SEMARANG, BACAAJA- Keberanian untuk menyampaikan gagasan oleh generasi muda masih menjadi tantangan besar hari ini. Kepedulian generasi muda terhadap persoalan bangsa bisa ditunjukkan lewat keberanian bersuara, membangun kolaborasi hingga berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Hal itu diungkapkan Hendrar Prihadi alias Hendi, yang merupakan Wali Kota Semarang periode 2013-2022, Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) 2022-2025 sekaligus alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Soegijapranata Catholic University (SCU) pada acara Sarasehan Kebangsaan di kampus itu, Senin (3/8/2026).
Rendahnya keberanian ini menurut survei yang dikutip Hendi ditunjukan dengan masih banyak generasi muda yang belum aktif menyampaikan pendapatnya di ruang publik.
“Kita ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Persoalannya adalah bagaimana anak-anak muda, akademisi, masyarakat, berani menyuarakan apa yang menurut mereka benar,” tegasnya pada keterangan tertulis SCU, Selasa (4/8/2026) petang.
Baca juga: SCU Gandeng Pemprov Jateng, Bareng-Bareng Perangi Kemiskinan
Padahal, kata Hendi, banyak inovasi lahir dari gagasan-gagasan yang muncul di ruang publik. Ini sejalan dengan tema Dies Natalis ke-44 SCU yakni Berjumpa dan Menyala. “Perjumpaan yang intens dengan masyarakat, terutama komunitas kalangan muda, perlu dilibatkan untuk menyampaikan gagasan,” lanjut Hendi.
Senada dengan Hendi, Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) sekaligus dosen Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) SCU, Benny Danang Setianto, menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menyampaikan kritik.
Walaupun, menurutnya, tidak semua kritik akan langsung menghasilkan perubahan. “Keberanian menyampaikan keprihatinan, jujur menyampaikan apa yang dirasakan, tanpa adanya kepentingan pribadi. Bahwa itu nanti didengarkan atau tidak, itu bukan sesuatu yang sepenuhnya bisa kita kendalikan,” kata Benny.
Kehilangan Optimisme
Hendi dan Benny sepakat agar generasi mudah tidak kehilangan optimisme terhadap masa depan bangsa hanya karena belum ada perubahan yang terlihat. Menurut mereka, generasi muda harus lebih peka terhadap permasalahan sosial di sekitarnya, alih-alih bersikap apatis. Kepekaan tersebut kemudian mesti didukung dengan keberanian dalam menyampaikan gagasan dengan cara yang bertanggung jawab.
Ketua Dies Natalis, Fidelis Aggiornamento Saintio menyebut forum itu digelar berangkat dari kegelisahan kampus menghadapi tantangan kebangsaan. Hal tersebut kemudian dirumuskan dalam tema Dies Natalis.
“Kampus ingin menghadirkan ruang perjumpaan kepada siapapun, khususnya antara mahasiswa dan masyarakat. Harapannya bisa menyalakan api semangat untuk tetap berkontribusi di tengah ketidakpastian,” tuturnya.
Baca juga: Mengenang Mgr Soegijapranata, SCU Gaungkan Semangat “Perjumpaan yang Mengubah”
Pada kesempatan ini juga, SCU bersama Ikatan Alumni Unika Soegijapranata (IKA Soepra) turut memberikan bakti sosial kepada tenaga kebersihan dan keamanan kampus. Bakti sosial diserahkan secara simbolis oleh Rektor SCU Robertus Setiawan Aji Nugroho bersama Ketua Umum IKA Soepra, Krisseptiana alias (Tia Hendi) diikuti jajaran pengurus.
Di era ketika jempol begitu cepat mengetik komentar di media sosial, justru keberanian menyampaikan gagasan yang membangun terasa makin langka. Padahal perubahan tak pernah lahir dari mereka yang hanya diam. Sebab bangsa ini tidak kekurangan penonton, tetapi masih butuh lebih banyak anak muda yang berani naik ke panggung. (eks)

