BACAAJA, SEMARANG – Kalau wong Semarang sudah misuh, anggota tubuh bisa ikut terseret. Mulai dari cangkem, rai, ndas, hingga mata, semuanya punya tempat tersendiri dalam umpatan sehari-hari yang kadang terdengar kasar, tetapi tak jarang justru mengundang tawa.
Fenomena unik ini diangkat akun TikTok @kampensemarang melalui konten yang membahas lima misuhe wong Semarang. Video tersebut mengajak audiens mengenali umpatan khas yang sering digunakan ketika kesal, jengkel, atau sekadar bercanda dengan teman.
Dalam konten itu, kreator mengurutkan sejumlah umpatan berdasarkan anggota tubuh yang disebut.
Bacaaja: Dialek Semarangan Sangat Egaliter, “Ndasmu” Pun Dianggap Wajar
Urutan kelima adalah cangkemmu, yang biasanya digunakan untuk menyentil orang yang dianggap terlalu banyak bicara atau omongannya tidak karuan.
“Cangkemmu ki sing genah,” menjadi salah satu contoh celetukan untuk menegur lawan bicara.
Berikutnya, ada raimu atau wajah. Umpatan ini biasanya muncul ketika seseorang dianggap merebut pacar orang lain.
“Raimu ki rak bagus ngrebut-ngrebut pacarku, tak jotosi sane,” demikian contoh kalimat yang disampaikan kreator.
Di urutan ketiga, ada ndasmu atau kepala. Kata ini biasanya digunakan ketika seseorang merasa ditantang atau diajak bersenggolan.
Sementara itu, matamu berada di urutan kedua. Umpatan ini ditujukan kepada orang yang dianggap tidak tahu diri atau melakukan sesuatu yang keterlaluan.
“Matamu ki picek, kok ngerti nggone kancane mbok ubah deweik,” menjadi salah satu contoh celetukan dalam video tersebut.
Namun, daftar ini belum lengkap. Kreator justru meminta warganet ikut menentukan umpatan yang menempati posisi pertama.
“Sing pertama ki tulung ngisi ditulung komentar ya, kira-kira wong Semarang yen misuh ki piye dan alasan apa wonge ki misuh ya,” ujar kreator di akhir vidio.
Ajakan tersebut rupanya mendapat respons dari warganet. Akun @zem turut menambahkan umpatan “tekkeee” yang disertai emoji tertawa.
Sementara itu, akun @shaf_fera ikut menanggapi dengan komentar singkat, “sering krungu kakeane”.
Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa umpatan khas Semarang memiliki banyak variasi yang akrab di telinga masyarakat, bahkan terkadang berbeda-beda tergantung lingkungan pergaulan.
Meski terdengar kasar, misuh dalam percakapan sehari-hari tak selalu bermakna marah. Dalam situasi tertentu, kata-kata tersebut justru menjadi bagian dari candaan dan keakraban antarteman. Tentu saja, penggunaannya tetap bergantung pada situasi dan lawan bicara.
Nah, menurut sobat bacaaja.co, apa misuh paling khas wong Semarang yang belum masuk daftar ini? Apa benar “tekkeee” layak jadi juara, atau ada umpatan lain yang lebih legendaris?. (dul)

