BACAAJA, SEMARANG- Di balik manfaat bus listrik dalam mengurangi polusi udara, terdapat tantangan lingkungan lain yang tidak boleh diabaikan, yakni pengelolaan limbah baterai.
Aktivis lingkungan dan Ketua Partai Hijau Indonesia (PHI) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jawa Tengah Robertus Aditya yang menilai keberhasilan elektrifikasi transportasi tidak hanya diukur dari berkurangnya emisi, tetapi juga dari kemampuan mengelola dampak setelah baterai habis masa pakainya.
Menurut Aditya, baterai kendaraan listrik memiliki umur penggunaan tertentu dan pada akhirnya harus diganti. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah baterai berpotensi menimbulkan masalah lingkungan baru.
“Kita jangan sampai menyelesaikan satu persoalan tentang polusi udara, tetapi kemudian memunculkan persoalan baru berupa limbah baterai,” katanya. Senin (22/6/2026).
Baca juga: Transportasi Hijau Tak Cukup Bermodal Baterai
Ia menegaskan pemerintah daerah harus mulai menyiapkan sistem pengelolaan limbah sejak sekarang. Mulai dari tempat pengumpulan khusus hingga mekanisme daur ulang yang aman dan berkelanjutan.
Aditya menilai Dinas Lingkungan Hidup maupun pemerintah daerah perlu mengambil peran penting dalam memastikan baterai bekas tidak berakhir di tempat pembuangan biasa. Sebab, beberapa komponen di dalam baterai dapat mencemari tanah dan lingkungan jika dibuang sembarangan.
Selain itu, ia juga menyoroti kebutuhan energi yang akan meningkat seiring bertambahnya penggunaan kendaraan listrik. Menurutnya, pemerintah perlu memikirkan sumber energi alternatif agar kebutuhan listrik tidak hanya bergantung pada pembangkit konvensional.
Energi Surya
Salah satu opsi yang bisa dikembangkan adalah pemanfaatan energi surya untuk mendukung sistem pengisian daya kendaraan listrik. “Kita harus memikirkan sumber energi yang berkelanjutan. Jangan hanya mengganti kendaraannya, tetapi sumber energinya juga perlu diperhatikan,” ujarnya.
Aditya berharap program bus listrik di Semarang tidak hanya fokus pada pengurangan emisi, tetapi juga memperhatikan seluruh siklus lingkungan yang ditimbulkan.
Baca juga: Bus Listrik Bikin Udara Semarang Lega, Asal Jangan Berhenti di Seremoni
Dengan begitu, elektrifikasi transportasi benar-benar menjadi solusi jangka panjang bagi kota yang lebih bersih dan sehat.
“Bus listrik memang dapat menurunkan polusi udara, tetapi pengelolaan limbah baterai harus menjadi perhatian serius agar tidak menimbulkan dampak lingkungan baru di masa depan,” tegasnya.
Akhirnya kita bukan cuma mikirin “busnya nggak ngebul lagi”, tapi juga siap nggak nih ngurusin ‘ngebul versi baru’ yang datangnya dari baterai bekasnya nanti. (dul)

