Muhammad Fiam Setyawan adalah pemerhati isu lingkungan. Tinggal di Laweyan, Surakarta.
Modernitas mengajarkan manusia melihat alam sebagai benda mati, sebagai sumber daya, sebagai angka dalam neraca ekonomi. Alam dipisahkan dari makna, dari simbol, dari kehadiran Ilahi.
Bencana ekologis hari ini tidak lagi datang sebagai kejutan. Ia hadir berulang, berpola, dan semakin brutal. Banjir menenggelamkan kota yang dulu aman. Tanah longsor merobek lereng yang dahulu hijau. Udara kota berubah menjadi racun yang dihirup setiap hari. Semua itu bukan salah alam, melainkan konsekuensi dari cara hidup manusia modern yang memutus hubungan batin dengan dunia yang ia huni.
Alam seolah sedang berbicara. Bukan lewat bahasa kata-kata, tetapi melalui luka. Dan luka itu menyimpan pesan yang sama: manusia telah memperlakukan bumi bukan sebagai rumah, melainkan sebagai objek eksploitasi tanpa batas. Krisis ekologis, dalam pengertian ini, bukan sekadar persoalan teknis atau kegagalan tata kelola, melainkan tanda dari krisis yang lebih dalam, yaitu krisis cara pandang, krisis spiritual.
Seorang intelektual Islam dari Iran, Seyyed Hossein Nasr, sudah sejak lama mengingatkan bahwa kerusakan ekologis berakar pada desakralisasi alam. Modernitas mengajarkan manusia melihat alam sebagai benda mati, sebagai sumber daya, sebagai angka dalam neraca ekonomi. Alam dipisahkan dari makna, dari simbol, dari kehadiran Ilahi. Ketika kesucian alam dirampas, batas moral pun ikut runtuh.
Dalam tradisi-tradisi lama, termasuk dalam hal ini kearifan Nusantara, alam tidak pernah berdiri sendiri. Gunung dihormati, sungai dijaga, hutan disakralkan. Bukan karena manusia takut kepada alam, melainkan karena mereka menyadari bahwa alam adalah bagian dari tatanan kosmik yang lebih besar. Alam dibaca sebagai tanda, sebagai ayat-ayat yang menunjuk kepada Yang Maha Ada. Namun, modernitas membalik cara pandang itu.
Revolusi ilmiah dan logika mekanistik mereduksi alam menjadi mesin raksasa yang boleh dibongkar sesuka hati. Hutan menjadi komoditas, sungai menjadi saluran limbah, udara menjadi ruang bebas emisi. Manusia berdiri sebagai penguasa, bukan penjaga. Dan sejak saat itulah, kerusakan menjadi tak terelakkan.
Seyyed Hossein Nasr menegaskan bahwa krisis ekologis dan krisis spiritual adalah dua wajah dari penyakit yang sama. Manusia modern kehilangan orientasi metafisiknya. Ia terasing dari kosmos, dari dirinya sendiri, bahkan dari Tuhan. Maka tidak mengherankan jika di tengah kemajuan teknologi, manusia justru dilanda kecemasan, kelelahan, dan kehampaan. Alam rusak, batin pun ikut runtuh.
Upaya penyelamatan lingkungan sering berhenti pada solusi teknis: teknologi hijau, regulasi, kampanye daur ulang. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Tanpa perubahan cara pandang, kebijakan hanya menjadi tambalan sementara. Alam tetap akan diperlakukan sebagai objek selama manusia tidak mengembalikan dimensi sakral dalam relasinya dengan dunia.
Menghidupkan kembali kesadaran spiritual ekologis berarti mengubah cara kita hadir di bumi. Mengurangi konsumsi bukan sekadar tren hidup minimalis, tetapi berlatih menahan nafsu. Menjaga hutan bukan sekadar proyek konservasi, tetapi bentuk ibadah. Merawat sungai bukan hanya tugas aktivis, melainkan amanah moral sebagai makhluk yang diberi akal dan kesadaran.
Di titik ini, krisis ekologis seharusnya tidak lagi dibaca sebagai bencana alam semata, melainkan sebagai peringatan keras. Alam tidak sedang murka; manusialah yang lupa diri. Kita lupa bahwa bumi bukan warisan yang bisa dihabiskan, melainkan titipan yang harus dijaga. Kita lupa bahwa menjadi manusia berarti hidup dalam keterikatan, bukan dalam dominasi.
Jika desakralisasi alam dibiarkan, maka kehancuran bukan soal kemungkinan, tetapi kepastian. Bumi akan terus menagih, dengan cara yang semakin menyakitkan. Dan manusia, jika tetap keras kepala, akan menjadi korban dari kesombongannya sendiri. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu menyelamatkan bumi, melainkan apakah kita bersedia mengubah cara kita hidup.
Apakah kita cukup berani untuk menurunkan ego, memperlambat hasrat, dan kembali melihat alam sebagai cermin Ilahi? Sebab pada akhirnya, merawat bumi bukan hanya tentang menyelamatkan lingkungan, tetapi tentang menyelamatkan (ke)manusia(an) itu sendiri.(*)


