BACAAJA, TEMANGGUNG — Bupati Kepahiang Zurdi Nata rela menempuh perjalanan jauh dari Bengkulu ke Temanggung bukan buat healing, tapi buat “berguru” soal rahasia sukses pengelolaan kopi.
Ia rela menempuh perjalanan jauh, menimba pengetahuan demi bikin kopi daerahnya makin naik kelas.
Kedatangan rombongan ini disambut langsung oleh Bupati Temanggung Agus Setyawan di Desa Kertosari, Kecamatan Jumo, Rabu (11/2/2026). Desa tersebut dikenal sebagai salah satu basecamp kopi Robusta andalan Temanggung.
Bacaaja: Bupati Temanggung Boyong Tropi Abyakta PWI, Agus Gondrong: Kado untuk Seniman Lokal
Bacaaja: Detik-detik Truk Gandeng Muntahkan Kopi di Jalan Yos Sudarso Semarang, Gara-gara Putus
Agus pun tak cuma menyambut secara formal. Ia langsung mengajak tamunya turun ke lapangan untuk melihat sendiri bagaimana perkebunan kopi dikelola.
Saat ini, Temanggung punya sekitar 12.000 hektare lahan kopi Robusta dan 1.700 hektare Arabika — angka yang menunjukkan betapa seriusnya daerah ini bermain di industri kopi.
Namun bagi Agus, soal kopi bukan cuma perkara banyak-banyakan produksi. Fokus utamanya justru ada di kualitas.
Salah satu caranya lewat edukasi ke kelompok tani agar hanya memanen buah kopi yang benar-benar matang alias petik merah.
Tujuannya jelas: menjaga standar rasa sekaligus memperkuat branding kopi Temanggung agar bisa se-ikonik Kopi Gayo.
“Kita tidak hanya mengejar produksi, tapi juga kualitas, termasuk pendampingan hingga penguatan kelompok petani. Yang penting petik biji kopi merah, jangan jotos atau ijo atos,” tegas Agus.
Sementara itu, Zurdi Nata mengaku kunjungan ini memang diniatkan untuk “menyerap ilmu” agar produktivitas kopi di Kepahiang bisa meningkat dan lebih kompetitif di pasar nasional.
Padahal, menurutnya, kopi sudah jadi bagian dari sejarah panjang daerahnya.
“Tujuan kami ke Temanggung belajar meningkatkan produksi pertanian kopi. Karena sejak nenek moyang, kopi di Kepahiang sudah menjadi primadona,” ujarnya.
Meski punya tradisi kuat, popularitas kopi Kepahiang masih kalah gaung dibanding daerah lain. Karena itu, studi tiru ini diharapkan bisa jadi langkah awal untuk mendongkrak pamor kopi lokal.
Singkatnya, kalau ingin kopi makin dilirik pasar, bukan cuma rasanya yang harus kuat, tapi juga strategi dan brandingnya.
Dan kali ini, Temanggung jadi “kelas belajar” bagi daerah lain yang ingin ikut naik level di dunia perkopian. (*)


