BACAAJA, JAKARTA – Tanah yang dipijak jutaan warga kota besar ternyata terus bergerak turun secara perlahan. Jakarta, New York, Roma, hingga Mexico City masuk dalam deretan kota dunia yang menghadapi persoalan penurunan permukaan tanah atau land subsidence. Jika dibiarkan, maka kondisi ini bisa mengancam bangunan, infrastruktur transportasi, hingga memperparah banjir.
Ancaman tersebut bukan sekadar persoalan satu atau dua wilayah. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Cities mengungkap bahwa penurunan tanah sudah menjadi masalah perkotaan berskala global.
Para ilmuwan pun mengingatkan pemerintah kota agar tidak menunggu sampai dampaknya semakin parah. Tokyo di Jepang serta Beijing di China menjadi contoh kota yang berhasil menekan laju penurunan tanah melalui kebijakan pengelolaan air tanah.
“Ini bukan sekadar fenomena lokal untuk sebagian kecil kota, melainkan masalah perkotaan global,” ujar geofisikawan University of Houston, Guoquan Wang, salah satu penulis penelitian tersebut, dikutip dari Scientific American, Sabtu (31/10/2026).
Satelit Bongkar Masalah Amblesnya Kota Dunia
Untuk mengetahui seberapa luas persoalan ini, para peneliti menggunakan teknologi radar satelit guna memantau 465 kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa.
Pengamatan dilakukan selama periode 2014 hingga 2023. Teknologi tersebut mampu mendeteksi perubahan permukaan tanah secara bertahap, bahkan ketika pergeserannya hanya mencapai hitungan milimeter.
Caranya dengan membandingkan gambar radar dari wilayah yang sama dalam rentang waktu berbeda. Ketika permukaan tanah bergerak turun, waktu tempuh sinyal radar yang dipantulkan kembali ke satelit ikut mengalami perubahan.
Penelitian ini memetakan area-area kecil dengan ukuran hanya selebar beberapa rumah. Hasilnya memberikan gambaran lebih detail mengenai kawasan mana yang mengalami penurunan tanah paling cepat.
Geofisikawan University of California, Berkeley, Roland Burgmann, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai riset ini sebagai salah satu pemetaan paling menyeluruh dan sistematis mengenai penurunan tanah di kawasan perkotaan.
“Ini adalah eksplorasi penurunan tanah di kota-kota urban yang paling komprehensif dan sistematis,” katanya.
Data penelitian menunjukkan penurunan tanah paling serius banyak ditemukan di Asia Tenggara, Asia Barat dan Tengah, serta Amerika Utara. Fenomena serupa juga terdeteksi di Amerika Selatan dan Afrika.
Menariknya, hampir separuh kota yang masuk dalam kumpulan data penelitian tersebut belum pernah mendapatkan kajian penurunan tanah menggunakan radar satelit sebelumnya.
Bukan Cuma Jakarta, Banyak Kota Ikut Terancam
Penyebab penurunan tanah ternyata tidak selalu sama di setiap kota. Di New York, misalnya, bobot bangunan yang sangat besar ikut menekan lapisan tanah lunak di bawahnya.
Namun, pemicu utama yang banyak ditemukan di berbagai kawasan perkotaan adalah pengambilan air tanah secara berlebihan.
Aktivitas pemompaan air tanah oleh perusahaan penyedia air bersih, industri, dan berbagai kelompok pengguna lainnya dapat mengurangi tekanan yang menopang lapisan tanah di bawah permukaan.
Ketika air tanah terus disedot, lapisan tanah perlahan mengalami pemadatan dan permukaan di atasnya ikut turun.
Masalahnya, penurunan tanah tidak selalu berlangsung secara merata. Ada kawasan yang ambles lebih cepat dibandingkan wilayah di sekitarnya.
Kondisi inilah yang justru dinilai paling berbahaya. Perbedaan kecepatan penurunan tanah dapat memunculkan tekanan dan regangan pada struktur bangunan maupun infrastruktur.
Dalam jangka panjang, dampaknya bisa berupa retaknya fondasi gedung, rusaknya saluran pembuangan limbah, hingga terganggunya sistem kereta bawah tanah.
Risiko banjir juga bisa semakin besar karena perubahan elevasi permukaan tanah membuat sejumlah kawasan semakin rentan tergenang.
Tokyo dan Beijing Berhasil Menekan Penurunan Tanah
Meski penurunan tanah yang sudah terjadi sulit dikembalikan seperti semula, para ilmuwan menilai pemerintah masih punya kesempatan untuk menghentikan proses tersebut agar tidak semakin parah.
Tokyo menjadi salah satu contoh keberhasilan pengendalian penurunan tanah. Ibu kota Jepang itu pernah mengalami amblesan jauh lebih cepat dibandingkan banyak kota besar saat ini.
Pemerintah setempat kemudian menerapkan aturan ketat terhadap pengambilan air tanah. Mereka juga mengalihkan kebutuhan air ke sumber alternatif, terutama air permukaan.
Kebijakan tersebut berhasil menekan laju penurunan tanah yang sebelumnya menjadi persoalan serius.
Langkah serupa dilakukan Beijing dan Tianjin di China. Kedua kota tersebut mengurangi pemompaan air tanah dan menggantinya dengan pasokan air permukaan yang dialirkan dari daerah aliran Sungai Yangtze.
Perubahan kebijakan itu membuat penurunan tanah di sejumlah kawasan berhasil dihentikan.
Guoquan Wang mengingatkan bahwa dampak penurunan tanah bersifat akumulatif. Artinya, kerusakan yang sudah terjadi tidak mudah dipulihkan meskipun aktivitas pemicunya berhasil dikendalikan.
“Penurunan tanah itu bersifat kumulatif dan sebagian besar tidak dapat dipulihkan,” kata Wang.
Pemerintah Diminta Jangan Menunggu Kerusakan Meluas
Geosaintis Virginia Tech, Manoochehr Shirzaei, yang juga menjadi penelaah sejawat penelitian tersebut, menilai pemerintah kota perlu bergerak lebih cepat menghadapi ancaman penurunan tanah.
Menurutnya, pengalaman Tokyo seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kota-kota lain, termasuk kawasan perkotaan yang saat ini mengalami amblesan cukup serius.
“Tokyo pernah ambles jauh lebih cepat daripada banyak kota saat ini,” ujar Shirzaei.
Dia menilai sebagian besar kota sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk melakukan pencegahan sebelum kerusakan semakin meluas.
“Di sebagian besar tempat, kita memiliki banyak waktu untuk bereaksi, tetapi kita harus melakukannya,” tambahnya.
Temuan ini menjadi peringatan bagi kota-kota besar dunia bahwa persoalan penurunan tanah tidak cukup ditangani dengan memperbaiki bangunan atau infrastruktur yang rusak.
Pengendalian pengambilan air tanah, penyediaan sumber air alternatif, serta pemantauan permukaan tanah secara berkala menjadi langkah penting agar kota tidak terus ambles dari tahun ke tahun. (*)

