BACAAJA, SEMARANG – Tangan yang sering terasa kesemutan, apalagi sampai bikin terbangun saat tidur, jangan buru-buru dianggap cuma salah posisi. Keluhan yang datang berulang bisa menjadi sinyal adanya masalah pada saraf dan perlu dicari tahu penyebabnya.
Kesemutan sesekali setelah tangan tertindih ketika tidur biasanya mereda begitu posisi tubuh diubah. Namun, jika rasa kebas terus muncul, makin sering terjadi, atau disertai tangan melemah, kondisi ini patut mendapat perhatian lebih.
Dokter spesialis neurologi, dr. Puspasari, Sp.N, FIOM, FEEG, FPSG, F.Neurosomnologi, FEMG, KHS, menjelaskan salah satu penyebab kesemutan berulang adalah Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Gangguan ini terjadi ketika saraf di pergelangan tangan mengalami tekanan.
Kesemutan Malam Hari Bisa Jadi Tanda CTS
Menurut Puspasari, CTS biasanya menimbulkan kesemutan atau kebas pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis. Keluhan sering terasa lebih kuat pada malam hari, bahkan bisa membuat penderitanya terbangun dari tidur.
“Keluhan CTS biasanya berupa kesemutan atau kebas pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis. Keluhan ini sering lebih terasa pada malam hari dan bahkan dapat membuat pasien terbangun dari tidur,” kata Puspasari, dikutip dari ANTARA, Rabu (7/10/2026).
Kondisi tersebut terjadi karena saraf yang melewati jalur sempit di pergelangan tangan mengalami tekanan. Jika gangguannya makin berat, tangan bisa terasa lemah dan kemampuan menggenggam ikut menurun.
Penderitanya juga dapat menjadi lebih sering menjatuhkan barang atau kesulitan melakukan aktivitas yang membutuhkan gerakan jari secara teliti. Pada sebagian orang, rasa kesemutan bisa berkurang setelah tangan digoyangkan atau dikibaskan.
Meski begitu, kesemutan tidak selalu berasal dari pergelangan tangan. Ada kemungkinan sumber masalahnya justru berada di bagian leher.
Saraf Leher Juga Bisa Jadi Biang Kerok
Gangguan saraf di leher atau radikulopati servikal juga dapat memicu kesemutan pada tangan. Keluhan biasanya bisa disertai rasa nyeri yang berawal dari leher, lalu menjalar ke bahu, lengan, hingga jari-jari.
Area yang terasa kebas atau kesemutan bergantung pada saraf mana yang mengalami gangguan. Karena itu, pola keluhan dan lokasi munculnya rasa tidak nyaman bisa menjadi petunjuk awal bagi dokter.
Puspasari menjelaskan, gangguan saraf leher dapat berkaitan dengan perubahan pada tulang belakang, penyempitan jalur saraf, hingga masalah pada bantalan tulang atau diskus. Menariknya, kondisi ini tidak selalu disertai nyeri leher yang berat.
Lokasi Kesemutan Bantu Dokter Mencari Penyebab
Letak kesemutan memang bisa memberi gambaran awal tentang sumber gangguan. Namun, dokter tidak bisa memastikan diagnosis hanya berdasarkan bagian tangan yang terasa kebas.
Pemeriksaan biasanya mencakup pola keluhan, kondisi saraf, kekuatan otot, refleks, serta bagian tangan atau lengan yang mengalami gangguan rasa. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan apakah dibutuhkan pemeriksaan tambahan.
Salah satu pemeriksaan yang mungkin direkomendasikan adalah Electromyography/Nerve Conduction Study (EMG/NCS). Pemeriksaan ini digunakan untuk mengevaluasi fungsi saraf dan otot.
“NCS membantu menilai bagaimana sinyal listrik berjalan melalui saraf, sedangkan EMG membantu mengevaluasi aktivitas listrik pada otot. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi mengenai lokasi dan tingkat gangguan saraf,” ujar Puspasari.
Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan klinis, MRI, dan EMG/NCS dapat saling melengkapi. Tujuannya bukan sekadar menemukan kelainan, melainkan memastikan apakah temuan tersebut sesuai dengan gejala yang dirasakan pasien.
Kapan Kesemutan Perlu Diperiksakan?
Kesemutan tidak selalu menandakan penyakit serius. Jika muncul karena tangan tertindih saat tidur dan segera membaik setelah posisi diubah, keluhan tersebut umumnya tidak perlu langsung dikhawatirkan.
Namun, jangan menunda pemeriksaan jika kesemutan terus berulang, makin sering muncul, atau tidak kunjung membaik. Apalagi jika keluhan sampai membangunkan dari tidur, disertai nyeri yang menjalar, tangan terasa lemah, atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu.
Puspasari mengingatkan bahwa kesemutan merupakan gejala, bukan diagnosis. Mengetahui sumber gangguan saraf menjadi langkah penting agar penanganan yang diberikan sesuai dengan penyebabnya.
Jika kesemutan muncul mendadak bersama kelemahan satu sisi tubuh, wajah mencong, atau kesulitan berbicara, segera cari pertolongan medis darurat karena gejala tersebut dapat menandakan stroke. (*)

