Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Jakarta Terancam Ambles, Tokyo dan Beijing Punya Jurus Jitu
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Jakarta Terancam Ambles, Tokyo dan Beijing Punya Jurus Jitu

Nugroho P.
Last updated: November 1, 2026 4:01 pm
By Nugroho P.
6 Min Read
Share
Jakarta.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Tanah yang dipijak jutaan warga kota besar ternyata terus bergerak turun secara perlahan. Jakarta, New York, Roma, hingga Mexico City masuk dalam deretan kota dunia yang menghadapi persoalan penurunan permukaan tanah atau land subsidence. Jika dibiarkan, maka kondisi ini bisa mengancam bangunan, infrastruktur transportasi, hingga memperparah banjir.

Contents
Satelit Bongkar Masalah Amblesnya Kota DuniaBukan Cuma Jakarta, Banyak Kota Ikut TerancamTokyo dan Beijing Berhasil Menekan Penurunan TanahPemerintah Diminta Jangan Menunggu Kerusakan Meluas

Ancaman tersebut bukan sekadar persoalan satu atau dua wilayah. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Cities mengungkap bahwa penurunan tanah sudah menjadi masalah perkotaan berskala global.

Para ilmuwan pun mengingatkan pemerintah kota agar tidak menunggu sampai dampaknya semakin parah. Tokyo di Jepang serta Beijing di China menjadi contoh kota yang berhasil menekan laju penurunan tanah melalui kebijakan pengelolaan air tanah.

“Ini bukan sekadar fenomena lokal untuk sebagian kecil kota, melainkan masalah perkotaan global,” ujar geofisikawan University of Houston, Guoquan Wang, salah satu penulis penelitian tersebut, dikutip dari Scientific American, Sabtu (31/10/2026).

Satelit Bongkar Masalah Amblesnya Kota Dunia

Untuk mengetahui seberapa luas persoalan ini, para peneliti menggunakan teknologi radar satelit guna memantau 465 kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa.

Pengamatan dilakukan selama periode 2014 hingga 2023. Teknologi tersebut mampu mendeteksi perubahan permukaan tanah secara bertahap, bahkan ketika pergeserannya hanya mencapai hitungan milimeter.

Caranya dengan membandingkan gambar radar dari wilayah yang sama dalam rentang waktu berbeda. Ketika permukaan tanah bergerak turun, waktu tempuh sinyal radar yang dipantulkan kembali ke satelit ikut mengalami perubahan.

Penelitian ini memetakan area-area kecil dengan ukuran hanya selebar beberapa rumah. Hasilnya memberikan gambaran lebih detail mengenai kawasan mana yang mengalami penurunan tanah paling cepat.

Geofisikawan University of California, Berkeley, Roland Burgmann, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai riset ini sebagai salah satu pemetaan paling menyeluruh dan sistematis mengenai penurunan tanah di kawasan perkotaan.

“Ini adalah eksplorasi penurunan tanah di kota-kota urban yang paling komprehensif dan sistematis,” katanya.

Data penelitian menunjukkan penurunan tanah paling serius banyak ditemukan di Asia Tenggara, Asia Barat dan Tengah, serta Amerika Utara. Fenomena serupa juga terdeteksi di Amerika Selatan dan Afrika.

Menariknya, hampir separuh kota yang masuk dalam kumpulan data penelitian tersebut belum pernah mendapatkan kajian penurunan tanah menggunakan radar satelit sebelumnya.

Bukan Cuma Jakarta, Banyak Kota Ikut Terancam

Penyebab penurunan tanah ternyata tidak selalu sama di setiap kota. Di New York, misalnya, bobot bangunan yang sangat besar ikut menekan lapisan tanah lunak di bawahnya.

Namun, pemicu utama yang banyak ditemukan di berbagai kawasan perkotaan adalah pengambilan air tanah secara berlebihan.

Aktivitas pemompaan air tanah oleh perusahaan penyedia air bersih, industri, dan berbagai kelompok pengguna lainnya dapat mengurangi tekanan yang menopang lapisan tanah di bawah permukaan.

Ketika air tanah terus disedot, lapisan tanah perlahan mengalami pemadatan dan permukaan di atasnya ikut turun.

Masalahnya, penurunan tanah tidak selalu berlangsung secara merata. Ada kawasan yang ambles lebih cepat dibandingkan wilayah di sekitarnya.

Kondisi inilah yang justru dinilai paling berbahaya. Perbedaan kecepatan penurunan tanah dapat memunculkan tekanan dan regangan pada struktur bangunan maupun infrastruktur.

Dalam jangka panjang, dampaknya bisa berupa retaknya fondasi gedung, rusaknya saluran pembuangan limbah, hingga terganggunya sistem kereta bawah tanah.

Risiko banjir juga bisa semakin besar karena perubahan elevasi permukaan tanah membuat sejumlah kawasan semakin rentan tergenang.

Tokyo dan Beijing Berhasil Menekan Penurunan Tanah

Meski penurunan tanah yang sudah terjadi sulit dikembalikan seperti semula, para ilmuwan menilai pemerintah masih punya kesempatan untuk menghentikan proses tersebut agar tidak semakin parah.

Tokyo menjadi salah satu contoh keberhasilan pengendalian penurunan tanah. Ibu kota Jepang itu pernah mengalami amblesan jauh lebih cepat dibandingkan banyak kota besar saat ini.

Pemerintah setempat kemudian menerapkan aturan ketat terhadap pengambilan air tanah. Mereka juga mengalihkan kebutuhan air ke sumber alternatif, terutama air permukaan.

Kebijakan tersebut berhasil menekan laju penurunan tanah yang sebelumnya menjadi persoalan serius.

Langkah serupa dilakukan Beijing dan Tianjin di China. Kedua kota tersebut mengurangi pemompaan air tanah dan menggantinya dengan pasokan air permukaan yang dialirkan dari daerah aliran Sungai Yangtze.

Perubahan kebijakan itu membuat penurunan tanah di sejumlah kawasan berhasil dihentikan.

Guoquan Wang mengingatkan bahwa dampak penurunan tanah bersifat akumulatif. Artinya, kerusakan yang sudah terjadi tidak mudah dipulihkan meskipun aktivitas pemicunya berhasil dikendalikan.

“Penurunan tanah itu bersifat kumulatif dan sebagian besar tidak dapat dipulihkan,” kata Wang.

Pemerintah Diminta Jangan Menunggu Kerusakan Meluas

Geosaintis Virginia Tech, Manoochehr Shirzaei, yang juga menjadi penelaah sejawat penelitian tersebut, menilai pemerintah kota perlu bergerak lebih cepat menghadapi ancaman penurunan tanah.

Menurutnya, pengalaman Tokyo seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kota-kota lain, termasuk kawasan perkotaan yang saat ini mengalami amblesan cukup serius.

“Tokyo pernah ambles jauh lebih cepat daripada banyak kota saat ini,” ujar Shirzaei.

Dia menilai sebagian besar kota sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk melakukan pencegahan sebelum kerusakan semakin meluas.

“Di sebagian besar tempat, kita memiliki banyak waktu untuk bereaksi, tetapi kita harus melakukannya,” tambahnya.

Temuan ini menjadi peringatan bagi kota-kota besar dunia bahwa persoalan penurunan tanah tidak cukup ditangani dengan memperbaiki bangunan atau infrastruktur yang rusak.

Pengendalian pengambilan air tanah, penyediaan sumber air alternatif, serta pemantauan permukaan tanah secara berkala menjadi langkah penting agar kota tidak terus ambles dari tahun ke tahun. (*)

You Might Also Like

Cerita Awaluddin Eks-Sekda Cilacap: Korupsi Demi Ikut Pilkada, Kalah Lalu Masuk Penjara

270 Orang Terdampak MBG, Guru Diminta Cek Menu Mengendus Makanan

PMII Semarang Turun Jalan Soroti MBG, Isyaratkan Gelombang Demo Belum Selesai

Video Tak Senonoh Pak Camat di Boyolali Bikin Heboh, Dikirim ke Remaja 19 Tahun

Pattiro Laporkan Komisi Informasi Jateng yang Telat Tangani Sengketa Informasi

TAGGED:amblesbeijingheadlineinfoJakartajakarta beijingtokyo
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Minum Es Saat Hujan Bikin Flu? Dokter Bongkar Faktanya
Next Article Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Viral! Trump Soroti Bokong Senator, Ruang Oval Jadi Saksi

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SOLIDARITAS EKOLOGIS - Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Semarang menggelar aksi penanaman 350 bibit mangrove di Pantai Tirang, Semarang, Sabtu (31/10/2026).

PMKRI Semarang Tanam 350 Mangrove di Pantai Tirang: Solidaritas Ekologis Harus Ada Aksi Nyata!

Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi.

MA Batalkan Suket, Budi Arie Projo Tegaskan Gibran Gak akan Mundur

Kalah di Perak, Kota Semarang Harus Puas Jadi Runner-up Xiangqi Porprov 2026

Agustina Minta Semua Suara Warga Didengar: Jangan Cuma yang Paling Keras!

Jangan Abaikan! Ini 5 Perubahan Payudara Kena Kanker

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Nasional

Setelah Drama Panjang, PWI Akhirnya “Unblock” di Kemenkumham

September 12, 2025
Info

Kemenhub RI: 38,7 Juta Pemudik Masuk ke Jateng

Februari 26, 2026
Info

Pendapa Riuh, 569 Calhaj Purbalingga Siap Terbang Bareng

April 27, 2026
UPACARA UNIK--Emak-emak Kampung Gang Presiden, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, mengenakan kostum daur ulang sampah plastik saat menggelar upacara bendera HUT Kemerderkaan ke-81 Republik Indonesia (RI), Senin (17/8/2026). (ist)
Info

Bukan Upacara Biasa! Emak-emak Gang Presiden Puntan Pakai Kostum Daur Ulang Sampah

Agustus 17, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Jakarta Terancam Ambles, Tokyo dan Beijing Punya Jurus Jitu
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?