BACAAJA, SEMARANG – Perbedaan bukan ancaman untuk bersatu. Ia justru adalah jantung untuk merajut keindahan dalam sebuha harmoni.
Angin laut berembus pelan, langit mulai gelap, dan tribun Amphitheater Awanncosta dipenuhi penonton dari berbagai usia. Jumat (10/7/2026) malam itu, bukan cuma musik yang memenuhi udara. Ada satu pesan yang ikut mengalun di setiap nada: perbedaan ternyata bisa terdengar begitu indah.
Begitu lampu panggung menyala, Kota Lama Orchestra (KLO) langsung mengajak penonton berkeliling dunia lewat musik. Sebanyak 14 lagu dari berbagai belahan dunia dimainkan, mulai dari Balkan, Eropa, Amerika Latin, Arab, Afrika, China, Melayu, hingga Nusantara.
Bacaaja: Book Lovers Wajib Mampir! Bazar Buku Internasional Digelar di Queen City Mall Semarang
Bacaaja: Bulan Bung Karno Diperingati Lewat Musik, Teater, dan Puisi di TBRS Semarang
Setiap lagu disambut tepuk tangan meriah. Ada yang sibuk merekam dengan ponsel, ada juga yang memilih menikmati setiap denting musik sambil memandang laut di kejauhan.
Di bawah arahan konduktor asal Belanda, Johnny Rahaket, puluhan musisi memainkan instrumen mereka dengan penuh penghayatan. Ketika lagu-lagu ceria dimainkan, penonton ikut bersorak. Saat irama berubah lembut, seluruh tribun seolah kompak terdiam menikmati setiap nada yang berpadu dengan suara debur ombak.
Tapi konser malam itu ternyata bukan cuma soal musik.
Di balik penampilan megah tersebut, Kota Lama Orchestra membawa sebuah filosofi yang sudah menjadi identitas mereka sejak pertama kali tampil pada pembukaan Festival Kota Lama (FKL) Semarang ke-14 tahun 2025, yakni “The Sound of Diversity.”
Saat membuka acara, Krisna dari Club Merby menjelaskan bahwa keberagaman bukan sekadar tema konser, melainkan napas yang menghidupi seluruh perjalanan KLO.
“KLO adalah The Sound of Diversity,” ujarnya.
Kalimat itu bukan sekadar slogan.
Di dalam satu orkestra, berkumpul orang-orang dengan cerita yang benar-benar berbeda. Ada yang masih duduk di bangku sekolah dasar, ada mahasiswa, pekerja, guru musik, hingga mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan magister.
“Anggotanya dari generasi baby boomer sampai generasi alpha,” kata Krisna.
Kemampuan mereka pun beragam. Ada yang baru belajar membaca not balok, sementara yang lain sudah bertahun-tahun mengajar musik.
“Dari yang baru bisa baca beberapa not sampai yang sudah menjadi guru musik.”
Perbedaan latar pendidikan juga menjadi warna tersendiri.
“Ada yang masih SD sampai yang sudah master di perguruan tinggi,” lanjutnya.
Namun begitu lampu panggung menyala, semua perbedaan itu seolah menghilang. Tak ada lagi pemain senior atau pemula. Tak ada sekat usia maupun profesi. Yang terdengar hanya satu: harmoni.
Semangat itulah yang juga sejalan dengan tema Festival Kota Lama Semarang, “Kuno, Kini, Nanti”, yang mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ruang. Persis seperti Kota Lama Orchestra yang menyatukan banyak latar belakang menjadi satu pertunjukan yang utuh.
Saat lagu terakhir berakhir, tepuk tangan panjang menggema memenuhi amphitheater. Beberapa penonton bahkan masih bertahan di kursinya, seolah belum rela meninggalkan suasana malam itu.
Lewat musik, Kota Lama Orchestra seakan mengingatkan bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Justru dari keberagaman itulah harmoni bisa tercipta.
“Energi yang berasal dari keragaman itu sungguh luar biasa,” pungkas Krisna. (dul)

