BACAAJA, SEMARANG – Buat Dwi Wulandari, kerja bersih-bersih bukan cuma urusan rumah jadi kinclong. Di balik pel, sapu, dan lap, ada cerita tentang bertahan hidup, ngatur waktu, dan cari jalan aman buat tetap bisa menghidupi keluarga.
Sebelum terjun ke dunia jasa bersih-bersih berbasis aplikasi, hidup Mbak Dwi sempat berjalan di jalur yang berbeda. Ia pernah bekerja sebagai admin gudang hampir sepuluh tahun.
Setelah menikah dan punya anak, ia memilih berhenti kerja dan fokus di rumah. Semuanya berubah saat sang suami meninggal dunia.
Bacaaja: Dari Jasa Bersih-bersih Lewat Aplikasi, Mbak Dwi Punya Segudang Cerita
Bacaaja: Cerita dari Semarang: ketika Sapu Migarasi ke Smartphone, Jasa Bersih-bersih go Digital
“Setelah suami meninggal, mau enggak mau saya harus putar otak cari uang,” cerita Mbak Dwi di podcast Kerjo Aneh-Aneh Bacaajadotco.
Masalahnya, cari kerja lagi nggak segampang itu. Faktor usia bikin peluang balik ke pabrik makin kecil.
Kerja dengan jam panjang juga bukan pilihan, karena Mbak Dwi tetap harus ngurus rumah dan memastikan anak-anaknya terpantau.
Di titik itu, kerja bersih-bersih lewat aplikasi jadi opsi paling masuk akal. Mbak Dwi bergabung dengan Rewangono, platform jasa kebersihan rumah.
Sistemnya simpel. Kalau ada order masuk, admin bakal ngabarin lengkap dengan lokasi dan durasi kerja. Mbak Dwi tinggal pilih: ambil atau skip.
“Kalau jamnya nggak cocok, ya saya bilang nggak bisa. Kalau cocok, langsung jalan,” ujarnya.
Buat Mbak Dwi, fleksibilitas ini jadi kunci. Ia biasa mulai kerja setelah mengantar anak sekolah, lalu membatasi jam kerja supaya masih bisa pulang lebih awal. Nggak ada tuntutan harus standby seharian, nggak ada target jam kantor.
Soal penghasilan, Mbak Dwi sadar ini bukan kerjaan yang bikin cepat kaya. Tapi cukup buat muter kebutuhan harian. Yang paling bikin tenang, upahnya jelas dan cepat cair.
“Alhamdulillah cukup buat kebutuhan sehari-hari. Yang penting bisa jalan terus,” katanya.
Sebagai pekerja lepas, Mbak Dwi paham betul risikonya. Ada hari rame order, ada juga hari sepi. Tapi dibanding harus kerja dengan jam kaku dan ninggalin anak terlalu lama, sistem fleksibel jauh lebih berharga.
Buat Mbak Dwi, kerja bukan soal besar kecilnya penghasilan. Yang penting, hidup tetap jalan, anak tetap keurus, dan dirinya masih punya ruang buat bernapas. (dul)


