Tri Umi Sumartyarini, ibu rumah tangga dan penulis buku “Perempuan Titik Dua: Kumpulan Esai” (2017). Tinggal di Demak.
Memancing bukan semata soal ikan, sebagaimana pawon bukan sekadar soal masakan. Keduanya adalah cara masing-masing pihak merawat diri dan keluarga.
Banyak alasan bagi suami-istri untuk bertengkar. Hobi adalah salah satunya. Hobi istri yang tidak disukai suami, atau sebaliknya hobi suami yang tidak disukai istri. Jika tidak pandai mengelola perbedaan ini, hobi dapat menjelma menjadi sumber bencana dalam rumah tangga. Panci dan sandal bisa melayang karenanya. Suami-istri bisa saling berteriak gara-gara urusan yang tampak sepele ini.
Apakah Anda seorang istri yang tidak dapat memahami mengapa suami pergi memancing seharian, dan pulang tanpa membawa apa-apa? Pada hari Ahad, saat Anda berharap suami di rumah berkumpul bersama keluarga setelah sepekan penuh bekerja di kantor, ia justru pergi keluar rumah untuk memancing. Ia berangkat pagi, mengenakan pakaian khusus, membawa alat pancing yang tidak murah, serta satu wadah berisi udang sebagai umpan.
Mengapa istri kerap tidak memahami atau tidak dapat menerima hobi memancing suami? Hal ini terjadi karena adanya perbedaan sudut pandang tentang aktivitas memancing. Bagi istri, kegiatan ini sering kali dipahami sebagai tindakan yang mengusik otoritasnya, sehingga ia merasa tidak berkenan ketika suami pergi memancing.
Bagi istri, kegiatan memancing idealnya harus berlandaskan asas ekonomi: mengeluarkan sumber daya seminimal mungkin, tetapi mendatangkan keuntungan maksimal. Harapannya sederhana: jika suami pergi memancing, hasil tangkapan dibawa pulang, lalu dimasak dan bisa dikonsumsi bersama keluarga. Perut sekeluarga kenyang, hati istri pun tenang.
Masalah muncul ketika memancing tidak menghasilkan apa-apa. Fenomena ini kerap menjadi biang kerok ketidaksetujuan istri terhadap kegiatan memancing. Pemancing pulang dengan tangan kosong, padahal modal yang dikeluarkan tidak sedikit.
Umpan udang, misalnya, dibeli dari pasar dengan harga yang bagi istri terasa mahal. Setengah kilogram udang seharga sekitar Rp30.000, menurut perhitungan istri, lebih baik dimasak di rumah untuk lauk seluruh anggota keluarga dalam sehari. Apalagi bagi istri yang lihai memasak, udang dapat diolah menjadi berbagai hidangan—sambal udang petai, sambal goreng udang kentang, dan seterusnya.
Selain umpan, ada pula modal lain yang dibawa pemancing, yakni sebungkus rokok. Dalam hitung-hitungan ekonomi istri, sebungkus rokok itu dapat ditukar dengan satu kilogram ikan di pasar. “Umpan rokok” ini pun menambah daftar alasan ketidaksetujuan istri terhadap hobi memancing suami.
Sebagaimana ungkapan yang jamak dikenal dalam masyarakat Jawa, perempuan memiliki peran tradisional macak, manak, dan masak. Masak, bagi perempuan Jawa, berarti merawat pawon. Pawon atau dapur merupakan wilayah otoritas perempuan.
Menurut Pirus dan Nurahmawati (2020), memasak bagi istri bukanlah sekadar mengubah bahan mentah menjadi hidangan siap santap. Secara filosofis, memasak adalah sarana menyalurkan kasih sayang, menjamin kecukupan gizi keluarga, menjaga resep warisan, sekaligus mengelola ekonomi rumah tangga. Istri yang baik adalah istri yang mampu mengolah sumber daya minimal menjadi hasil yang maksimal.
Seorang istri dituntut mampu mengelola keuangan yang dipasrahkan suami demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kemampuan mengatur keuangan menjadi harga diri bagi perempuan. Selain itu, ia adalah bentuk penghargaan terhadap peran istri dalam menjaga keberlangsungan hidup sehari-hari. Pawon adalah dunia istri, dan suami dituntut untuk menaruh kepercayaan penuh atas apa yang dilakukan istri di dapur.
Kegiatan memancing yang dipersepsikan sebagai “buang-buang uang” inilah yang kemudian mengusik otoritas perempuan dalam memelihara pawon. Usaha istri menyediakan masakan dan mengelola keuangan rumah tangga terasa terancam oleh aktivitas yang, dalam pandangannya, tidak memberi kontribusi langsung bagi dapur keluarga.
Bagi Ibu-ibu perlu juga melihat ‘mancing’ dari sudut pandang suami. Mungkin saja, memancing bukan semata urusan ikan. Suami pergi bukan untuk mengisi pawon, melainkan untuk mengisi dirinya sendiri yang hilang. Duduk berjam-jam di tepi air, menunggu kail disentuh ikan yang belum tentu datang, adalah cara suami melatih kesabaran. Sesuatu yang barangkali sulit ia dapatkan di ruang kerja, di jalanan, atau di tengah tuntutan sebagai kepala keluarga.
Dalam nalar lelaki, biaya umpan dan rokok bukan dihitung sebagai investasi ekonomi, melainkan ongkos jeda. Di antara rutinitas mencari nafkah, memancing menjadi ruang sunyi tempat suami tidak dituntut apa-apa: tidak ditanya hasil, tidak dikejar target, tidak diminta pulang membawa bukti. Pulang tanpa ikan pun, bagi suami bukan kegagalan.
Yang ia bawa pulang adalah tubuh yang sedikit lebih tenang, kepala yang lebih ringan, dan emosi yang sempat ia lepaskan ke aliran air. Kita maklumi saja suami yang begini. Yang penting ia masih bertanggungjawab mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga. Kecualiu sang suami kerjanya hanya memancing dari pagi hinga sore. Itu sih bukan hobi lagi, tetapi penyakit.
Pada titik inilah pancing dan pawon bertemu bukan sebagai dua dunia yang saling meniadakan, melainkan sebagai ruang negosiasi. Memancing bukan semata soal ikan, sebagaimana pawon bukan sekadar soal masakan. Keduanya adalah cara masing-masing pihak merawat diri dan keluarga. Ketika suami dan istri saling memahami makna di balik hobi dan dapur, pertengkaran bisa bergeser menjadi percakapan. Dan rumah tangga pun tetap harmonis.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


