BACAAJA, PATI – Jalan-jalan di Desa Kajen, Kabupaten Pati, berubah menjadi lautan manusia pada Jumat (26/6/2026). Sejak siang, ribuan warga memadati sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan salah satu agenda paling ditunggu setiap bulan Muharam, yakni Kirab Budaya Haul Syekh Ahmad Mutamakkin.
Namun ada yang berbeda tahun ini. Di saat banyak karnaval identik dengan dentuman sound system berukuran raksasa atau sound horeg, warga Kajen justru memilih jalannya sendiri.
Tak ada suara yang memekakkan telinga. Sebagai gantinya, pengunjung disuguhi parade budaya yang memanjakan mata lewat seni tari, musik tradisional, hingga kendaraan hias dengan desain yang artistik.
Bacaaja: Warga Kajen Pati Setia Rawat Tradisi Jeguran Blumbang saat Malam 1 Suro
Bacaaja: Inilah Sosok Kiai Sholeh Darat, Ulama Pejuang dari Nusantara yang Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Pilihan itu justru membuat suasana terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kemeriahan.
Sorotan utama kirab tahun ini datang dari penampilan Tongtek Budaya yang dibawakan 15 RT di Desa Kajen. Alat musik bambu yang selama ini dikenal sederhana tampil dengan wajah baru.
Di atas kendaraan hias, tongtek dipadukan dengan dekorasi megah, mulai dari relief naga, ornamen bernuansa emas, hingga tata cahaya LED yang membuat setiap rombongan tampil mencolok saat melintas.
Hasilnya bukan sekadar arak-arakan kampung, melainkan pertunjukan budaya yang terasa megah sekaligus elegan.
Sepanjang rute kirab, ribuan pasang mata tampak tak henti mengabadikan setiap penampilan. Anak-anak duduk di pundak orang tuanya, sementara warga lain memenuhi sisi jalan demi mendapatkan posisi terbaik menyaksikan parade.
Kemeriahan semakin lengkap saat marching band dari Mathali’ul Falah (MBM) dan Salafiyah ikut mengisi jalannya kirab. Irama musik yang dimainkan berpadu dengan barisan penari berkostum warna-warni, menciptakan suasana yang hidup tanpa harus mengandalkan kebisingan.
Bagi masyarakat Kajen, kirab budaya bukan sekadar hiburan tahunan. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan kepada ulama besar Syekh Ahmad Mutamakkin sekaligus cara merawat warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Lewat sentuhan kreativitas, warga menunjukkan bahwa tradisi tidak harus kehilangan jati diri untuk tetap menarik perhatian generasi muda. Justru dengan memadukan nilai budaya, teknologi pencahayaan, dan karya seni, kirab tahun ini tampil lebih segar tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
Haul Syekh Ahmad Mutamakkin pun kembali membuktikan diri bukan hanya sebagai agenda keagamaan, tetapi juga ruang bertemunya tradisi, kreativitas, dan kebersamaan masyarakat.
Kajen seolah mengirim pesan sederhana: kemeriahan tak selalu harus datang dari suara yang paling keras. Kadang, justru budaya yang ditampilkan dengan indah mampu meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam. (bae)

