BACAAJA, JAKARTA- Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena menyoroti pemangkasan anggaran Kementerian Ekonomi Kreatif tersebut. Menurutnya, dukungan anggaran menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan sektor ekonomi kreatif dapat berkembang secara optimal.
Samuel menilai ekonomi kreatif memiliki potensi besar menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi baru. Potensi itu semakin terlihat dari berkembangnya pelaku industri kreatif, terutama generasi muda yang bergerak di bidang teknologi informasi.
“Ekonomi kreatif memiliki potensi besar menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi. Program ini pun dijalankan bersama Kementerian Pariwisata dan Kementerian UMKM,” kata Samuel kepada RRI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, perkembangan pelaku ekonomi kreatif saat ini menunjukkan tren positif. Anak muda semakin banyak menciptakan karya dan bisnis berbasis teknologi yang tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi dirinya sendiri, tetapi juga berpotensi menggerakkan sektor ekonomi lainnya. Namun, peluang tersebut dinilai bisa tidak maksimal apabila pemerintah tidak memberikan dukungan yang cukup, terutama dari sisi kebijakan dan anggaran.
Samuel pun meminta pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan terhadap Kementerian Ekonomi Kreatif. Menurut dia, efisiensi memang penting dalam pengelolaan keuangan negara. Namun, pemangkasan anggaran juga perlu mempertimbangkan sektor-sektor yang sedang diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Baca juga: Pemprov Jateng Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif
“Saya meminta pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan efisiensi anggaran untuk Kementerian Ekonomi Kreatif. Sehingga nantinya target menjadikan sektor tersebut sebagai mesin pertumbuhan baru dapat berjalan secara optimal,” ujarnya.
Samuel mengatakan, pengembangan ekonomi kreatif tidak berdiri sendiri. Program tersebut juga berkaitan dengan Kementerian Pariwisata serta Kementerian UMKM.
Karena itu, penguatan ekosistem ekonomi kreatif membutuhkan dukungan lintas sektor. Mulai dari pengembangan talenta, akses pembiayaan, pemasaran, teknologi, perlindungan kekayaan intelektual hingga perluasan pasar.
Peluang Besar
Bagi generasi muda, sektor tersebut juga membuka peluang yang cukup besar. Kreativitas yang dipadukan dengan teknologi dapat melahirkan model bisnis baru sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa penguatan ekonomi nasional tidak hanya berbicara soal mengejar pertumbuhan. Pemerintah juga perlu memastikan tata kelola keuangan negara berjalan secara akuntabel.
Presiden menyebut ketahanan pangan dan peningkatan produktivitas masyarakat juga menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan nasional.
Dalam pidatonya, Prabowo turut menyinggung hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sepanjang 2025 yang disebut menghasilkan penyelamatan keuangan negara mencapai Rp112 triliun.
“BPK menjaga agar setiap rupiah uang rakyat digunakan dengan benar dan tepat sepanjang 2025, rekomendasi hasil pemeriksaan BPK menghasilkan penyelamatan keuangan negara sebesar Rp112 triliun,” kata Prabowo.
Baca juga: Respati Dorong Gekrafs Jadi Motor Ekonomi Kreatif Solo, Bukan Organisasi Seremonial
Persoalannya, efisiensi dan investasi pada sektor potensial harus berjalan beriringan. Pemerintah tetap perlu menghemat anggaran, tetapi pada saat yang sama jangan sampai penghematan justru mengerem sektor yang sedang disiapkan sebagai sumber pertumbuhan baru.
Sebab, ekonomi kreatif punya satu modal yang tidak pernah habis di neraca APBN: ide anak muda. Tetapi ide saja tidak cukup. Kalau ekonomi kreatif mau dijadikan “mesin baru pertumbuhan”, jangan sampai mesinnya disuruh ngebut sementara bensinnya ikut dihemat. (tebe)

