Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Google, Meta, TikTok Pesta Iklan, Media Lokal Kebagian Sisa
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Google, Meta, TikTok Pesta Iklan, Media Lokal Kebagian Sisa

Di balik derasnya arus berita yang setiap hari memenuhi layar ponsel masyarakat, ada persoalan besar yang sedang dihadapi industri media. Saat perusahaan pers terus memproduksi konten dan informasi, sebagian besar pendapatan iklan digital justru mengalir ke platform teknologi global.

T. Budianto
Last updated: Juni 16, 2026 1:24 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
REVISI UU: Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi (batik merah) saat paparan materi soal dorongan revisi UU Hak Cipta di Hall Dewan Pers, Jakarta, Senin (15/6/2026). (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, JAKARTA– Di era ketika berita bisa menyebar dalam hitungan detik dan jutaan orang mengakses informasi lewat gawai, ternyata perusahaan pers justru sedang menghadapi kenyataan pahit.

Kue iklan digital yang nilainya mencapai Rp71 triliun sebagian besar tidak mengalir ke ruang redaksi, melainkan terkonsentrasi di tangan tiga raksasa teknologi dunia: Google, Meta, dan TikTok.

Fakta itu diungkapkan Dewan Pers yang menilai ekosistem digital saat ini semakin timpang. Tiga platform teknologi tersebut disebut menguasai sekitar 80 persen pendapatan iklan digital di Indonesia, sementara sisanya diperebutkan oleh ratusan perusahaan pers dan media nasional maupun daerah.

Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi mengatakan, kondisi tersebut membuat posisi media semakin terjepit di tengah perubahan lanskap digital yang berlangsung sangat cepat.

Baca juga: Sihir Media Sosial dan Otak yang Pelan Tapi Pasti Menjadi Tumpul

“Nah, jadi ekosistem saat ini memperlihatkan suatu ketimpangan yang tidak adil. Ada tiga kelompok yang menguasai advertising, sedangkan kelompok media menjadi semakin tergusur dan akan terus tergusur,” ujar Dahlan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, (15/6/2026).

Menurutnya, tantangan yang dihadapi industri pers kini bukan hanya soal pembagian iklan. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) juga memunculkan persoalan baru karena banyak sistem AI menggunakan karya jurnalistik sebagai bahan pembelajaran algoritma tanpa memberikan kompensasi ekonomi kepada media yang memproduksi konten tersebut.

Dampaknya mulai terasa di berbagai lini industri media. Mulai dari efisiensi perusahaan, pengurangan tenaga kerja, hingga maraknya disinformasi yang bersaing dengan produk jurnalistik yang dibuat melalui proses verifikasi dan peliputan.

Konvensi Media

Merespons situasi tersebut, Dewan Pers mulai mendorong sejumlah langkah strategis. Salah satunya melalui Konvensi Nasional Media Massa 2026 yang membahas masa depan perusahaan pers, kesejahteraan jurnalis, hingga model pendanaan industri media di era digital.

Selain itu, Dewan Pers juga mendorong perubahan regulasi agar karya jurnalistik memiliki pengakuan yang lebih kuat sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi.

Dahlan menjelaskan bahwa dalam Undang-Undang Hak Cipta yang berlaku saat ini, karya jurnalistik masih diposisikan sebagai karya yang dapat dikutip, disebarluaskan, maupun dimanfaatkan dengan cukup mencantumkan sumber.

Kondisi tersebut dianggap tidak lagi relevan dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan saat ini. Karena itu, Dewan Pers mendukung revisi Undang-Undang Hak Cipta yang tengah disiapkan pemerintah agar karya jurnalistik memperoleh perlindungan ekonomi yang lebih jelas.

Baca juga: Buruh Media Tertekan, FSPM Independen Ajak Melawan Lewat Serikat Pekerja

“Kami berharap bahwa revisi Undang-Undang Hak Cipta ini perlu mendapatkan dukungan semua pihak,” kata Dahlan. Bagi industri media, revisi aturan tersebut bukan sekadar soal royalti atau hak cipta.

Lebih dari itu, ini menjadi upaya menjaga keberlangsungan jurnalisme berkualitas di tengah derasnya arus platform digital yang semakin mendominasi perhatian publik.

Ironisnya, berita masih dibuat oleh wartawan yang turun ke lapangan, kehujanan, kepanasan, dan berjibaku mencari fakta. Namun ketika berita itu dibaca jutaan orang di layar ponsel, sebagian besar uang iklannya justru parkir di kantor perusahaan teknologi ribuan kilometer jauhnya. Media membuat isi pesta, tapi yang paling kenyang justru tamu yang menyewakan gedungnya. (tebe)

You Might Also Like

Puting Beliung Ngamuk di Wonosobo, 14 Rumah Warga Rusak

7 Pengeroyok Pesilat Pagar Nusa Akhirnya Ketangkap, Kata Polisi Ada yang Keliru

Dusun Buddhis Krecek Mulai Dilirik Wisatawan

Polisi Apaan, Suruh Jaga Malah Selundupin Vape Narkoba

ASN Semarang Diminta Nggak Cuma Sibuk, Tapi Berdampak

TAGGED:dewan persheadlinemedia massaplatform digital
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pasar Maling Naik Kelas, Disiapkan Jadi Tempat Nongkrong
Next Article Krisna Jhon Pilih Tetap Bersama PSIS

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

REMUK TAK BERBENTUK - Warga melihat kondisi truk yang remuk tak berbentuk setelah tertemper KA Ambarawa Ekspres di Randublatung, Blora, Sabtu (1/8/2026).

Detik-detik Truk Remuk Tak Berbentuk Tertemper Ambarawa Ekspres di Blora, Penumpang KA Panik

Ilustrasi keracunan MBG. (wahyu/grafis)

Puluhan Siswa SD di Solo Diduga Keracunan MBG, Pemkot Tunggu Hasil Uji Laboratorium

Nasirun bersama Ganjar Pranowo dalam sebuah kesempatan. (IG @ganjar_pranowo)

Kesaksian Ganjar tentang Sosok Nasirun

Maestro senil lukis Indonesia, Nasirun.

BREAKING NEWS: Maestro Seni Lukis Nasirun Meninggal Dunia di Yogyakarta

PERIKSA SISA MAKANAN - Petugas memeriksa sisa MBG yang diduga jadi pemicu keracunan siswa dan guru SMKN 6 Semarang, Jumat (31/7/2026).

707 Siswa dan Guru SMKN 6 Semarang Keracunan MBG, Ini Gejala yang Dirasakan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Hukum

Sindikat Penipu Gudang Bodong di Semarang Check-in di Hotel Prodeo

Agustus 20, 2025
Info

Doa Jamaah Haji Buat Presiden, Pesan Niam Jadi Obrolan Panjang

Mei 19, 2026
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. (Dok Kemenag)
Info

Pesantren Ramah Anak, Kemenag Gas Lima Langkah

Juli 13, 2026
Daerah

Tersandung Regulasi, Dana Hibah untuk Keraton Solo Mandek Sejak 2012

Juli 18, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Google, Meta, TikTok Pesta Iklan, Media Lokal Kebagian Sisa
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?