BACAAJA, DEMAK– Tangis pecah bahkan sebelum akad dimulai. Di Dukuh Gili, Desa Margohayu, Kecamatan Karangawen, suasana pernikahan berubah drastis dari bahagia menjadi pilu.
Ibu dari mempelai wanita, Mujiatun, mengembuskan napas terakhir pada Selasa, (14/4/2026) pukul 06.15 WIB, hanya sekitar dua jam sebelum prosesi akad nikah putrinya dijadwalkan berlangsung.
Padahal, sejak pagi segalanya sudah siap. Tenda berdiri kokoh, pelaminan tertata indah, kursi tamu berjajar rapi seolah menunggu datangnya kebahagiaan. Namun dalam hitungan menit, suasana berubah. Dekorasi yang semula jadi saksi bahagia, mendadak terasa sunyi di tengah kabar duka.
Keluarga pun diliputi kebingungan, antara menunda atau tetap melanjutkan. Di tengah suasana emosional yang begitu dalam, keputusan berat akhirnya diambil.
Rumah Duka
Seperti yang juga diunggah akun Instagram @kuakarangawen, prosesi akad nikah pasangan Ahmad Ali Roahmatullah dan Devi Indang Setiowati tetap dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB.
Bukan di gedung mewah, bukan pula dengan pesta meriah, melainkan di rumah duka, di hadapan jenazah sang ibu yang masih terbaring. Kepala KUA Karangawen yang hadir langsung memimpin prosesi, menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan terakhir sekaligus menjalankan amanah almarhumah.
“Kami turut berduka. Dalam kondisi seperti ini, pernikahan tetap dilangsungkan sebagai bagian dari amanah yang harus dijaga,” ujarnya. Saat ijab kabul diucapkan, suara mempelai pria bergetar. Kata “sah” yang biasanya disambut tepuk tangan, pagi itu justru diiringi isak tangis yang tak terbendung.
Tak ada tawa. Tak ada selebrasi. Yang ada hanya percampuran rasa, kehilangan yang begitu dalam, dan keikhlasan yang dipaksakan hadir. Para tamu yang datang pun tak kuasa menahan air mata. Mereka menjadi saksi bagaimana satu momen bisa memuat dua peristiwa paling emosional dalam hidup: perpisahan dan permulaan.
Hari itu, bahagia dan duka datang tanpa jeda, seolah hidup tak memberi waktu untuk bersiap. Karena pada akhirnya, kita hanya bisa menjalani… meski hati belum sepenuhnya siap menerima. (tebe)

