BACAAJA, SEMARANG- Penanganan banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Plumbon di Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, mulai masuk fase serius.
Nggak cuma tambal darurat, pemerintah pusat dan daerah sekarang mulai menyiapkan langkah jangka panjang supaya wilayah itu nggak langganan tenggelam tiap musim hujan. Kolaborasi itu melibatkan BNPB, Pemprov Jateng, Pemkot Semarang, sampai BBWS Pemali-Juana.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan titik tanggul yang jebol sudah ditutup sementara agar air tidak kembali masuk ke permukiman warga. “Langkah darurat sudah dilakukan. Setelah ini akan masuk penanganan permanen,” katanya saat meninjau lokasi banjir, Selasa (19/5/2026).
Baca juga: Tanggul Sungai Plumbon Jebol, Huntara Disiapkan
Masalahnya ternyata bukan cuma tanggul yang rapuh. Sungai Plumbon sendiri disebut sudah nggak sanggup lagi menampung debit air. Kepala BBWS Pemali-Juana Sudarto menjelaskan, kapasitas sungai makin menyempit, sementara kerusakan di wilayah hulu bikin aliran air makin liar saat hujan deras datang.
Karena itu solusi yang disiapkan bukan sekadar normalisasi biasa. “Sungai harus dilebarkan,” ujar Sudarto. Rencananya lebar Sungai Plumbon bakal diperbesar dari sekitar 10 meter menjadi 25 meter. Proyek normalisasi itu akan membentang sepanjang kurang lebih 22 kilometer.
Bukan pekerjaan kecil. Karena untuk melebarkan sungai, pemerintah harus melakukan pembebasan ratusan bidang lahan di bantaran sungai. BBWS mencatat dari total sekitar 318 bidang yang dibutuhkan, baru 92 bidang yang berhasil dibebaskan sejak 2024.
Pembangunan Huntara
Di sisi lain, pemerintah juga mulai memikirkan nasib warga terdampak banjir. BNPB menyiapkan pembangunan hunian sementara atau huntara bagi warga yang rumahnya sudah tidak aman dihuni.
Sementara warga yang memilih tinggal di rumah saudara bakal mendapat bantuan sewa hunian Rp600 ribu per bulan sampai rumah tetap selesai dibangun. “Nanti akan dibantu sampai hunian permanen selesai,” kata Suharyanto.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut, total ada 333 kepala keluarga atau sekitar 1.252 jiwa terdampak banjir di wilayah Tugu, Ngaliyan, dan Semarang Barat.
Baca juga: Soal Normalisasi Kali Plumbon, Pemkot Tunggu Pemerintah Pusat
Menurutnya, proses pembersihan lumpur pascabanjir berjalan cukup cepat berkat kerja gabungan BPBD, Damkar, DPU, dan BBWS. Meski begitu, pemerintah masih mendata rumah-rumah yang kemungkinan harus direlokasi permanen karena berada di titik rawan banjir.
“Kami masih menghitung mana yang harus direlokasi dan bagaimana penanganannya,” ujar Agustina. Data BBWS menunjukkan Sungai Plumbon sebenarnya sudah berkali-kali memberi “peringatan”. Dalam beberapa tahun terakhir tercatat tujuh kali banjir besar dengan total 18 titik tanggul jebol.
Dan mungkin itu inti masalahnya: banjir di Semarang bukan lagi sekadar bencana musiman, tapi alarm keras kalau sungai yang dipaksa sempit akhirnya memilih meluap. (tebe)

