Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Bencana Ekologis Dimulai Ketika Manusia Memandang Alam sebagai Benda Mati
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Bencana Ekologis Dimulai Ketika Manusia Memandang Alam sebagai Benda Mati

Redaktur Opini
Last updated: Januari 2, 2026 10:27 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Muhammad Fiam Setyawan adalah pemerhati isu lingkungan. Tinggal di Laweyan, Surakarta.

 

Modernitas mengajarkan manusia melihat alam sebagai benda mati, sebagai sumber daya, sebagai angka dalam neraca ekonomi. Alam dipisahkan dari makna, dari simbol, dari kehadiran Ilahi.

 

Bencana ekologis hari ini tidak lagi datang sebagai kejutan. Ia hadir berulang, berpola, dan semakin brutal. Banjir menenggelamkan kota yang dulu aman. Tanah longsor merobek lereng yang dahulu hijau. Udara kota berubah menjadi racun yang dihirup setiap hari. Semua itu bukan salah alam, melainkan konsekuensi dari cara hidup manusia modern yang memutus hubungan batin dengan dunia yang ia huni.

Alam seolah sedang berbicara. Bukan lewat bahasa kata-kata, tetapi melalui luka. Dan luka itu menyimpan pesan yang sama: manusia telah memperlakukan bumi bukan sebagai rumah, melainkan sebagai objek eksploitasi tanpa batas. Krisis ekologis, dalam pengertian ini, bukan sekadar persoalan teknis atau kegagalan tata kelola, melainkan tanda dari krisis yang lebih dalam, yaitu krisis cara pandang, krisis spiritual.

Seorang intelektual Islam dari Iran, Seyyed Hossein Nasr, sudah sejak lama mengingatkan bahwa kerusakan ekologis berakar pada desakralisasi alam. Modernitas mengajarkan manusia melihat alam sebagai benda mati, sebagai sumber daya, sebagai angka dalam neraca ekonomi. Alam dipisahkan dari makna, dari simbol, dari kehadiran Ilahi. Ketika kesucian alam dirampas, batas moral pun ikut runtuh.

Dalam tradisi-tradisi lama, termasuk dalam hal ini kearifan Nusantara, alam tidak pernah berdiri sendiri. Gunung dihormati, sungai dijaga, hutan disakralkan. Bukan karena manusia takut kepada alam, melainkan karena mereka menyadari bahwa alam adalah bagian dari tatanan kosmik yang lebih besar. Alam dibaca sebagai tanda, sebagai ayat-ayat yang menunjuk kepada Yang Maha Ada. Namun, modernitas membalik cara pandang itu.

Revolusi ilmiah dan logika mekanistik mereduksi alam menjadi mesin raksasa yang boleh dibongkar sesuka hati. Hutan menjadi komoditas, sungai menjadi saluran limbah, udara menjadi ruang bebas emisi. Manusia berdiri sebagai penguasa, bukan penjaga. Dan sejak saat itulah, kerusakan menjadi tak terelakkan.

Seyyed Hossein Nasr menegaskan bahwa krisis ekologis dan krisis spiritual adalah dua wajah dari penyakit yang sama. Manusia modern kehilangan orientasi metafisiknya. Ia terasing dari kosmos, dari dirinya sendiri, bahkan dari Tuhan. Maka tidak mengherankan jika di tengah kemajuan teknologi, manusia justru dilanda kecemasan, kelelahan, dan kehampaan. Alam rusak, batin pun ikut runtuh.

Upaya penyelamatan lingkungan sering berhenti pada solusi teknis: teknologi hijau, regulasi, kampanye daur ulang. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Tanpa perubahan cara pandang, kebijakan hanya menjadi tambalan sementara. Alam tetap akan diperlakukan sebagai objek selama manusia tidak mengembalikan dimensi sakral dalam relasinya dengan dunia.

Menghidupkan kembali kesadaran spiritual ekologis berarti mengubah cara kita hadir di bumi. Mengurangi konsumsi bukan sekadar tren hidup minimalis, tetapi berlatih menahan nafsu. Menjaga hutan bukan sekadar proyek konservasi, tetapi bentuk ibadah. Merawat sungai bukan hanya tugas aktivis, melainkan amanah moral sebagai makhluk yang diberi akal dan kesadaran.

Di titik ini, krisis ekologis seharusnya tidak lagi dibaca sebagai bencana alam semata, melainkan sebagai peringatan keras. Alam tidak sedang murka; manusialah yang lupa diri. Kita lupa bahwa bumi bukan warisan yang bisa dihabiskan, melainkan titipan yang harus dijaga. Kita lupa bahwa menjadi manusia berarti hidup dalam keterikatan, bukan dalam dominasi.

Jika desakralisasi alam dibiarkan, maka kehancuran bukan soal kemungkinan, tetapi kepastian. Bumi akan terus menagih, dengan cara yang semakin menyakitkan. Dan manusia, jika tetap keras kepala, akan menjadi korban dari kesombongannya sendiri. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu menyelamatkan bumi, melainkan apakah kita bersedia mengubah cara kita hidup.

Apakah kita cukup berani untuk menurunkan ego, memperlambat hasrat, dan kembali melihat alam sebagai cermin Ilahi? Sebab pada akhirnya, merawat bumi bukan hanya tentang menyelamatkan lingkungan, tetapi tentang menyelamatkan (ke)manusia(an) itu sendiri.(*)

 

You Might Also Like

Rahayu Saraswati Mundur dari DPR: Mundur untuk Maju atau Mundur untuk Ngopi Dulu, Ya?

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

Grup WA Kelas Bukan Ruang Penghakiman

Mengapa Perdebatan di Media Sosial Mudah Berakhir Ejekan

Dari Reshuffle, Prabowo Mulai Lepas Bayang Jokowi, Siapa Masuk Siapa Tersingkir?

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Fahmi Kampiun Ceqiu 10 Ball Tournament
Next Article Ilustrasi anak-anak main game online. Hati-Hati! Jaringan Terorisme Sasar Anak-anak Lewat Game Online

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kepala Disbudpar Kota Semarang

Lebaran Monyet di Gua Kreo: Kera Berpesta di Sesaji Rewanda, Wisatawan Ikutan Seru-seruan

Niacinamide Bukan Selalu Jawaban, Ini Tiga Kondisi Stop Dulu

Banjir Brebes Gak Cuma Soal Hujan, Menteri PU: Beresi Muara Dulu

PSIS vs Persipal, Laga Hidup Mati di Jatidiri

Cabai Nempel di Lidah, Cerita Lama Jadi Kebiasaan Baru

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Mudik Lebaran Bukan Ajang Pembuktian

Maret 19, 2026
Opini

Efek Buruk Candaan Negatif yang Dinormalisasikan

Januari 12, 2026
Opini

Kisah tentang Ramadan Bagi Orang-Orang yang Tak Punya Pilihan

Februari 25, 2026
Opini

Semasa Kecil di Sawah

November 25, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bencana Ekologis Dimulai Ketika Manusia Memandang Alam sebagai Benda Mati
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?