BACAAJA, JAKARTA – Warga di Pulau Jawa sepertinya masih perlu bersahabat dengan payung dan jas hujan. Dalam sepekan ke depan, hujan diperkirakan masih mengguyur sejumlah daerah dengan intensitas ringan hingga sedang. Namun, ada satu wilayah yang perlu memberi perhatian ekstra karena berpotensi mengalami hujan lebat, yakni Jawa Barat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa peningkatan intensitas hujan bisa terjadi secara lokal. Kondisi atmosfer yang mendukung, ditambah pasokan uap air dan pertemuan angin, dapat memicu terbentuknya awan hujan lebih banyak.
Prakirawan Meteorologi Publik BMKG, Agus Salim, mengatakan potensi hujan signifikan masih perlu diwaspadai selama beberapa hari mendatang. Perubahan kondisi atmosfer juga bisa membuat intensitas dan sebaran hujan berbeda di setiap wilayah.
“Selama sepekan ke depan, hujan dengan intensitas signifikan secara lokal berpotensi terjadi apabila peningkatan suplai uap air didukung kondisi atmosfer yang labil dan konvergensi angin,” kata Agus Salim kepada Kompas.com, Sabtu (31/10/2026).
Jawa Barat Masuk Wilayah yang Perlu Diwaspadai
Berdasarkan prakiraan BMKG, sebagian wilayah Pulau Jawa berpeluang mengalami hujan ringan hingga sedang. Sementara itu, Jawa Barat menjadi daerah yang memiliki potensi hujan dengan intensitas lebih tinggi.
Agus menjelaskan, meningkatnya pasokan uap air menjadi salah satu faktor yang mendukung pembentukan awan hujan. Risiko tersebut bisa semakin besar ketika atmosfer berada dalam kondisi labil dan terjadi konvergensi atau pertemuan angin.
Meski begitu, hujan lebat tidak hanya dipengaruhi satu faktor. Intensitas maupun luas wilayah yang diguyur hujan sangat bergantung pada interaksi berbagai dinamika atmosfer.
Beberapa faktor yang ikut menentukan kondisi cuaca antara lain pola angin, tingkat kelembapan udara, aktivitas gelombang atmosfer, hingga suhu permukaan laut di sekitar Indonesia.
“Namun, peningkatan intensitas dan sebaran hujan tetap bergantung pada interaksi berbagai dinamika atmosfer di wilayah tersebut,” ujarnya.
Fenomena Atmospheric River Ikut Dipantau
Selain memantau kondisi atmosfer regional, BMKG juga mencermati kemungkinan pengaruh fenomena atmospheric river (AR) yang berada di sekitar Australia terhadap peningkatan hujan di Pulau Jawa.
Fenomena ini dikenal sebagai jalur sempit di atmosfer yang membawa uap air dalam jumlah besar. Jika aliran uap air tersebut bergerak menuju Indonesia, peluang terbentuknya awan hujan bisa ikut meningkat.
Agus mengatakan, BMKG masih membutuhkan analisis lebih lanjut untuk memastikan apakah fenomena tersebut benar-benar berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di Jawa.
“BMKG masih perlu melakukan analisis lebih lanjut untuk memastikan keterkaitan fenomena Atmospheric River (AR) di sekitar Australia dengan peningkatan hujan di Pulau Jawa,” katanya.
Menurut Agus, pengaruh atmospheric river terhadap cuaca Indonesia bergantung pada arah pergerakan jalur uap air dan interaksinya dengan pola angin regional.
“Apabila jalur transportasinya mengarah ke Indonesia dan berinteraksi dengan pola angin regional, kondisi tersebut dapat meningkatkan kelembapan udara serta mendukung pembentukan awan hujan,” jelasnya.
Proses pembentukan hujan juga bisa semakin kuat ketika terjadi pertemuan angin, atmosfer labil, serta pengaruh kondisi geografis atau topografi suatu wilayah.
BMKG pun masih memantau perkembangan fenomena tersebut, termasuk berapa lama dampaknya bisa memengaruhi cuaca di Pulau Jawa. Durasi pengaruhnya belum bisa dipastikan karena sangat bergantung pada perubahan kondisi atmosfer dan pola angin regional.
Dengan potensi hujan yang masih cukup luas, masyarakat di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan hujan lebat dan dampak ikutannya. (*)

