Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kekeringan Mengintai: Kota dan Desa Sama-Sama Terancam
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Kekeringan Mengintai: Kota dan Desa Sama-Sama Terancam

T. Budianto
Last updated: Juni 30, 2026 7:22 pm
By T. Budianto
5 Min Read
Share
Ilustrasi: Kekeringan di Jawa Tengah. (Foto: Ist)
SHARE

Tajuk Rencana

 

MUSIM kemarau di Jateng bukan lagi sekadar pergantian musim. Ia telah menjadi alarm tahunan yang mengingatkan bahwa persoalan air bersih, ketahanan pangan, hingga kelestarian lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Tahun ini, ketika musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang, ancaman kekeringan kembali membayangi banyak daerah. Yang memprihatinkan, persoalan tersebut tidak hanya terjadi di wilayah pedesaan, tetapi juga mulai mengintai kawasan perkotaan.

Kota Semarang menjadi contoh nyata. Sebagai ibu kota Provinsi Jateng dengan perkembangan infrastruktur yang pesat, Semarang ternyata masih menyimpan kerentanan terhadap krisis air bersih.

Hampir setiap musim kemarau, warga di kawasan perbukitan seperti Gunungpati, Mijen, Ngaliyan, Tembalang, Banyumanik hingga sebagian wilayah Genuk dan Tugu harus menghadapi penurunan debit sumber air maupun terbatasnya pasokan air bersih. Tidak sedikit warga yang mengandalkan bantuan air dari pemerintah maupun pihak swasta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Fenomena tersebut menjadi ironi. Di satu sisi, Semarang terus tumbuh sebagai kota metropolitan dengan pembangunan kawasan permukiman, industri, dan pusat ekonomi yang semakin pesat.

Namun di sisi lain, masih ada masyarakat yang harus mengantre jeriken demi mendapatkan air bersih ketika kemarau tiba. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan fisik belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan ketahanan sumber daya air.

Persoalan di Semarang sejatinya merupakan gambaran kecil dari tantangan yang dihadapi Jateng. Kabupaten Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Wonogiri, Sragen, Boyolali, Klaten, Kebumen, Purworejo hingga Cilacap hampir setiap tahun masuk dalam daftar wilayah rawan kekeringan. Di daerah-daerah tersebut, dampaknya jauh lebih luas karena menyentuh sektor pertanian, peternakan, hingga ketersediaan air baku bagi masyarakat.

Bagi petani, kemarau panjang berarti ancaman gagal panen. Lahan sawah kehilangan pasokan air, biaya produksi meningkat, sementara hasil panen belum tentu mampu menutup kerugian. Apabila kondisi ini terus berulang, ketahanan pangan daerah juga akan ikut terancam.

Tidak berhenti di situ, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi yang mengering menjadi bahan bakar alami yang mudah terbakar, terutama di kawasan perbukitan dan hutan jati yang banyak tersebar di Jateng.

Perubahan Iklim

Kebakaran tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengurangi kemampuan kawasan hutan dalam menyimpan air, sehingga memperburuk kekeringan pada musim berikutnya.

Perubahan iklim memperbesar tantangan tersebut. Curah hujan yang semakin tidak menentu, suhu udara yang terus meningkat, serta berkurangnya kawasan resapan air membuat siklus kekeringan menjadi semakin kompleks. Air hujan yang turun dalam intensitas tinggi sering kali langsung mengalir ke laut karena minimnya daerah tangkapan air, sementara saat kemarau tiba cadangan air tidak lagi mencukupi.

Karena itu, penanganan kekeringan tidak boleh berhenti pada distribusi bantuan air bersih. Langkah tersebut memang penting sebagai respons darurat, tetapi belum menyelesaikan akar persoalan.

Pemerintah perlu memperkuat pembangunan embung, waduk, sumur resapan, sistem pemanenan air hujan, serta mempercepat rehabilitasi kawasan hulu yang menjadi sumber mata air.

Khusus bagi Kota Semarang, upaya menjaga kawasan resapan di wilayah selatan harus menjadi prioritas. Alih fungsi lahan di kawasan perbukitan perlu dikendalikan agar kemampuan tanah menyerap air tidak semakin menurun.

Pengelolaan air tanah juga harus dilakukan secara bijak sehingga kebutuhan pembangunan tidak mengorbankan keberlanjutan sumber daya air. Masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang sama besar.

Menghemat penggunaan air, membuat sumur resapan, memanen air hujan, menjaga ruang terbuka hijau, hingga tidak membuang sampah ke sungai merupakan langkah sederhana yang dapat memperkuat ketahanan air di lingkungan masing-masing.

Kekeringan bukan lagi ancaman yang hanya terjadi di pelosok desa. Kini ia hadir di sekitar kita, bahkan di kota sebesar Semarang. Karena itu, sudah saatnya semua pihak memandang air sebagai aset strategis yang harus dijaga bersama.

Jateng membutuhkan kebijakan yang tidak hanya mampu merespons krisis ketika kemarau datang, tetapi juga membangun sistem pengelolaan air yang tangguh, berkelanjutan, dan mampu menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan. Jangan sampai setiap musim kemarau kita hanya sibuk membagikan air bersih, sementara akar persoalan terus dibiarkan mengering bersama waktu. (*)

You Might Also Like

Dari TPS ke Taman: Karangsaru Nggak Mau Lagi Bau

Naikin Gaji ASN, Prabowo Main Aman atau Efisien?

Pemkot Jemput Warga Mudik Lebaran

Banjir Ganas di Pakistan: Ratusan Nyawa Melayang, 200 Orang Masih Hilang

Trans Semarang Udah Lumayan, tapi Halte Perlu Diperbanyak

TAGGED:headlinekekeringan jatengpemkot semarangpemprov jateng
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article SUARAKAN KERESAHAN - Aktivis PMKRI Jateng-DIY, Natael Bremana, menyampaikan aspirasi dan kerasahan yang dirasakan mahasiswa dan rakyat kecil terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, saat mengikuti demonstrasi di Jakarta, pada 13 Juni 2026. (*) Natael PMKRI Sebut Negara Lagi Gak Baik-baik Saja: Anggaran Jumbo, Hidup Rakyat Makin Berat
Next Article Dalih Buat Keponakan, Obat Keras di Bojonegoro Malah Berujung Kasus Aborsi

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Bejatnya Psikolog Gadungan, Tipu dan Cabuli Korban di Hotel Semarang

Kemarau Datang, BPBD Jateng Siaga Salurkan Air Bersih ke Warga

Sumarno Ingin Trail Run Menyebar ke Seluruh Jateng

Kekeringan Mengintai, Ada Wilayah Jateng Dua Bulan Nggak Hujan

Widodo Buka Jalan Talenta Lokal Masuk PSIS

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Mahasiswa Semarang Raya menggelar aksi demonstrasi, pada Kamis (9/4/2026), mengutuk teror air keras terhadap Andrie Yunus dan menolak kasus tersebut disidangkan di peradilan militer. (dul)
Info

Demo Panas di DPRD Jateng! Mahasiswa Soroti Kasus Andrie Yunus, Tolak Peradilan Militer

April 9, 2026
Peta jalur rel Kedungjati-Tuntang dan kolase foto kondisi stasiun era dulu. (ist)
Info

Reaktivasi Jalur Kereta Api Kedungjati-Tuntang Paling Mungkin Direalisasikan, Asalkan. . .

April 27, 2026
Plesir

Kemenpar Dorong Shiva Festival Naik Level Nasional

Februari 17, 2026
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Info

Gus Dur Jadi Pahlawan Bukan karena Pernah Jadi Presiden!

November 11, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kekeringan Mengintai: Kota dan Desa Sama-Sama Terancam
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?