BACAAJA, SEMARANG- Kunjungan kerja spesifik Komisi II DPR RI ke Provinsi Jateng, Rabu (01/04/2026) menjadi panggung bagi pemerintah daerah untuk menunjukkan strategi besar dalam mendorong investasi dan penguatan ekonomi berbasis daerah.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi secara terbuka menawarkan konsep “investasi tanpa ribet” kepada para pemangku kebijakan pusat. Ia menegaskan bahwa Jawa Tengah saat ini menjadi salah satu daerah paling kondusif bagi investor.
“Kalau tidak investasi di Jawa Tengah, rugi. Daerah ini damai, perizinan dipermudah, dan sudah kita siapkan kawasan industri dengan sistem satu pintu,” tegasnya, Rabu (1/4/2026).
Sejumlah kawasan industri seperti Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Kendal Industrial Park, Wijayakusuma, hingga Candi disebut sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi. Sistem one gate system yang diterapkan memungkinkan investor mengurus perizinan, bea cukai, hingga operasional dalam satu jalur terintegrasi.
Baca juga: Mohammad Saleh: BUMD Jangan Cuma Numpang Nama, Saatnya Fokus Nambah PAD
Dampaknya mulai terlihat. Kabupaten Kendal, misalnya, mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 8,6 persen, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Sementara kawasan aglomerasi seperti Solo Raya juga menunjukkan lonjakan investasi signifikan, bahkan mencapai Rp10,1 triliun dalam waktu satu bulan dari proyek berbasis konsep green city.
Tak berhenti di situ, Pemprov Jateng juga mendorong ekspansi kerja sama lintas daerah dan luar negeri melalui skema take and give. Beberapa provinsi seperti Maluku Utara, Kepulauan Riau, hingga Lampung telah dijajaki untuk kolaborasi ekonomi.
Potensi Daerah
“Kita ini seperti marketing. Kita jual potensi daerah, kita tawarkan ke investor. Semua kepala daerah harus ikut bergerak,” ujar Luthfi. Selain investasi, pemerintah juga menekankan pentingnya stabilitas tenaga kerja.
Dengan biaya transportasi buruh yang ditekan hingga Rp2.000 serta penyediaan fasilitas sosial seperti koperasi buruh, Jawa Tengah dinilai mampu menjaga kondusivitas upah minimum dan hubungan industrial. Hasilnya, sektor padat karya berhasil menyerap hingga 840 ribu tenaga kerja, sekaligus menekan angka pengangguran dan kemiskinan.
Di sisi lain, Ketua Tim Kunjungan Komisi II DPR RI, Aria Bima menegaskan, bahwa investasi dan pertumbuhan ekonomi harus berjalan seimbang dengan tata kelola yang sehat. “Bank daerah dan BUMD tidak boleh hanya mengejar keuntungan. Mereka harus menjadi alat pembangunan, penggerak ekonomi lokal, dan memperkuat sektor UMKM,” ujarnya.
Baca juga: Pemkot Fokus Benahi BUMD Biar Setoran ke PAD Makin Nendang
Ia mengingatkan agar orientasi terhadap dividen tidak mendorong praktik bisnis yang terlalu agresif dan berisiko. Menurutnya, kekuatan ekonomi daerah harus dibangun dari konektivitas antarwilayah serta optimalisasi aset daerah.
Dengan infrastruktur Jawa Tengah yang semakin terhubung mulai dari jalan tol, pelabuhan, hingga kereta api. Aria Bima optimistis provinsi ini bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. “Kami ingin Jawa Tengah seperti kereta cepat. Setiap kabupaten jadi lokomotif, bukan sekadar gerbong,” pungkasnya.
Kalau semua daerah sudah sibuk “jualan” ke investor tapi lupa ngerawat mesin ekonominya sendiri, jangan heran kalau keretanya ngebut… tapi relnya mulai goyah. (dul)


