BACAAJA, SEMARANG — Di tengah dunia yang serba cepat dan digital, ada cerita-cerita yang tetap bertahan. Bukan karena kebetulan, tapi karena ada orang-orang yang memilih untuk menjaga.
Salah satunya datang dari sosok yang akrab disapa Mbah Prapto. Di usianya yang tak lagi muda, ia masih setia merawat budaya, sesuatu yang menurutnya mulai terasa jauh dari generasi sekarang.
Bagi Mbah Prapto, masalahnya bukan sekadar anak muda yang nggak kenal budaya. Tapi lebih ke mereka yang menjalani tanpa benar-benar memahami.
Bacaaja: Semarang Night Carnival 2026 Chaos: Diguyur Hujan Deras, Diiringi Banjir, Warga Kasih Sindiran Menohok
Bacaaja: Gelaran Semarang Night Carnival 2026 Dikalahkan Hujan, Penonton Auto Bubar Jalan
“Kalau cuma ikut-ikutan ritual tanpa tahu maknanya, ya selesai di situ saja,” ujarnya, Sabtu (02/05/2026).
Ia lalu bercerita soal Warak Ngendog, ikon khas Semarang yang sering muncul tiap menjelang Ramadan. Buat sebagian orang, Warak Ngendhog mungkin cuma simbol perayaan. Tapi di balik bentuknya yang unik, ada cerita panjang tentang pertemuan budaya.
Warak Ngendog, kata Mbah Prapto, adalah representasi akulturasi antara budaya Arab, Tionghoa, dan Jawa. Tiga latar belakang yang berbeda, tapi bisa hidup berdampingan dalam satu simbol.
Lebih dari itu, ada pesan yang lebih dalam. Tentang pengendalian diri, tentang menahan hawa nafsu, dan tentang kembali ke “fitrah”.
“Telur itu simbol kesucian. Kayak manusia yang kembali bersih setelah bisa mengendalikan diri,” jelasnya.
Di titik ini, budaya jadi bukan cuma soal tradisi. Tapi juga tentang nilai, yang kalau nggak dijaga, bisa pelan-pelan hilang.
Di sisi lain kota, cerita berbeda datang dari ruang latihan teater. Di sana, Nasrun M. Yunus mencoba memulai lagi sesuatu yang sempat redup: melatih aktor dari nol.
Menurutnya, tantangan di dunia teater sekarang cukup nyata. Minat anak muda masih ada, tapi sering kali nggak diiringi kesabaran.
“Banyak yang pengin langsung tampil. Padahal prosesnya panjang, dari olah napas, vokal, sampai penghayatan,” katanya.
Teater, buat Nasrun, bukan soal cepat tampil di panggung. Tapi soal perjalanan. Tentang latihan yang berulang, tentang jatuh-bangun, dan tentang proses yang nggak instan.
Masalahnya, di era sekarang, semua serba cepat. Hiburan juga berubah, lebih ringan, lebih instan, dan lebih mudah dicerna.
Di sinilah tantangannya: gimana bikin teater tetap relevan tanpa kehilangan rasa.
Nasrun percaya, kuncinya ada di inovasi. Menggabungkan unsur klasik dengan sentuhan modern, tanpa menghilangkan esensi.
Dua cerita ini mungkin datang dari dunia yang berbeda, budaya tradisional dan seni pertunjukan. Tapi keduanya punya keresahan yang sama: bagaimana cara tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Mbah Prapto menjaga lewat makna. Nasrun merawat lewat proses. Dan di antara keduanya, ada satu harapan yang sama, generasi muda nggak cuma jadi penonton, tapi juga penerus. Karena pada akhirnya, budaya bukan soal masa lalu. Tapi soal siapa yang mau membawanya ke masa depan. (dul)

