BACAAJA, SEMARANG – Pengunjung bisa menikmati kehangatan wedang jahe, sembari menyapu pandangan ke jantung Kota Semarang.
Siapa sangka kawasan Candi Tugu yang selama ini identik dengan situs bersejarah, kini berubah jadi salah satu spot nongkrong malam yang lagi ramai di Semarang.
Baru delapan hari buka, Angkringan Monspace langsung mencuri perhatian. Setiap malam, ratusan orang datang buat ngopi, makan, sampai menikmati pemandangan Kota Semarang dari atas bukit.
Bacaaja: Dua Kebo Lagi Kasmaran, Kirab Suro Jalan Dengan Tiga Ekor Saja
Bacaaja: Keliling Dunia melalui Musik, Kota Lama Orchestra Buktiin Perbedaan Bisa Jadi Harmoni
Yang bikin kaget, saat hari pertama dibuka, jumlah pengunjung tembus sekitar 500 orang hanya dalam semalam.
Salah satu penggagas Angkringan Monspace, Ali Zainal Abidin, mengaku sama sekali tidak menyangka respons masyarakat bakal sebesar itu.
“Alhamdulillah antusias masyarakat luar biasa. Hari pertama saja dari nota yang kami hitung ada sekitar 500 pengunjung. Kami benar-benar tidak menyangka daya tarik kawasan candi ini ternyata sebesar itu,” ujarnya saat ditemui di Monspace, Selasa (4/8/2026).
Menurut Ali, Monspace bukan sekadar tempat makan. Ada misi yang ingin dibawa, yakni menghidupkan kembali kawasan Candi Tugu agar lebih dikenal masyarakat, terutama generasi muda.
Angkringan ini lahir dari kolaborasi sejumlah pemuda bersama Forum Nuporoko Candi Tugu (FNCT), komunitas yang selama ini aktif menjaga dan melestarikan kawasan cagar budaya tersebut.
Karena berada di area bersejarah, pengelola juga tidak mau asal ramai. Kebersihan menjadi aturan utama yang wajib dijaga.
Setiap malam setelah angkringan tutup, seluruh sampah langsung dibersihkan dan dibawa turun agar kawasan candi tetap bersih saat pagi hari.
“Kami sadar ini kawasan cagar budaya. Jadi setelah tutup semua sampah kami bersihkan dan kami bawa turun. Harapannya pagi hari saat ada warga atau tamu datang, kondisi candi tetap bersih dan nyaman,” jelas Ali.
Dukungan juga datang dari warga sekitar. Salah satunya Eko Cokro, warga Tugu, yang menilai kehadiran Monspace justru memberi warna baru tanpa mengganggu keberadaan situs bersejarah.
Menurutnya, sejak awal pengelola sudah berkoordinasi dengan warga, tokoh masyarakat, RT, RW hingga paguyuban sebelum angkringan mulai beroperasi.
“Mayoritas warga mendukung. Kami ingin situs peninggalan leluhur ini tetap hidup dan dikenal masyarakat. Sampah juga selalu kami bersihkan setiap malam dan dibawa pulang,” katanya.
Eko menambahkan, komunitas yang menjaga kawasan Candi Tugu sebenarnya sudah terbentuk sekitar lima hingga tujuh tahun lalu. Tujuannya sederhana, menjaga situs sejarah tetap lestari dan tidak rusak oleh tangan manusia maupun faktor alam.
Tak cuma menawarkan menu angkringan yang ramah di kantong, Monspace juga menyuguhkan panorama lampu-lampu Kota Semarang dari ketinggian. Kombinasi suasana malam, kuliner, dan nuansa sejarah membuat tempat ini cepat viral dari mulut ke mulut.
Ke depan, Ali ingin Monspace tak hanya menjadi tempat nongkrong, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi warga. Rencananya, lebih banyak pelaku UMKM sekitar akan dilibatkan untuk menitipkan produk mereka di angkringan tersebut.
“Kami ingin tempat ini bukan hanya ramai, tapi juga bisa menggerakkan ekonomi warga sekaligus membuat masyarakat semakin peduli terhadap keberadaan Candi Tugu,” pungkasnya. (*)

