BACAAJA, BLORA- Pemprov Jateng bareng Tim Penggerak PKK tancap gas mengawal kesehatan ibu hamil lewat program unik bernama Kencan Bumil alias Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil. Program itu resmi diluncurkan di Desa Nglangitan, Tunjungan, Blora, Selasa (19/5/2026).
Gerakan ini bukan sekadar seremoni gunting pita atau acara penuh spanduk motivasi. Fokusnya jelas: ngurangin stunting, menekan angka kematian ibu dan bayi, sampai memastikan ibu hamil nggak merasa “berjuang sendirian”.
Ketua TP PKK Jateng, Nawal Arafah Yasin bilang, momentum ini harus jadi titik balik supaya kasus kematian ibu dan bayi bisa ditekan lebih serius lagi. “Jangan sampai ibu hamil merasa sendirian menghadapi masa kehamilan,” kira-kira begitu pesan besar yang dibawa program ini.
Baca juga: Program Speling Jateng Sudah Layani 102 Ribu Warga
Menariknya, launching Kencan Bumil dibarengi dengan peluncuran Sistem Informasi Manajemen (SIM) PKK Jateng. Jadi pendampingan ibu hamil nantinya nggak cuma modal catatan buku kader atau kabar dari grup WhatsApp RT, tapi sudah mulai berbasis data dan pemetaan digital.
Lewat sistem itu, pemerintah dan kader bisa lebih cepat membaca kondisi di lapangan, menentukan prioritas, sampai mendeteksi kelompok rentan yang perlu perhatian ekstra. Dan ternyata, hasil kerja pendampingan selama ini mulai kelihatan.
Merujuk data Dinas Kesehatan Jateng menunjukkan angka kematian ibu turun dari 438 kasus pada 2023 menjadi 337 kasus di 2025. Sementara angka kematian bayi juga ikut melandai dari 4.612 kasus menjadi 3.650 kasus.
Persoalan Bumil
Meski trennya turun, Nawal mengingatkan pekerjaan rumahnya masih panjang. Sebab persoalan ibu hamil nggak cuma soal medis seperti hipertensi, perdarahan, atau infeksi. Banyak faktor lain yang ikut bermain, mulai dari ekonomi keluarga, pendidikan, sampai rendahnya literasi kesehatan.
Belum lagi kelompok rentan seperti ibu hamil disabilitas, korban kekerasan seksual, kehamilan usia anak, hingga ibu hamil dengan HIV yang sering luput dari perhatian.
Makanya, konsep program ini dibuat kolaboratif. Kader kesehatan, kader PKK, posyandu, tenaga medis, sampai keluarga diminta turun bareng jadi “tim pengawal” ibu hamil.
Baca juga: Kasus Kematian Ibu di Jateng Turun
Bahkan Nawal menegaskan konsep pendampingannya simpel tapi lumayan ngena: satu kader satu ibu hamil. “Yang dikawal bukan cuma pas hamil, tapi sampai nifas dan urusan administrasi bayi,” katanya.
Sementara itu Bupati Blora Arief Rohman memastikan, Pemkab Blora siap mendukung penuh program tersebut. Ia berharap sinergi pemerintah daerah dan PKK bisa bikin pelayanan kesehatan ibu dan anak makin terasa sampai level desa.
Dan mungkin memang begini realita hari ini, di tengah dunia yang makin ribut soal tren digital dan konten viral, masih ada ibu hamil yang butuh ditemani sekadar untuk memastikan dirinya dan bayinya bisa sama-sama pulang dengan selamat. (tebe)

