nasional yang digelar berbagai lembaga dan organisasi.
Mulai dari Korpri, lembaga pemasyarakatan, kepolisian, TNI, perguruan tinggi hingga BUMN. Artinya, Indonesia sebenarnya punya “laboratorium” penjurian yang berjalan hampir sepanjang tahun.
Standar Penilaian
Pengalaman tersebut perlu diikuti dengan standar penilaian yang semakin kuat. Apalagi, Indonesia juga kerap diminta mengirimkan hakim untuk menjadi juri dalam penyelenggaraan MTQ di luar negeri.
Karena itu, kaderisasi hakim, pelatihan berkelanjutan, dan penyusunan standar penilaian menjadi pekerjaan penting agar kapasitas Indonesia tidak berhenti di tingkat nasional.
Nasaruddin juga mengingatkan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Hakim harus punya integritas dan disiplin agar hasil penilaian tetap dipercaya.
Mereka diminta menghindari tindakan yang bisa memunculkan kecurigaan selama proses penjurian. “Teman-teman kita yang terbukti melakukan keluar daripada etika perhakiman, maka mungkin dipertimbangkan untuk kita tidak pakai lagi,” tegasnya.
Dewan Pengawas juga diminta aktif turun langsung memastikan proses penilaian berlangsung sesuai ketentuan. Pengawasan dilakukan dengan melihat kondisi di lokasi lomba dan mengidentifikasi hal-hal yang berpotensi mengganggu kualitas penilaian.
Baca juga: MTQ Nasional, Pemprov Siapkan 306 Nakes
Di balik ketatnya penilaian, Nasaruddin mengingatkan besarnya pengorbanan para Dewan Hakim yang bertugas. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai ahli, rektor dan wakil rektor, pendakwah, pelatih hingga dosen senior. Selama bertugas, mereka harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga.
Karena itu, ia meminta penghargaan terhadap para Dewan Hakim tidak dikurangi. Bahkan, Nasaruddin secara khusus meminta Gubernur Jateng memberikan penghargaan kepada mereka sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian selama MTQ Nasional. “Saya menghimbau kepada Pak Gubernur, mari kita berikan semacam penghargaan khusus para dewan hakim,” jelasnya.
Dalam pengukuhan tersebut, Dewan Pengawas dipimpin M Darwis Hude. Sementara Dewan Hakim diketuai Syibli Syarjaya dengan Ahmad Daroji sebagai wakil ketua.
Dari Semarang, pesan yang dibawa Nasaruddin cukup jelas. Indonesia punya tradisi panjang dalam MTQ. Tinggal satu pekerjaan besar: mengubah pengalaman panjang itu menjadi standar yang bisa dipakai dunia.
Kalau selama ini Indonesia dikenal rajin menggelar MTQ, sekarang targetnya bukan cuma rajin bikin lomba. Jangan sampai kita cuma jadi tuan rumah yang sibuk pasang panggung, tapi standar penilaiannya malah impor. (tebe)

