BACAAJA, SEMARANG – Terapi bayi dengan kelainan kaki bawaan lahir atau Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) membutuhkan waktu yang tak sebentar. Butuh kesabaran dan ketelatenan ekstra.
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Kapolda Jateng) Irjen Pol Ribut Hari Wibowo mengunjungi RS PKU Muhammadiyah Karanganyar, Senin (21/9/2026). Kedatangan Irjen Ribut memberi suntikan semangat untuk para orang tua yang mendampingi terapi anak penderita kaki pengkor.
Dalam kunjungan tersebut, Ribut melihat langsung pemeriksaan sejumlah pasien CTEV di Ruang Badan Pengawas Harian (BPH). Setelah itu, ia menemui para orang tua pasien di Aula KH Sudja’. Di sana, Kapolda mendengarkan cerita para orang tua yang selama ini mendampingi anak mereka menjalani proses terapi.
“Kami ingin para orang tua tidak merasa sendiri dalam mendampingi anak-anaknya. Tetap semangat, sabar, dan ikuti proses pengobatan sesuai anjuran tenaga medis,” ujar Ribut.
Bacaaja: Kapolda Ribut Jenguk Anak Penderita CTEV di RS Bhayangkara Semarang, Ada 88 Kasus Terdata
Bacaaja: Sindikat Pig Butchering Rp41 Miliar, Polda Jateng Limpahkan 38 Tersangka ke Kejari Sukoharjo
Salah satu orang tua pasien, Wahyu Darmaji, mengaku terharu dengan perhatian tersebut. Warga Dungsari, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih itu merupakan ayah dari Revi, salah satu bayi yang masih menjalani terapi CTEV.
Menurut Wahyu, kehadiran Kapolda dan dukungan yang diberikan menjadi tambahan semangat bagi keluarganya.
“Bagi kami, perhatian seperti ini sangat berarti dan membuat kami semakin kuat untuk mendampingi anak menjalani terapi,” katanya.
Tak hanya bertemu pasien dan keluarga, Polda Jateng juga memberikan bantuan sosial kepada para orang tua pasien.
Dalam kegiatan tersebut, terdapat delapan bayi penderita CTEV dari sejumlah wilayah di Kabupaten Karanganyar yang mendapat perhatian. Usia mereka masih bayi hingga di bawah satu tahun.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Yuliyanto mengatakan proses penanganan CTEV membutuhkan kesabaran. Sebab, kondisi dan tahapan terapi setiap anak tidak selalu sama.
“Yang terpenting adalah memastikan anak mendapatkan penanganan dari tenaga medis serta pendampingan keluarga secara berkelanjutan,” ujarnya.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa proses pengobatan anak bukan hanya membutuhkan penanganan medis, tetapi juga dukungan keluarga dan lingkungan agar orang tua tetap kuat mendampingi buah hati mereka. (*)

