BACAAJA, JAKARTA – Cuaca dingin, hujan turun hampir setiap hari, tetapi masih ingin menikmati es teh atau minuman dingin? Banyak orang memilih menghindarinya karena takut terserang batuk, pilek, hingga flu. Padahal, anggapan bahwa minum es menjadi penyebab langsung penyakit tersebut ternyata tidak sepenuhnya tepat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi, Sukamto Koesnoe, menjelaskan bahwa flu, batuk, dan pilek umumnya terjadi akibat infeksi virus, bukan karena seseorang mengonsumsi minuman dingin.
Artinya, orang yang sedang sehat sebenarnya tetap boleh minum es meskipun musim hujan. Hanya saja, ada kondisi tertentu yang membuat konsumsi minuman dingin sebaiknya dibatasi, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan atau sensitivitas saluran pernapasan.
“Jadi kalau badan sehat, silakan saja minum es. Kalau sedang batuk pilek atau punya alergi saluran napas, sebaiknya dikurangi dulu,” kata Sukamto pada Rabu (28/10/2026), dikutip dari Antara.
Minum Es Bukan Penyebab Langsung Flu
Sukamto yang juga menjabat Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menegaskan, seseorang tidak akan terkena flu hanya gara-gara minum es jika tidak terpapar virus penyebab infeksi.
Namun, cerita bisa berbeda bagi orang yang memiliki saluran pernapasan sensitif. Penderita rinitis alergi maupun asma bisa mengalami reaksi tertentu setelah mengonsumsi minuman dingin.
Keluhannya bisa berupa bersin-bersin, hidung tersumbat, hingga batuk. Meski gejalanya sekilas mirip pilek, kondisi tersebut merupakan respons iritasi, bukan berarti tubuh sedang mengalami infeksi virus.
Karena itu, orang yang memiliki riwayat alergi atau sedang mengalami gangguan pernapasan sebaiknya lebih memperhatikan respons tubuh ketika mengonsumsi minuman dingin.
Musim Hujan Bawa Ancaman Penyakit Lain
Selain urusan minum es, masyarakat juga perlu mewaspadai beberapa penyakit yang berpotensi meningkat selama musim hujan.
Pada penderita asma dan rinitis alergi, misalnya, udara yang lebih lembap bisa mendorong pertumbuhan jamur dan tungau debu rumah. Kedua pemicu tersebut dapat membuat gejala alergi maupun asma kembali kambuh.
Risiko penularan penyakit pernapasan juga bisa meningkat karena masyarakat cenderung lebih sering berkumpul di dalam ruangan saat hujan. Kondisi ini mempermudah penyebaran virus influenza, Respiratory Syncytial Virus (RSV), hingga Covid-19.
Ancaman lain datang dari demam berdarah dengue (DBD). Genangan air yang muncul setelah hujan dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk pembawa virus dengue.
Sementara itu, ketika terjadi banjir, masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap penyakit diare dan tifoid.
“BMKG juga sudah mengingatkan bahwa jarak dari awal musim hujan ke puncaknya tahun ini pendek, jadi sebaiknya kita bersiap dari sekarang,” ujar Sukamto yang merupakan dosen tetap Divisi Alergi Imunologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Peralihan Musim Bikin Saluran Napas Perlu Adaptasi
Menurut Sukamto, masa peralihan dari kemarau panjang menuju musim hujan menjadi periode yang perlu mendapat perhatian khusus.
Selama berbulan-bulan musim kemarau, saluran pernapasan terus terpapar udara kering, debu, dan polusi. Ketika hujan mulai datang, perubahan suhu serta kelembapan yang berlangsung relatif cepat membuat tubuh perlu menyesuaikan diri.
Kondisi tersebut bisa membuat pertahanan saluran pernapasan lebih rentan terhadap berbagai gangguan.
“Selama berbulan-bulan saluran napas kita terpapar udara kering, debu, dan polusi, jadi pertahanannya sudah agak terganggu. Lalu hujan datang, suhu dan kelembapan berubah cepat, dan tubuh butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” katanya.
Ini Cara Menjaga Tubuh Tetap Fit Saat Hujan
Untuk mengurangi risiko terserang penyakit, Sukamto menyarankan masyarakat mulai membangun kebiasaan hidup sehat. Langkahnya sebenarnya sederhana dan bisa dilakukan setiap hari.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Mencukupi kebutuhan tidur agar tubuh mendapat waktu istirahat.
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk sayur dan buah.
- Memastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi.
- Tetap aktif bergerak dan rutin berolahraga.
- Membiasakan mencuci tangan untuk mengurangi risiko penularan penyakit.
- Menggunakan masker ketika batuk atau pilek maupun saat berada di tempat ramai.
Kebersihan lingkungan rumah juga tidak boleh diabaikan. Masyarakat dianjurkan menjalankan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Ventilasi rumah juga perlu dijaga agar sirkulasi udara berjalan baik dan ruangan tidak terlalu lembap.
Sementara itu, mengenai konsumsi suplemen vitamin, Sukamto mengingatkan bahwa orang yang sudah menerapkan pola makan bergizi seimbang umumnya tidak membutuhkan suplemen dalam dosis tinggi.
Suplemen bukan pengganti makanan bergizi, pola hidup sehat, maupun vaksinasi. Jadi, menjaga kesehatan selama musim hujan bukan soal menghindari es semata, melainkan membangun kebiasaan yang bisa membantu tubuh tetap kuat menghadapi perubahan cuaca. (*)

