BACAAJA, SEMARANG – Perubahan pada payudara sering kali dianggap sepele, apalagi jika tidak disertai rasa sakit. Padahal, beberapa tanda yang muncul bisa menjadi sinyal awal kanker payudara dan perlu segera diperiksa.
Mulai dari benjolan, kulit yang berubah tekstur, sampai cairan yang keluar dari puting tanpa sebab jelas, semuanya perlu mendapat perhatian. Mengenali perubahan sejak awal bisa membantu pasien memperoleh pemeriksaan dan penanganan lebih cepat.
Dokter spesialis bedah onkologi Eka Hospital BSD Tangerang, Sonar Soni Panigoro, mengingatkan perempuan agar tidak menunggu sampai gejala semakin parah untuk memeriksakan kondisi payudara.
“Penanganan pada stadium dini juga membuka peluang lebih besar untuk memperoleh hasil pengobatan yang optimal,” kata Sonar dalam acara paparan kesehatan kepada media di Serpong, Tangerang Selatan, Senin (26/10/2026), dikutip dari Antara.
Lima Perubahan Payudara yang Perlu Diwaspadai
Sonar menjelaskan, ada sejumlah tanda yang sebaiknya tidak diabaikan. Perubahan tersebut tidak otomatis berarti kanker, tetapi perlu diperiksa untuk memastikan penyebabnya.
Berikut lima perubahan yang perlu diperhatikan:
- Muncul benjolan di payudara atau ketiak. Benjolan baru, baik di area payudara maupun ketiak, sebaiknya diperiksakan. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah benjolan tersebut berkaitan dengan kanker atau kondisi lain.
- Tekstur kulit berubah. Kulit payudara yang semula normal kemudian tampak berlekuk, tertarik, atau mengalami perubahan tidak biasa perlu diwaspadai.
- Bentuk atau arah puting berubah. Perubahan posisi maupun bentuk puting yang baru terjadi patut mendapat perhatian, terutama jika sebelumnya tidak pernah dialami.
- Keluar cairan dari puting. Cairan yang keluar tanpa dipencet, terlebih jika tidak biasa, sebaiknya tidak dianggap sebagai hal normal dan perlu diperiksa tenaga medis.
- Muncul ruam atau perubahan kulit. Ruam maupun perubahan lain pada permukaan kulit payudara yang tidak biasa juga bisa menjadi tanda yang perlu ditelusuri.
Meski begitu, Sonar menegaskan bahwa tidak semua benjolan di payudara merupakan kanker. Namun, perubahan baru yang mencurigakan tetap perlu diperiksa agar penyebabnya bisa diketahui secara tepat.
Pemeriksaan Tak Bisa Disamaratakan
Selain mengenali gejala, perempuan juga dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Jenis dan waktu pemeriksaan perlu disesuaikan dengan usia, riwayat kesehatan, serta tingkat risiko masing-masing.
Riwayat kanker dalam keluarga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Terlebih jika ada anggota keluarga yang mengalami kanker pada usia relatif muda atau beberapa anggota keluarga memiliki jenis kanker tertentu.
Dalam kondisi seperti itu, konsultasi dengan dokter dapat membantu menilai risiko. Pemeriksaan genetik juga bisa dipertimbangkan apabila memang diperlukan.
Namun, perempuan yang tidak memiliki riwayat kanker dalam keluarga bukan berarti bebas dari risiko. Kanker payudara tetap bisa terjadi pada siapa saja, sehingga deteksi dini penting dilakukan oleh semua perempuan.
Gaya Hidup Ikut Memengaruhi Risiko
Sonar menyebut risiko kanker payudara dipengaruhi sejumlah faktor. Sebagian tidak bisa diubah, sementara sebagian lainnya berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari.
Faktor yang tidak dapat diubah antara lain pertambahan usia, riwayat kanker dalam keluarga, serta faktor genetik tertentu. Sementara itu, kurang aktivitas fisik, kelebihan berat badan, dan konsumsi alkohol termasuk faktor yang masih bisa dikendalikan.
Riwayat reproduksi dan penggunaan terapi hormon tertentu juga dapat memengaruhi risiko. Karena itu, perempuan sebaiknya mendiskusikan kondisi tersebut dengan dokter, terutama sebelum menggunakan terapi hormon.
Untuk membantu menekan risiko, Sonar menyarankan menjaga berat badan tetap sehat, rutin berolahraga, dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Kebiasaan merokok juga perlu dihindari, begitu pula konsumsi alkohol sebaiknya dibatasi atau dihindari.
Pengobatan Bergantung pada Kondisi Pasien
Jika seseorang didiagnosis mengalami kanker payudara, pilihan pengobatannya tidak selalu sama. Dokter akan mempertimbangkan stadium penyakit, karakteristik tumor, kondisi kesehatan pasien, serta hasil pemeriksaan jaringan dan penanda biologis yang relevan.
Pada stadium dini, pengobatan dapat diarahkan untuk menyembuhkan penyakit. Pilihannya meliputi operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi hormon, hingga terapi target sesuai kebutuhan medis.
Sementara itu, kanker yang sudah menyebar ke organ lain umumnya membutuhkan terapi sistemik. Tujuannya untuk mengendalikan perkembangan penyakit, memperpanjang harapan hidup, sekaligus menjaga kualitas hidup pasien.
Perawatan paliatif juga bisa diberikan untuk membantu mengurangi nyeri dan gejala lain yang dirasakan pasien. Pemberian perawatan ini bukan berarti pengobatan antikanker harus dihentikan.
Dalam kondisi tertentu, operasi rekonstruksi payudara juga dapat menjadi pilihan setelah pasien menjalani evaluasi bersama tim medis.
Karena itu, perubahan pada payudara sebaiknya tidak ditunggu sampai menimbulkan keluhan berat. Pemeriksaan lebih awal menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menentukan penanganan yang tepat. (*)

