BACAAJA, SEMARANG- Pemprov Jateng menyebut lulusan SMK di Jateng diminati oleh dunia industri. Hampir 90 persen langsung diterima kerja begitu lulus sekolah. Hal itu disampaikan Ahmad Luthfi saat melakukan kunjungan bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso ke sejumlah sekolah vokasi di Kudus, Kamis (12/3/2026).
Ada tiga sekolah yang disambangi rombongan, yakni SMK Raden Umar Said, SMK NU Banat Kudus, dan SMK Wisudha Karya Kudus. Kunjungan itu juga didampingi Bupati Kudus Sam’ani Intakoris serta Wakil Bupati Bellinda Putri Sabrina Birton. Rombongan melihat langsung proses pembelajaran hingga berbagai karya yang dihasilkan para siswa.
Baca juga: Kuota Terbatas, 93 Ribu Calon Siswa Tak Tertampung di SMA/SMK Negeri di Jateng
Di SMK Raden Umar Said, para tamu dibuat kagum dengan karya animasi buatan siswa. Beberapa di antaranya bahkan sudah menembus pasar internasional seperti Amerika Serikat dan Jepang.
Sementara di SMK NU Banat Kudus, para siswa menampilkan karya di bidang fashion dan kewirausahaan. Mulai dari peragaan busana hingga berbagai produk kreatif yang siap dipasarkan.
Sedangkan di SMK Wisudha Karya Kudus, fokus pembelajaran diarahkan ke bidang pelayaran untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor maritim.
Menurut Ahmad Luthfi, keberagaman jurusan itu menjadi bukti bahwa sekolah vokasi di Jawa Tengah memang dirancang untuk mencetak tenaga kerja yang siap langsung terjun ke dunia industri.
“Ini bukti bahwa anak-anak muda kita sudah siap bekerja di berbagai sektor industri,” ujarnya. Karena itu, pemerintah provinsi terus mendorong penguatan pendidikan vokasi, termasuk memperbanyak Balai Latihan Kerja (BLK) serta membuka peluang investasi padat karya di berbagai daerah.
Kemampuan Berkembang
Salah satu siswa SMK Raden Umar Said, Haidar mengaku, kemampuan animasinya berkembang pesat sejak belajar di sekolah tersebut, meski saat ini ia masih duduk di kelas XI. Ia berharap suatu saat bisa menjadi animator profesional di industri kreatif.
Menariknya, para siswa di sekolah tersebut sudah terbiasa mengerjakan proyek langsung dari industri. Dengan begitu, mereka sudah punya pengalaman kerja bahkan sebelum benar-benar lulus sekolah.
Hal serupa disampaikan siswa SMK NU Banat Kudus, Hannah Rahmania Putri. Menurutnya, para siswa tidak hanya belajar desain, tetapi juga mengembangkan produk yang siap dijual. “Semester ini kami sedang mengembangkan produk seperti card holder, lanyard, dompet, dan sabuk,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah siap membantu membuka akses pasar internasional bagi produk kreatif yang dihasilkan siswa, termasuk karya animasi.
Baca juga: DPR RI: SMKN Jateng Jadi Prototipe Pendidikan
Menurutnya, Kementerian Perdagangan memiliki jaringan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara yang bisa membantu mempromosikan produk Indonesia ke pasar global. “Kalau ada jasa animasi dari teman-teman SMK ini, kami bisa membantu mempertemukan dengan permintaan pasar di luar negeri,” kata Budi.
Saat banyak orang masih sibuk debat soal “kuliah dulu atau kerja dulu”, sebagian siswa SMK di Jawa Tengah malah sudah punya klien dari luar negeri. Jadi mungkin rumus masa depan sekarang bukan lagi: lulus lalu cari kerja tapi belajar skill, bikin karya lalu dunia yang cari kita. (tebe)


